Filsafat Bahasa
FILSAFAT BAHASA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Tujuan, fungsi dan manfaat
filsafat
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu
usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah
kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan
komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan
(understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan
filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan
manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir
Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan
pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang
tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan
kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti
yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi
dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya,
senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab
terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun
kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan:
Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup,
melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai,
menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat
hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru,
mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan
'nation', ras, dan keyakinan
keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam
ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu
orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara
intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal
saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang,
yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni,
pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi
Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran,
maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi
harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat
akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup
secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara
baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat
menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam
logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat
keaslian).
5. Aliran-aliran dalam filsafat
Aliran-aliran yang terdapat dalam
filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita bicarakan aliran
metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.
a. Aliran-aliran metafisika
Menurut Prof. S. Takdir
Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu (1) yang
mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang
mengenai kuantitas terdiri atas (a)monisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme.
Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini
adalah esa (satu). Menurut
Thales: air menurut Anaximandros:
'apeiron' menurut Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran yang berpendirian
bahwa unsure pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme
adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak.
Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah. Yang mengenai kualitas dibagi
juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat kenyataan itu
tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.
Yang termasuk golongan pertama
(tetap) ialah: " Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa
hakikat itu bersifat roh. " Materialisme, yakni aliran yang berpendapat
bahwa hakikat itu bersifat materi. Yang termasuk golongan kedua (kejadian)
ialah: " Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia
ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat. " Aliran
teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan
dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata
oleh tujuan yang sama. " Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa
kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting,
tetapi sudah terpasti lebih dahulu.
" Indeterminisme, yaitu aliran
yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang
seluas-luasnya.
b. Aliran-aliran etika
Aliran-aliran penting dalam etika
banyak sekali, diantaranya ialah:
1) Aliran etika nuturalisme, yaitu
aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan
menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.
2) Aliran etika hedonisme, yaitu
aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang
menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelazatan).
3) Aliran etika utilitarianisme,
yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari
kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).
4) Aliran etika idealisme, yaitu
aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada
sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea)
yang lebih tinggi.
5) Aliran etika vitalisme, yaitu
aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau
tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6) Aliran etika theologis, yaitu
aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu
dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos =
Tuhan).
c. Aliran-aliran teori pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab
pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu
benar dan berlaku.
Pertama, golongan yang mengemukakan
asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:
" Rationalisme, yaitu aliran
yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan
jiwa manusia.
" Empirisme, yaitu aliran yang
mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari
dunia luar yang ditangkap pancainderanya.
" Kritisisme
(transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia
itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.
" Kedua, golongan yang
mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:
" Realisme, yaitu aliran yang
berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat
dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti
sungguh-sungguhnya ada.
" Idealisme, yaitu aliran yang
berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia,
sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya.
d. Aliran-aliran lainnya dalam
filsafat
Di samping aliran-aliran di atas,
masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain
ialah:
1) Eksistensialisme, yaitu aliran
yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang
kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak
ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
2) Pragmatisme, yaitu aliran yang
beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori,
semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori
tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.
3) Fenomenologi, yaitu aliran yang
berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan
bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan
kita dengan realitas.
4) Positivisme, yaitu aliran yang
berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa
yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
5) Aliran filsafat hidup, yaitu
aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan
dengan seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai
berpikir saja, tetapi juga mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan
iman, pendeknya seluruh hidup.
Artikel
Pendidikan – Hubungan Ilmu dengan Filsafat
.
Hubungan Ilmu dengan Filsafat atau hubungan filsafat dan ilmu
ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di
Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam
perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya
kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu
kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut
Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam
pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu
pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17
tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut
sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu
ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung
pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam
perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri
telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon
ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing
cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan
masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan
demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan
munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu
pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti
spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh
Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem
yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat
benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas
dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak
F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita
dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia,
baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi
yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat
erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis
batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari
filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan
dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan
filsafat lainnya.
Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek
kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)
Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat
ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep
dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori
ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua
fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan
relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation
yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara
sederhana.
A. Substansi Filsafat Ilmu
Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001)
memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1)
fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika
inferensi.
1. Fakta atau kenyataan
Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam,
bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi
antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini.
Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara
ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian
antara fenomena dengan sistem nilai.
Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik
dengan skema rasional, dan
Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi
antara empiri dengan obyektif.
Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan
penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu
peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau
pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap
fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi
fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi
bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta
ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan
kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.
1.
Kebenaran (truth)
Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan
kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu
koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982).
Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu :
kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran
pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu
teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)
a. Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau
keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang
lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun
nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran
transendental.
b. Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang
terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan
dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan
fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya
spesifik
c. Kebenaran performatif
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam
tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis
yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan
aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
d. Kebenaran pragmatik
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan
yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
e. Kebenaran proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak
konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang
obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar.
Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan
formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi
benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar
materialnya.
f. Kebenaran struktural paradigmatik
Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini
merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis
regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai
pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan
struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi
eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.
1. Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan
produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat
ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi
absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah
dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya.
Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar
kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun
reflektif.
1.
Logika inferensi
Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat
akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme.
Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi
Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief
pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema
moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan
kasus atau kesimpulan ideografik.
Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan
kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio,
Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan
skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural
paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme
metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral
transensden. (Ismaun,200:9)
Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49)
menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan
kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika.
Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi
dan logika deduksi.
A.
Corak dan Ragam Filsafat Ilmu
Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam
filsafat ilmu, diantaranya:
Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta
ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means.
Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide
manusia.
Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai
salah satu tri-partit,
Bab ll
2.1
Definisi filsafa
Filsafat mengenai bahasa dan filsafat berdasarkan bahasa
a)
Filsafat mengenai bahasa adalah
yang bersifat memiliki sistem yang di
gunakan untuk mendekati nahasa sebagai objek khusus.
Contoh: hewan berdiri khusus
Bahasa yang di gunakan untuk
menjelaskan ciri tersebut
b)
Filsafat berdasarkan bahasa adalah
filsaat ini bersifat dengan menjadikan bahsa sebagai titik tindak berfilsafat
2.2
Cabang- cabang filsafat
2.3
Tugas filsafat bahasa
a)
filsafat bahasa bukan membuat
pertanyaan tetapi memecahkan masalah
yang timbul karena ketidak
pahaman tentang suatu persoalan
b)
filsafat menganalisis suatu yang dapat di
katakan dan tidak dapat dikatakan
2.4
Metode filsafat bahasa bersifat analitik
Artinya memberikan kritikan terhadap
suatu masalah karena para filsuf menganggap
bahasa filsafat banyak kaidah tersiplin
tergantung
2.5
CIRI-CIRI FILSAFAT BAHASA
2.6
HUBUGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN BAHASA
a)
Bahasa merupakan objek matri
filsafat sehingga filsafat menganlisis
hakekat bahasa itu sebagai makna utama. Bahasa sebagai alat komunikasi utama memiliki
kencenderungan kesalahan pemaknaan
b)
Bahasa adalah aktifitasnya manusia yang pangkal pada pemikiran manusia
untukmenanamkan keadilan dalam hidupnya
c)
Dunia fakta dan realita yang menjadi objek filsafat secara simbolik
hanya terakui oleh bahasa
d)
Ungkapan pikiran dan hasil renungan filsafat hanya dapat di jelaskan dengan bahasa.
e)
Bahasa sebagai penghubung refleksi
filosofis
2.7
JENIS BAHASA KOMUNIKASI
a) filsafat dan bahasa
kesibukan filsafat
berdasarkan ahli mengatakan bahwa bahsa seumur dengan filsafat karena berfikir bebas
merupkan realisasi dari pola kebenaran retorika
yang berdasarkan pada keputusan logika yang benar yang beroriasinya pada
objek yang jelas.
Pandangan
ini bertawanan dengan apa yang di katakan oleh kaum stole yang mempertahan kan
bahasa sebagai yang alamiayah/kodrat
perbedaan pendapat ini oleh Fiat dan Aristoteles diberikan jalan pemecahan filsafat diangkat sebgai ilmu disipliners/disiplin
khusus.
b)pandangan beberapa filsafat
bahasa
a.
Dalam Kratglus.Flaton mengkaji filosofis
dalam hubunganya anatara nama-nama
“dengan benda-benda”.Cratylus mengatakan
diantara keduanya berhubungan secara alami.sedangkan pendapat kaucaranya mengatakan hubungan antara nama-nama dan
benda merupakan kesepakatan.
Contoh
: nama kayu jati tidak ada hubungan alamiyah antara nama-nama benda yang lunduk pemberian berdasarkan pada jenis
benda yng dicermatkan berdasarkan situasinya.
b. Aristoteles menyatakan bahwa nama berhubungan
dengan logika dan pengetahuan (logika dan epistemologi) sebagai alat khusus
nama dalam suatu benda.
c. Hobbes menyatakan bahwa bahasa alat
penghitung dengan menggunakan kata-kata
senantiasa mengikuti pengalaman.
d. Tubui menyatakan bahwa bahasa merupakan
karakter universal yang dijabarkan.
e. Yon Humbool
mengatakan bahwa setiap bahasa mempunyai sfatail form/ bentuk bofin yag
mengandung sacara tersirat pandangan
dunia yang lekas.
f. Ferdinand D.sansute mengatakan bahwa bahasa
sebagai lambang karangan dan ungkapan (evase) kalimat-kalimat hasil aktifitas
bebas dan kreatifitas
g. Paul Tullen
memngatakan antara tanda dan lambang yang digunakan dalam bidang keagamaan
h. Ludding Wittqonstein dan farsel menyatakan bahwa harus ada hubungan keriminan
antara simpol dan fakta antara simbol yang disimbolkanya seperti hubungan antara wajah seseorang dengan bayangan dari cermin
BAB III
EPISTEMOLOGI
3.1 EPISTEMOLOGI
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme, yang berarti pengetahuan
(knowledge) dan logos yang berarti ilmu. Jadi menurut arti katanya,
epistemologi ialah ilmu yang membahas masalah-masalah pengetahuan. Di dalam
Webster New International Dictionary, epistemologi diberi definisi sebagai
berikut: Epistimology is the theory or science the method and grounds of
knowledge, especially with reference to its limits and validity, yang artinya
Epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar
pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan
validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu. (Darwis. A. Soelaiman, 2007,
hal. 61).
Istilah Epistemologi banyak dipakai
di negeri-negeri Anglo Saxon (Amerika) dan jarang dipakai di negeri-negeri
continental (Eropa). Ahli-ahli filsafat Jerman menyebutnya Wessenchaftslehre.
Sekalipun lingkungan ilmu yang membicarakan masalah-masalah pengetahuan itu
meliputi teori pengetahuan, teori kebenaran dan logika, tetapi pada umumnya
epistemologi itu hanya membicarakan tentang teori pengetahuan dan kebenaran
saja.
Epistemologi atau Filsafat
pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah
hakikat pengetahuan. Apabila kita berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang
dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus
hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.
Beberapa pakar lainnya juga
mendefinisikan espitemologi, seperti J.A Niels Mulder menuturkan, epistemologi
adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan
berlakunya dari ilmu pengetahuan. Jacques Veuger mengemukakan, epistemologi
adalah pengetahuan tentang pengetahuan dan pengetahuan yang kita miliki tentang
pengetahuan kita sendiri bukannya pengetahuan orang lain tentang pengetahuan
kita, atau pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan orang lain. Pendek
kata Epistemologi adalah pengetahuan kita yang mengetahui pengetahuan kita.
Abbas Hammami Mintarejo memberikan pendapat bahwa epistemology adalah bagian
filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan
dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi
itu. (Surajiyo, 2008, hal. 25).
Dari beberapa definisi yang tampak
di atas bahwa semuanya hampir memiliki pemahaman yang sama. Epistemologi adalah
bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan keshahihan
pengetahuan. Jadi objek material dari epistemology adalah pengetahuan dan objek
formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan
hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh
setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca
indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif,
metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Susriasumantri,
Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Baktiar,
Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ahmad
Tafsir. 2006. filsafat ilmu. Bandung: Rosdakarya.
Salam,
Burhanudin. 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Rineka Cipta
Ugm, Tim Dosen
Filsafat Ilmu. 2007. Filsafat Ilmu.
Yogyakarta
Susano, A. 2011. Filsafat
Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis
Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : PT. Bumiaksara.
3.2
MACAM- MACAM PENGETAHUAN
Pengetahuan
bahwa adalah pengetahuan tentang informasi tertentu tahu bahwa sesuatu terjadi,
tahu bahwa itu atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang
benar, jenis pengetahuan itu disebut juga pengetahuan teoritis, pengetahuan
ilmiah, walaupun masih pada tingkatan yang tidak begitu mendalam, pengetahuan
ini berkaitan dengan keberhasilan dalam mengumpulkan informasi atau data
tertentu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan jenis ini berarti ia memang
mempunyai informasi akurat melebihi orang lain.
Pengetahuan Tahu Tentang / Akan / Mengenai
Yang
dimaksud dengan jenis pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat spesifik
menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau
pengenalan pribadi secara langsung pada obyeknya. Oleh karena itu, sering
disebut sebagai pengetahuan berdasarkan pengenalan, ciri-ciri pengetahuan model
ini adalah sebagai berikut :
- Mempunyai tingkat obyektifitas yang cukup tinggi.
- Subyek mampu membuat penilaian tertentu atas obyeknya karena pengenalan dan pengalaman pribadi yang bersifat langsung dengan obyek.
- Bersifat singular yaitu hanya berkaitan dengan barang atau obyek khusus.
Pengetahuan,Tahu Mengapa
Biasanya
jenis pengetahuan berkaitan dengan “pengetahuan bahwa” hanya saja “tahu
mengapa” jauh lebih mendalam dan serius, karena berkaitan dengan penjelasan.
Penjelasan ini merupakan pengetahuan tertinggi dan mendalam sekaligus juga
merupakan pengetahuan ilmiah (Keref & Michael, 2001).
Demikian
beberapa macam pengetahuan dalam diri manusia. Dengan mengetahui
pembagian ini setidaknya, kita akan mengetahui jenis apa
pengetahuan terhadap sesuatu yang ada dalam otak kita.
3.3 PENGETAHUAN MATEMATIAKA DAN
STATISTIKA
Matematika (dari bahasa Yunani:
μαθηματικά – mathÄ“matiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan.
Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan konjektur baru, dan
membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari aksioma-aksioma dan
definisi-definisi yang bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang apakah
objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir secara alami, atau
hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut
matematika sebagai “ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting”. Di
pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa “sejauh hukum-hukum matematika merujuk
kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak
merujuk kepada kenyataan”.
Melalui penggunaan penalaran logika
dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran,
dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika.
Matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman
tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama
di dalam karya Euklides, Elemen. Matematika selalu berkembang, misalnya di Cina
pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M,
hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi dengan
penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju
penemuan matematika yang berlanjut hingga kini.
Kini, matematika digunakan di seluruh
dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik,
kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika
terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke
bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika
baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang
sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan
juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan
matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun
penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali
ditemukan terkemudian.
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan,
menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya,
statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah 'statistika' (bahasa
Inggris: statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic).
Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah
data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data.
Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau
mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep
dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika
antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.
Statistika banyak diterapkan dalam
berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan
biologi maupun
ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi),
maupun di bidang bisnis,
ekonomi, dan industri.
Statistika juga digunakan dalam pemerintahan
untuk berbagai macam tujuan; sensus
penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi
statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak
pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum),
serta jajak cepat (perhitungan cepat
hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat
pula diterapkan dalam pengenalan pola
b.PENGERTIAN
STATISTIK
Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) mendefinisikan
statistika sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan
fakta, pengolahan serta pembuatan keputusan yang cukup beralasan berdasarkan
fakta dan analisa yang dilakukan. Sementara statistic dipakai untuk menyatakan
kumpulan fakta, umumnya berbentuk angka yang disusun dalam tabel atau diagram
yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.
Lebih lanjut Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto,
2007) menyatakan statistika adalah ilmu terdiri dari teori dan metode yang merupakan
cabang dari matematika terapan dan membicarakan tentang : bagaimana
mengumpulkan data, bagaimana meringkas data, mengolah dan menyajikan data,
bagaimana menarik kesimpulan dari hasil analisis, bagaimana menentukan
keputusan dalam batas-batas resiko tertentu berdasarkan strategi yang ada.
Singgih Santoso (2002) menyatakan, pada prinsipnya
statistic diartikan sebagai kegiatan untuk mengumpulkan data,
meringkas/menyajikan data, menganalisa data dengan metode tertentu, dan
menginterpretasikan hasil analisis tersebut.
Dalam kaitannya untuk menyelesaikan masalah,
pendekatan statistic terbagi dua yaitu pendekatan statistic dalam arti sempit
dan luas. Dalam arti sempit (statistic deskriptif), statistika yang hanya
mendeskripsikan tentang data yang dijadikan dalam bentuk tabel, diagram,
pengukuran rata-rata, simpangan baku, dan seterusnya tanpa perlu menggunakan
signifikansi atau tidak bermaksud membuat generalisasi.
Sementara dalam arti luas (statistic
inferensi/induktif) adalah alat pengumpul data, pengolah data, menarik
kesimpulan, membuat tindakan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan dan
hasilnya dimanfaatkan / digeneralisasi untuk populasi.
Bidang keilmuan statistika adalah sekumpulan metode
untuk memperoleh dan menganalisa data dalam pengambilan suatu kesimpulan. Meski
merupakan cabang ilmu matematika, statistika memiliki perbedaan mendasar pada
logikanya. Jika matematika menggunakan logika deduktif, sementara statistic
menggunakan logika induktif.
Logika statistika, dengan demikian sering disebut dengan
logika induktif yang tidak memberikan kepastian namun member tingkat peluang
bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik kesimpulan, dan kesimpulannya
mungkin benar mungkin juga tidak. Langkah yang ditempuh dalam logika statistika
adalah :
- Observasi dan eksperimen
- Munculnya hipotesis ilmiah
- Verifikasi dan pengukuhan dan berakhir pada
- Sebuah teori dan hokum ilmiah (Cecep Sumarna, 2004:98)
B. LANDASAN KERJA STATISTIK
Menurut Sutrisno Hadi (dalam Riduwan dan Sunarto,
2007) ada tiga jenis landasan kerja statistic meliputi :
- Variasi. Didasarkan atas kenyataan bahwa seorang peneliti atau penyelidik selalu menghadapi persoalan dan gejala yang bermacam-macam (variasi) baik dalam bentuk tingkatan dan jenisnya
- Reduksi, Hanya sebagian dan seluruh kejadian yang berhak diteliti (sampling)
- Generalisasi. Sekalipun penelitian dilakukan terhadap sebagain atau seluruh kejadian yang hendak diteliti, namun kesimpulan dan penelitian ini akan diperuntukkan bagi keseluruhan kejadian atau gejala yang diambil.
Gottfried Achenwall
(1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk
pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan
mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (state)”. Pada awal abad ke-19 telah terjadi
pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir
John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke
dalam bahasa Inggris.
Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai
lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan.
1. 1 pengetahuan tt suatu bidang yg
disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yg dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu: dia memperoleh
gelar doktor dl -- pendidikan; 2
pengetahuan atau kepandaian (tt soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dsb);
-- padi, makin berisi makin runduk, pb makin banyak pengetahuan makin
rendah hati; menunjukkan -- kpd orang menetak, pb nasihat yg baik itu
tidak berguna bagi orang yg tidak mau menggunakannya; -- lintabung, ki
bodoh tetapi sombong (tt seseorang);
-- administrasi ilmu tt berbagai
hasil pengalaman yg berhubungan dng masalah pemerintahan, baik negara maupun
swasta; -- agama pengetahuan tt
ajaran (sejarah dsb) agama; teologi; --
akaid pengetahuan tt keyakinan dan kepercayaan; -- akhirat pengetahuan mengenai segala
sesuatu yg berhubungan dng kehidupan di akhirat atau kehidupan sesudah manusia
mati; -- akhlak pengetahuan tt
tabiat ma-nusia; -- alam
pengetahuan tt keadaan alam; -- alat
ilmu nahu dan saraf; -- anatomi
ilmu yg menguraikan organisme tumbuhan, binatang, atau manusia untuk mencapai
pengertian tt susunan dan fungsi bagian-bagiannya; -- bahas bagian filsafat yg berkenaan dng berpikir dsb; -- bahasa penge-tahuan bersistem tt
(ihwal) bahasa (tata bahasa); linguistik; -- bangsa-bangsa pengetahuan tt adat istiadat, kehidupan, dsb suatu
bangsa (suku bangsa dsb); etnologi; --
bangun pengetahuan ukur-mengukur ruang dsb; -- bangunan pengetahuan tt membangun (membuat) rumah, gedung,
jembatan, dsb; -- batin
pengetahuan mengenai jiwa dan segala yg gaib; ilmu suluk; -- bayan pengetahuan tt berbagai arti
dan maksud yg termuat di dl Alquran; --
bedah pengetahuan tt membedah (mengoperasi) bagian tubuh; -- bentuk kata pengetahuan tt bentuk
kata (tt awalan, akhiran, dsb); morfologi; -- bisnis ilmu perdagangan; ilmu berjual beli; -- bumi pengetahuan untuk mengamati,
meng-golong-golongkan, dan menganalisis perbedaan berbagai daerah di permukaan
bumi; geografi; -- burhani
pengeta-huan yg diperoleh berdasarkan alasan ahli mantik; -- cuaca ilmu iklim; -- dagang pengetahuan tt berniaga; -- daruri pengetahuan yg sewajarnya krn
sudah jelas dan tidak di-perlukan alasan atau akli(ah) mantiki(ah); -- dasar ilmu tt asas-asas hal yg
diteliti; -- dunia pengetahuan
atau kepandaian untuk mencari kehidupan di dunia; -- ekonomi 1 ilmu tt
produksi, distribusi, dan konsumsi barang, serta berbagai masalah yg
bersangkutan dng itu, spt tenaga kerja, pembiayaan, dan keuangan; 2 ilmu pengetahuan tt kegiatan sosial
manusia dl memenuhi kebutuhan hidupnya yg diperoleh dr lingkungannya; -- ekonomi makro Ek ilmu ekonomi
tt peranan dan perkembangan unsur ekonomi secara keseluruhan, spt pengaruh
pengeluaran pemerintah, pendapatan nasional, indeks harga, dan jumlah uang yg
beredar; -- ekonomi mikro Ek
ilmu ekonomi tt perilaku subjek dan barang ekonomi secara individual dl hubungannya
dng perkembangan harga barang, faktor ekonomi, tingkat upah, penghasilan, dan
laba perusahaan; -- eksakta ilmu
yg berdasarkan ketepatan dan kecermatan dl metode penelitian dan analisis; -- faal pengetahuan tt gejala hidup pd
alat tubuh manusia (spt alat pernapasan, peredaran darah, jasad tumbuhan dan
binatang); fisiologi; -- fikih
pengetahuan tt kewajiban yg diperintahkan oleh agama Islam; ilmu tt hukum
syarak; -- firasat pengetahuan
tt keadaan muka orang dsb yg bertalian dng tabiatnya; -- fisika lihat fisika;
-- gaib pengetahuan tt segala yg
tidak kelihatan (rahasia alam dsb); --
gaya bahasa pengetahuan mengenai pemakaian kata dl kalimat khusus;
stilistika; -- gizi ilmu
pengetahuan tt bagaimana cara memanfaatkan makanan untuk kepentingan kesehatan tubuh
manusia pd umumnya; -- halimunan
mantra yg jika diucapkan dapat membuat diri tidak kelihatan; -- han-dasah ilmu ukur tanah (spt tt
luas tanah, bentangannya); -- hayat
pengetahuan tt makhluk hidup (binatang dan tumbuhan); biologi; -- hewan pengetahuan mengenai kehidupan
binatang; zoologi; -- hisab ilmu
hitung; matematika; -- hitam
pengetahuan tt kebatinan yg berhubungan dng pekerjaan setan atau pekerjaan
mencelakakan orang (spt membuat orang gila, mencuri dng bantuan makhluk halus);
-- hitung pengetahuan mengenai
angka sehubungan dng penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian,
pemangkatan, dan akar bilangan; --
hukum 1 Antr ilmu tt aturan, norma kehidupan masyarakat, serta
adat-istiadat yg dibuat oleh penguasa dl suatu masyarakat; 2 pengetahuan tt hukum (undang-undang
dsb); -- iklim pengetahuan tt
keadaan cuaca (hawa, musim, dsb); klimatologi; -- jaringan ilmu tt struktur mikroskopik dan fungsi jaringan tubuh;
-- jiwa ilmu tt segala sesuatu
mengenai jiwa manusia; psikologi; --
kalam ilmu tauhid; -- kasekten
Jw ilmu sakti; -- kebatinan
ilmu batin; -- kebidanan cabang
ilmu kedokteran yg berhubungan dng kelahiran bayi dan pertolongan kpd orang
bersalin; obstetri; -- kedokteran
ilmu tt penyakit pd organisme manusia atau hewan, serta cara dan metode pengobatannya;
-- kehutanan ilmu yg mencakupi
pengusahaan tanah hutan sbg sumber produksi yg permanen, penanaman dan
penggunaan kayu, pengaturan hutan guna proteksi air, pengaliran air sungai, dan
manajemen binatang liar di hutan; --
kemanusiaan Antr ilmu tt hasil pikiran manusia serta hubungan
antarmanusia, terutama yg tercantum dl kesusastraan dan yg diekpresikan oleh
kesenian; -- kesaktian ilmu
sakti; -- kesehatan pengetahuan
tt hal penjagaan dan pemeliharaan kesehatan, serta pencegahan penyakit; -- kesehatan masyarakat ilmu tt
pencegahan penyakit, pemerpanjangan hidup, serta peningkatan kesehatan dan
efisiensinya melalui organisasi yg resmi; -- kesenian pengetahuan mengenai seluk-beluk seni secara umum; -- kewarganegaraan cabang ilmu
pengetahuan, khususnya bidang ilmu politik, mengenai hubungan antarwarga negara
dan hubungan umum yg menyangkut masalah hak dan kewajiban warga negara thd
negara dan sebaliknya; -- kiat
kepandaian mengobati dsb dng jampi-jampi; -- kimia ilmu tt unsur dan ciri-ciri zat, serta reaksi yg
menyebabkan timbulnya zat-zat baru; --
kira-kira cak tanpa kepastian, serba kiraira saja; -- klenik ilmu yg mengajarkan hal yg
mengandung rahasia (spt ilmu yg dapat membuat orang tunduk atau jatuh cinta);
-- limunan ilmu halimunan; -- maani pengetahuan tt mengarang dan
berpidato dng baik; -- mantik
pengetahuan tt cara berpikir (atau hal menerangkan sesuatu) hanya berdasarkan
pikiran belaka; logika; -- masyarakat
pengetahuan tt kehidupan manusia dl masyarakat; sosiologi; -- mendidik didaktik; -- nahu ilmu tt susunan dan bentuk
kalimat; sintaksis; -- negara
ilmu tt sendi-sendi dan pengertian pokok dr negara; -- obat pengetahuan mengenai berbagai obat (khasiatnya, takaran
pemakaiannya, dsb); farmakologi; --
panas ilmu sihir; -- pasti
pengetahuan mengenai ruang dan bilangan (spt aljabar, ilmu ukur); -- pemerintahan ilmu tt metode mengatur,
menguasai, dan mengelola negara; --
pendidikan pengetahuan tt prinsip dan metode belajar, membimbing, dan
mengawasi pelajaran; -- penerbangan
pengetahuan mengenai keadaan dan cara mengoperasikan pesawat terbang; -- pengetahuan gabungan berbagai
pengetahuan yg disusun secara logis dan bersistem dng memperhitungkan sebab dan
akibat; -- pengetahuan alam ilmu
yg mencakupi biologi, fisika, dan kimia; -- pengetahuan modern ilmu pengetahuan pd zaman modern yg
menampilkan penemuannya dng landasan teori modern dan analisis bersistem thd
data lapangan tertentu; -- pengetahuan
sosial ilmu pengetahuan yg merupakan fusi atau paduan sejumlah mata
pelajaran sosial (spt sejarah, ekonomi, geografi); -- perpustakaan pengetahuan dan keahlian mengenai administrasi
perpustakaan berikut koleksinya, ekonomi perpustakaan, dan bibliografi; -- pertanian pengetahuan tt
tanam-tanaman (bercocok tanam dsb); --
peternakan cabang biologi terapan yg berkaitan dng pengembangan hewan
sesuai dng kondisi setempat dan perkembangan permintaan; -- peruang kl ilmu yg menyebabkan
dapat tahan lama menyelam dl air (berupa mantra untuk mendapatkan cukup udara
sewaktu menyelam dl air); -- pisah
ilmu kimia; -- politik ilmu tt
pranata politik, asas, dan organisasi pemerintahan negara; -- praktis ilmu tt kebenaran
sebab-akibat untuk diterapkan ke dalam dunia nyata; -- praktis normatif ilmu praktis yg memberikan ukuran atau kaidah yg
disebut norma; -- purbakala
pengetahuan tt kehidupan pd zaman kuno dan benda peninggalan kuno; arkeologi;
-- putih ilmu batin yg digunakan
untuk melawan ilmu hitam (untuk mengobati orang sakit, orang kena guna-guna,
mengusir setan, dsb); -- racun
pengetahuan mengenai pembuatan dan penawaran racun; -- sakti ilmu tt kekuatan yg dimiliki oleh seseorang yg didorong
oleh tenaga gaib; -- salik ilmu
suluk; -- saraf morfologi; -- sejarah cabang ilmu pengetahuan
sosial tt penelitian dan penyelidikan secara bersistem keseluruhan peristiwa
dan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau dng maksud untuk
dinilai secara kritis seluruh hasil penelitian dan penyelidikan tsb agar dapat
dijadikan perbendaharaan bagi penilaian dan penentuan masa sekarang serta arah
kemajuan masa depan; -- serum
pengetahuan tt hal, sifat, dan reaksi serum darah serta cara mengobati penyakit
dng berbagai serum; -- sihir
ilmu tt rasa pemakaian kekuatan gaib; ilmu gaib (teluh, tuju, dsb); -- sosial ilmu tt perilaku kehidupan
manusia sbg makhluk hidup yg bermasyarakat; -- sufi ilmu suluk; tasawuf; -- suluk pengetahuan yg berkenaan dng usaha mendekatkan diri kpd
Tuhan; -- tabii ilmu alam
(fisika); -- tarekat ilmu
tasawuf; ilmu suluk; -- tasawuf
ilmu tt kesucian diri secara lahir dan batin untuk mengenal dan mendekatkan
diri kpd Allah guna mencapai makrifat Allah; -- tasrih anatomi; -- tata
negara ilmu tt segala sesuatu mengenai pemerintahan negara, alat-alat
pemerintahan (aparatur) negara, warga negara, dsb; -- tauhid ilmu tt keesaan Allah; -- terapan ilmu tt cara menerapkan prinsip umum untuk memecahkan
masalah yg terjadi dl alam semesta dan masyarakat manusia; -- ternak ilmu tt cara memelihara dan
memperkembangkan hewan ternak (babi, domba, dsb); -- tib ilmu mengenai obat-obatan atau kesehatan; ilmu kedokteran; -- tilik hewan ilmu tt cara menilai
baik-buruknya ternak dilihat dr bentuk luarnya; -- tumbuh-tumbuhan pengetahuan tt tumbuh-tumbuhan; botani; -- udara pengetahuan mengenai keadaan
udara; -- ukur ruang pengetahuan
ukur-mengukur benda (spt kerucut, limas); -- ukur sudut pengetahuan ukur-mengukur yg berdasarkan perhitungan
sudut; -- urai ilmu tt susunan
tubuh dan hubungan alat tubuh; anatomi; -- usaha ilmu tt cara mengombinasikan faktor produksi dl
mengusahakan suatu tanaman atau ternak supaya memperoleh keuntungan maksimal
dan terus-menerus; -- usuludin
ilmu tauhid ; -- wasilah ilmu
dan kepandaian menghubungkan diri dng roh;
ber·il·mu v mempunyai
ilmu; berpengetahuan; pandai: senang sekali mempunyai teman akrab yg ~;
~ lintabung ki bodoh,
tetapi sombong; ~ padi ki
pandai, tetapi tidak mau menunjukkan (menonjolkan) kepandaiannya;
meng·il·mu·kan v
menjadikan ilmu pengetahuan;
ke·il·mu·an n barang apa
yg berkenaan dng pengetahuan; secara ilmu pengetahuan: dl masalah ~ ,
janganlah ragu-ragu bertanya kpd beliau
3.7 Filsafat
Bahasa sebagai ilmu
Filsafat Bahasa adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi
mengenai hakekat bahasa, sebab, asal, dan hukumnya. Adapun bahasa itu sebagai
alat untuk menyatakan atau mneyampaikan suatu fikiran yang merupakan hasil
hasil dari kerja akal di dalam otak.berdasarkan hal tersbeut Perhatian filsuf
terhadap bahasapun semakin besar. Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya banyak
persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi jelas dengan
menggunakan analisis bahasa. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan
terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan kekaburan, kekacauan yang
selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan
perkembangan filosofis bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan
yang sangat radikal. F. de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis
terhadap linguistik. Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka
cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi
Yunani. Secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua
pengertian
- Perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis.
- Perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek materi yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran dari teori-teori linguistik. (Kaelan, 1998 : 5).
Berdasarkan pengertian di atas bahasa sebagai sarana analisis para filsuf
dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsep-konsep, problema-problema
filsafat (bahasa sebagai subjek). Dan yang kedua bahasa sebagai objek material
filsafat, sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. Hakikat
bahasa sebagai substansi dan bentuk yaitu bahwa bahasa di samping memiliki
makna sebagai ungkapan pikiran manusia juga memiliki unsur fisis yaitu struktur
bahasa.
Berbicara mengenai struktur bahasa maka termasuk kedalam peran bahasa itu
sendiri sehingga Adapun Peranan Filsafat Bahasa Dalam Pengembangan Ilmu Bahasa
yaitu ;
Dimana telah dibicarakan tentang pengertian filsafat bahasa, dan juga
sudah diuraikan mengenai hubungan filsafat dengan bahasa sangat erat, atau
sangat penting. Begitu juga peranan (kegunaan) filsafat bahasa, sangat penting
dalam pengembangan ilmu bahasa. Kegunaan (peranan) filsafat bahasa itu sangat
penting pada pengembangan ilmu bahasa karena filsafat bahasa itu adalah
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakekat bahasa, sebab,
asal, dan hukumnya. Jadi pengetahuan dan penyelidikan itu terfokus kepada
hakekat bahasa, juga sudah termasuk perkembangannya. Pada dasarnya perkembangan
filsafat analitika bahasa meliputi tiga aliran yang pokok yaitu atomisme logis,
positivisme logis, dan filsafat bahasa biasa. Aliran filsafat bahasa biasa
inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan
aliran yang lain, dan memiliki pengaruh yang sangat luas, baik di Inggris,
Jerman dan Perancis maupun di Amerika. Aliran ini dipelopori oleh Wittgenstein.
Aliran filsafat bahasa biasa juga mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain
, yaitu ;
- Kekaburan makna
- Bergantung pada konteks
- Penuh dengan emosi
- Menyesatkan
Untuk mengatasi kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep
filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa, yaitu perlu diwujudkan
suatu bahasa yang sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam
filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Kelompok filsuf ini adalah
Bertrand Russell. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun
dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat
dalam bahasa sehari-hari ini. Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu
kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau
kenyataan-kenyataan. Dasar tentang struktur metafisis dan realitas kenyataan
dunia yang menjadi perhatian yang terpenting adalah usaha untuk membangun dan
memperbaharui bahasa itu membuktikan bahwa perhatian filsafat itu memang
berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di
dalamnya. Sebagai suatu bidang filsafat khusus, filsafat bahasa mempunyai
kekhususannya,yaitu masalah yang dibahas berkenaan dengan bahasa. Jadi peranan
filsafat bahasa jelas sangat penting, atau berpengaruh terhadap pengembangan
ilmu bahasa. Namun berbeda dengan ilmu bahasa atau lingkungan yang membahas
ucapan tata bahasa, dan kosa kata, filsafat bahasa lebih berkenaan dengan arti
kata atau arti bahasa (semantik). Masalah pokok yang dibahas dalam filsafat bahasa
lebih berkenaan dengan bagaimana suatu ungkapan.
Bahasa itu mempunyai arti, sehingga analisa filsafat tidak lagi dimengerti
atau tidak lagi dianggap harus didasarkan pada logika teknis, baik logika
formal maupun matematik, tetapi berfilsafat didasarkan pada penggunaan bahasa
biasa. Oleh karena itu mempelajari bahasa biasa menjadi syarat mutlak bila
ingin membicarakan masalah-masalah filsafat, karena bahasa merupakan alat dasar
dan utama untuk berfilsafat. Di dalam pengembangan bahasa banyak ditemui kata-kata
yang bersinonim, ini membuktikan bahwa bahasa itu berkembang sehingga banyak
kata yang bersinonim. Begitu juga akibat perkembangan bahasa itu timbul
kata-kata baru, yang singkat dan tepat, dan mewakili kata-kata yang panjang,
seperti kata canggih, dahulu kata canggih belum ada, sekarang timbul dan
mewakili kata-kata yang panjang. Cukup kita mengatakan canggih saja, di dalam
dunia modern, masa kini. Selanjutnya kata rekayasa, dahulu kata rekayasa tidak
ditemukan, sekarang timbul untuk mewakili kata-kata yang panjang yaitu
penerapan kaidah-kaidah ilmu seperti perancangan, membangun, pembuatan
konstruksi. Selanjutnya kata monitor atau memantau dahulu kata monitor
(memantau) belum ada, sekarang timbul dan mewakili kata-kata yang panjang, yaitu
mengawasi, mengamati, mengontrol, mencek dengan cermat, terutama untuk tujuan
khusus.
Struktur kalimat juga berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang
meningkat.
Contoh : Dahulu struktur kalimat mempunyai pokok, sebutan, objek, sekarang
timbul subjek, predikat, keterangan dan ada lagi frase benda, frase kerja, dan
frase keterangan. Ada lagi paradigma baru seperti kata pemimpin, dengan
pimpinan, yang mempunyai makna berbeda. Pemimpin adalah orang yang memimpin,
sedangkan pimpinan adalah orang yang dpimpin. Selanjutnya kata simpulan yang
benar dari kata kesimpulan. Simpulan itu adalah akhir dari pembahasan. Kata
keterangan dengan terangan yang betul adalah terangan. Jadi makin banyak
perubahan atau perkembangan bahasa itu akibat ilmu pengetahuan tentang bahasa
yang meningkat.
Ada juga kata-kata yang timbul pada saat ini tetapi tidak diterima oleh
masyarakat seperti kata sangkil dan mangkus dalam bahasa Inggris effektif dan
eftsien, masyarakat lebih menerima kata berhasil guna, dan berdaya guna. Begitu
juga singkatan-singkatan atau akronim sering terjadi pada masyarakat masa
kini.
Contoh :
OTISTA, Obrolan Artis dalam Berita
KISS, Kisah Seputar Selebritis
Selanjutnya masalah hukum DM (Diterangkan, Menerangkan).
Bahasa Indonesia Hukum DM
Contoh : Rumah putih ( D M )
Bahasa Inggris mempunyai Hukum MD
Contoh : White house ( M D )
Dahulu terdapat kata Sarjana Wanita ini mempunyai hukum MD,
muncul Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam
sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang
berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan
pada data empiris.
Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis
sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh
kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu
sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan
pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat
menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada
Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang
diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill.
Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme –
empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach
dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek
nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme,
masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim,
yang bergabung dengan subyektivisme.
3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan
lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan
lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga
ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan
sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika.
Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika
simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Positivisme Logis
Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan
dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme
Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran
Wina.
Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang
membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan
atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis
ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah.
Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan
pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.
Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme
logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam
suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan
perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika
dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan
dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan
kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik
menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan
informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak
mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam
bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.
Auguste Comte dan Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal.
Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana
metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum
sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris
dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de
Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon
untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum
yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon
juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode
feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang
mendasari masyarakat industri.
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the
Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai
evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang
sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan.
Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika
yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de
Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari
filsafat sehjarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan
metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini
mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu
pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu
biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku
bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai
perkambangan gagasan-gagasan.
Karl R Popper: Kritik terhadap Positivisme Logis
Asumsi pokok teorinya adalah satu teori harus diji dengan
menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan
Popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas
positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak
lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan
ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu
pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.
Hal yang dikritik oleh Popper pada Positivisme Logis adalah
tentang metode Induksi, ia berpendapat bahwa Induksi tidak lain hanya khayalan
belaka, dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi.
Tujuan Ilmu Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku
dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis
penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak
tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah
yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan
dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan
kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan
tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat
berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran
deduktif.
Penolakan lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper
berpendapat bahwa fakta keras yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori
sebenarnya tidak ada, karena fakta keras selalu terkait dengan teori, yakni
berkaitan pula dengan asumsi atau pendugaan tertentu. Dengan demikian
pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori
dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakab benar secara mutlak.
Daftar Pustaka
Positivisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas
Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi,
dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat
berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste
Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang
dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham
positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu
sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan
berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang
dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar
terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang
disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam
angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas
kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian
positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam
"pencapaian kebenaran"-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian
yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam
positivisme.
Rasionalisme atau gerakan
rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah
ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta,
daripada melalui iman,
dogma, atau ajaran
agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan
atheisme,
dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus
sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun
begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:
- Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik.
- Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
Di luar diskusi keagamaan, rasionalisme dapat diterapkan
secara lebih umum, misalnya kepada masalah-masalah politik atau
sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari
perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan
(emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer.
Pada pertengahan abad ke-20,
ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar
oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual.
Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme
kontinental yang diterangkan René
Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme
modern terhadap sains
yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang
rasionalisme kontinental sama sekal
RASIONALISME
Dalam
pembahasan tentang suatu teori pengetahuan, maka Rasionalisme menempati sebuah
tempat yang sangat penting. Paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad
ke-17 dan ke-18, tokoh-tokohnya ialah Rene Descartes, Spinoza, leibzniz, dan
Wolff, meskipun pada hakikatnya akar pemikiran mereka dapat ditemukan pada
pemikiran para filsuf klasik misalnya Plato, Aristoteles, dan lainnya.
Paham ini
beranggapan, ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh
rasio manusi. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat
tentang dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan
tidak dijabarkan dari pengalaman, bahkan pengalaman empiris bergantung pada
prinsip-prinsip ini.
- Pemikiran; saya memahami diri saya makhluk yang berpikir, maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
- Tuhan merupakan wujud yang sama sekali sempurna; karena saya mempunyai ide “sempurna”, mesti ada sesuatu penyebab sempurna untuk ide itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya.
- Keluasaan; saya mengerti materi sebagai keluasaan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.
Sementara
itu menurut logika Leibniz yang dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu
dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur
realitas yang mendasar. Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam adalah
perwujudan dunia yang matematis. Dunia yang nyata ini hanya dapat dikenal
melaui penerapan dasar-dasar pemikiran. Tanpa itu manusia tidak dapat melakukan
penyelidikan ilmiah. Teori ini berkaitan dengan dasar pemikiran epistimologis
Leibniz, yaitu kebenaran pasti/kebenaran logis dan kebenaran fakta/kebenaran
pengalaman. Atas dasar inilah yang kemudian Leibniz membedakan dua jenis
pengetahuan. Pertama; pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran
abadi, yaitu kebenaran logis. Kedua; pengetahuan yang didasari oleh
observasi atau pengamatan, hasilnya disebut dengan “kebenaran fakta”.
Paham
Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio.
Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia
harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat
memperolah ilmu pengetahuan. Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir
inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang
akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia
berbuat dan menentukan tindakannya. Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku,
perbuatan, dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan pengetahuan yang
didapat tadi.
Namun
demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh dunia nyata.
Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan
dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya. Maka dengan demikian,
seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas pengetahuan manusia
ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio bekerja dan
bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia itu kepada
kesempunaan.
Prof. Dr.
Muhmidayeli, M.Ag menulis dalam bukunya Filsafat Pendidikan yaitu “Kualitas
rasio manusia ini tergantung kepada penyediaan kondisi yang memungkinkan
berkembangnya rasio kearah yang memedai untuk menelaah berbagai permasalahan
kehidupan menuju penyempurnaan dan kemajuan” Dalam hal ini penulis memahami
yang dimaksud penyedian kondisi diatas ialah menciptakan sebuah lingkungan
positif yang memungkinkan manusia terangsang untuk berpikir dan menelaah
berbagai masalah yang nantinya memungkinkan ia menuju penyempunaan dan kemajuan
diri.
Karena
pengembangan rasionalitas manusi sangat bergantung kepada pendyagunaan maksimal
unsur ruhaniah individu yang sangat tergantung kepada proses psikologis yang
lebih mendalam sebagai proses mental, maka untuk mengembangkan sumber daya
manuia menurut aliran rasionalisme ialah dengan pendekatan mental disiplin,
yaitu dengan melatih pola dan sistematika berpikir seseorang melalui tata
logika yang tersistematisasi sedemikian rupa sehingga ia mampu menghubungkan
berbagai data dan fakta yang ada dalam keseluruhan realitas melalui uji tata
pikir logis-sistematis menuju pengambilan kesimpulan yang baik pula.
EMPIRISME
Secara
epistimologi, istilah empirisme barasal dari kata Yunani yaitu emperia yang
artinya pengalaman. Tokoh-tokohnya yaitu Thomas Hobbes, Jhon Locke, Berkeley,
dan yang terpenting adalah David Hume.
Berbeda
dengan rasionalisme yang memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber
pengetahuan, maka empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan,
baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah.
Thomas
Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala
pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan
(kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara yang
berlainan. Dunia dan materi adalah objek pengenalan yang
merupakan sistem materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung tanpa
hentinya atas dasar hukum mekanisme. Atas pandangan ini, ajaran Hobbes
merupakan sistem materialistis pertama dalam sejarah filsafat modern.
Prinsip-prinsip
dan metode empirisme pertama kali diterapkan oleh Jhon Locke, penerapan
tersebut terhadap masalah-masalah pengetahuan dan pengenalan, langkah yang
utama adalah Locke berusaha menggabungkan teori emperisme seperti yang telah
diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Penggabungan
ini justru menguntungkan empirisme. Ia menentang teori rasionalisme yang
mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan
tidak lebih dari itu. Menurutnya akal manusia adalah pasif pada saat
pengetahuan itu didapat. Akal tidak bisa memperolah pengetahuan dari dirinya
sendiri. Akal tidak lain hanyalah seperti kertas putih yang kosong, ia hanyalah
menerima segala sesuatu yang datang dari pengalaman. Locke tidak membedakan
antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akali, satu-satunya objek
pengetahuan adalah ide-ide yang timbul karena adanya pengalaman lahiriah dan
karena pengalaman bathiniyah. Pengalaman lahiriah adalah berkaitan dengan
hal-hal yang berada di luar kita. Sementara pengalahan bathinyah berkaitan
dengan hal-hal yang ada dalam diri/psikis manusia itu sendiri.
Sementara
menuru David Hume bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengalaman, yang ia
sebut dengan istilah “persepsi”. Menurut Hume persepsi terdiri dari dua macam,
yaitu: kesan-kesan dan gagasan. Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal
budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sementara gagasan adalah
persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan bisa diartikan
dengan cerminan dari kesan. Contohnya, jika saya melihat sebuah “rumah”, maka
punya kesan tertentu tentang apa yang saya lihat (rumah), jika saya memikirkan
sebuah rumah maka pada saat itu saya sedang memanggil suatu gagasan. Menurut
Hume jika sesorang akan diberi gagasan tentang “apel” maka terlebih dahulu ia
harus punya kesan tentang “apel” atau ia harus terlebih dahulu mengenal objek
“apel”. Jadi menurut Hume jika seandainya manusia itu tidak memiliki alat untuk
menemukan pengalaman itu buta dan tuli misalnya, maka manusia itu tidak akan
dapat memperoleh kesan bahkan gagasan sekalipun. Dalam artian ia tidak bisa
memperoleh ilmu pengetahuan.
Emperisme
Kata ini
berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria,
artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang
dimaksud ialah pengalaman indrawi. Manusia tahu es dingin karena ia
menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya. Jadi emperisme adalah
memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dan lebih sedikit melalui akal. Pada
sisi lain ilmu pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh
lewat indra ( empiri) dan empirilah satu- satunya sumber pengetahuan. Pemikiran
tersebut lahir denagn nama Empirisme.
Kaum empiris
memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat
pengalaman. Dalam persoalan fakta maka kaum impiris harus diyakinkan oleh
pengalaman sendiri. Dua aspek dari teori empiris adalah yang pertama adalah
perbedaan antara yang mengetahui dan yang diakui. Yang mengetahui subyek dan
benda yang diketahui adalah obyek. Kedua, kebenaran atau pengujian kebenaran
dari fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia. Aspek lain adalah
prinsip keteraturan. Pengetahuan tentang alam didasarkan pada persepsi mengenai
cara yang teratur tentang tingkah laku sesuatu. Pada dasarnya alam adalah
teratur. Di samping berpegang kepada keteraturan, kaum empiris mempergunakan
prinsip keserupaan. Keserupaan berarti bahwa bila terdapat gejala-gejala yang
berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama, maka kita memepunyai cukup
jaminan untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang hak itu.
John Locke
(1632-1704), bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula
rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia
itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengetahuannya mengisi
jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan
indera yang masuk itu sederhana, lama kelamaan ruwet, lalu tersusunlah
pengetahuan berarti. Berarti, bagaimana pun kompleks (ruwet)-nya pengetahuan
manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang
tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi,
pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode
penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
Ada dua ciri
pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan teori tentang
pengetahuan.
Teori makna
pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan,
yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada abad pertengahan teori ini diringkas
dalam rumus Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu
(tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman).
Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya, An
Essay Concerning Human Understanding, yang dikeluarkannya tatkala ia
menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang-orang rasionalis.
Jiwa (mind) itu, tatkala orang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana
kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan di atasnya, dan setiap
idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman; yang dimaksud dengan
pengalaman di sini ialah pengalaman inderawi. Atau pengetahuan itu datang dari
observasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan
alat yang oleh Locke disebut inner sense (pengindera dalam).
Pada abad
ke-20 kaum empiris cenderung menggunakan teori makna mereka pada penentuan
apakah suatu konsep diterapkan dengan benar atau tidak, bukan pada asal-usul
pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah
pada Charles Sanders Peirce dalam kalimat “Tentukanlah apa pengaruh konsep itu
pada praktek yang dapat dipahami kemudian konsep tentang pengaruh itu, itulah konsep
tentang objek tersebut”.
Filsafat
empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical
positivism) dan filsafat Ludwig Wittgenstein. Akan tetapi, teori makna dan
empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu,
bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran,
materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindera, dan hubungan
kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.
Teori kedua,
yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut: Menurut orang
rasionalis ada beberapa kebenaran umum, seperti “setiap kejadian tentu
mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan
kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah
kebenaran a priori yang diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisme
menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran
yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia
kebenaran a posteriori.
Tokoh lain
yang mengemukakan tentang pemikiran emperisme adalah :
.
- Pengamantan dan Pengumpulan Data
Tahap ini
merupakan sesuatu yang paling dikenal dalam metode keilmuan. Disebabkan oleh
banyaknya kegiatan keilmuan yang diarahkan kepada pengumpulan data ini maka
banyak orang menyamakan keilmuan dengan pengumpulan fakta. Pengamatan yang
diteliti yang dimungkinkan oleh terdapatnya berbagai alat, yang dibuat manusia
dengan penuh akal, memberikan dukungan yang dramatis terhadap konsep keilmuan sebagai
suatu prosedur yang pada dasarnya adalah empiris dan induktif.
- Penyusunan dan Klasifikasi Data
Tahap metode
keilmuan ini menekankan kepada penyusunan fakta dalam kelompok- kelompok,
jenis-jenis dan kelas-kelas. Dalam semua cabang-cabang ilmu, usaha untuk
mengidentifikasikan, dan memebedakan fakta-fakta yang relevan tergantung pada
adanya sistem klasifikasi ini disebut taxonomi, dan ilmuwan modern terus
berusaha untuk menyempurnakan taxonomi khusus bidang keilmuan mereka.
- Perumusan Hipotesis
paradigma baru menjadi Wanita Sarjana menjadi hokum D M
Yang betul adalah Wanita Sarjana, karena Bahasa Indonesia mempunyai
Hukum DM. Ini semua karena ilmu pengetahuan yang semakin meningkat.
BAB IV LOGIKA
A. DEFINISI LOGIKA
Logika berdasarkan ethimologisnya dalam bahasa inggris yaitu logic,dalam bahasa latin yaitu logika,dalam bahasa yunani logice.
-Logika
adalah pola berpikir seseorang yang teratur,sistematis,dimengerti
-logika
adalah teori atau persyaratan penalaran yang syah,istilah ini pertama kali
dipelopori oleh(Alfrend Alexander dan
Aprhroderius)
-logika
juga disebut aturan-aturan atau kaidah penalaran yang tepat,disamping sebagai
penalaran logika juga disebut bentuk pol pikiran.
B. PERKEMBANGAN LOGIKA
1.
Logika berkembang sejak 2500 tahun
sm,didunia barat dan timur sebagai pendekatan historis dan analisis.
2. Disamping
di yunani logika juga berkembangnya di India yang disebut nyanya yang
menekankan logika Aristoteles bersaing dengan logika Megarian stoa marhab ini,
berhubungan dengan dielektida zeno.
3. Marhab paripatetik terus mengembangkan logika
Aris toeteles bersaing dengan logika Megarian stoa marhab ini berhubungan
dielektida zeno.
4. Saingan marhab paripatetik adalah marhab
epikurean marhab menegaskan bahwa logika berawal dari perpisahan emperis kemudian berkembang menjadi individu
dan amilon.
C. LOGIKA MODERN
Logika
modern yang juga
dikenal dengan nama logika simbolik atau logika matematik adalah corak-corak
baru logika [1]. seperti
yang terdapat pada:
- Logika modalitas (modal logic)
- Logika bernilai banyak (many-valued logic)
- Sistem implikasi nonstandar (nonstandard system of implication)
- Sistem kuantifikasi nonstandar (nonstandard systems of quantification)
Logika modern tetap berpegang
kepada prinsip-prinsip yang dikenalkan oleh logika tradisional, namun berbeda
dengan logika tradisional,
logika modern hanya menggunakan tan
D. TIGA
BAGIAN LOGIKA
Logika
bgian 1
Marxisme
dan kritik ekonomi politik
Marx menulis
tentang metamorfosis komoditas. Bagaimana komoditas beralih-wujud menjadi uang
untuk kemudian beralih kembali jadi komoditas yang lain? Apa yang memungkinkan
metamorfosis ini? Pertama, mesti ada komoditas. Namun agar ada
komoditas, mesti ada proses produksi. Karenanya, syarat pertama
metamorfosis ialah keberadaan proses produksi. Kedua, mesti ada uang.
Namun uang tak lain daripada mediator yang menghubungkan proses produksi yang
berbeda. Karenanya, syarat kedua metamorfosis adalah keberadaan mediator
produksi. Ketiga, mesti ada pasar. Apa yang dimaksud pasar ialah ruang
tempat transaksi dagang terjadi, lengkap dengan seluruh pengaruh yang
dihasilkannya pada transaksi tersebut. Syarat ketiga metamorfosis, karenanya,
adalah keberadaan ruang gerak. Proses produksi, mediator produksi dan pasar
sebagai ruang gerak—inilah ketiga syarat yang mesti dipenuhi agar sirkuit
komoditas-uang-komoditas dimungkinkan.
Dalam tulisan ini, kita akan menggunakan skema tiga syarat
metamorfosis komoditas tersebut untuk membaca transaksi politik. Apa yang
tergambar dalam pemaparan berikut tak lain adalah politik yang dibaca dalam
logika ekonomi.
Logika bagian ll
PEMAHAMAN KATA-KATA
Dari
Metafisika ke Logika
filsafat memberi kita wawasan
penting mengenai metafisika, yang pada awalnya ditemukan oleh Sokrates,
lalu diungkap dengan jauh lebih lengkap oleh Kant. Seperti akar pohon yang
hampir seluruhnya terpendam di tanah sehingga kita tidak bisa melihatnya,
sebagaimana adanya (sekurang-kurangnya tidak tanpa menumbangkan pohon),
landasan metafisis pengetahuan kita pun terdiri atas sesuatu yang pada dasarnya
tak dapat diketahui oleh benak manusia. Dengan dilengkapi dengan wawasan ini,
sekarang kita bisa menarik diri dari
kedalaman metafisika yang kelam dan naik ke bagian pohon filsafat yang
membiarkan diri untuk diamati dengan lebih mudah.
Seperti yang
kita perhatikan di Kuliah 1, “logika” filosofis itu bagaikan batang pohon.
Namun, apakah logika itu? Saya ingin kalian turut menjawab pertanyaan
ini untuk beberapa saat. Saya menduga, sebelum kalian mengikuti matakuliah ini
kebanyakan dari kalian lebih memiliki pandangan mengenai hakikat logika
daripada mengenai hakikat filsafat pada umumnya. Jadi, saya harap pertanyaan
diskusi ini akan agak lebih mudah daripada yang kita hadapi di Kuliah 1. Siapa
yang mau mengajukan jawaban pertama? Apakah logika itu?
Mahasiswa H. “Saya pikir
logika itu seperti sains: sama-sama diharapkan untuk mengajarkan kita
fakta-fakta di dunia ini, sehingga kita tidak harus bersandar pada pendapat
kita belaka.”
Logika
memang berkaitan dengan sesuatu yang mempermudah kita dalam melihat hal-hal di
balik opini kita sendiri. Akan tetapi, saya rasa saya tak mungkin sepakat
dengan anda bila anda hubungkan logika sedemikian dekat dengan fakta-fakta
ilmiah. Namun demikian, saya senang anda mengatakannya, karena pandangan yang
keliru mengenai logika ini banyak dianut oleh mahasiswa yang baru belajar
filsafat. Logika sebetulnya sama sekali tidak mengajarkan kita fakta-fakta
baru! Sesungguhnya, logika lebih menyerupai metafisika daripada fisika bila
sampai pada persoalan pengajaran fakta-fakta baru. Metafisika,
sekurang-kurangnya bagi Kant, tidak menambah pengetahuan sama sekali,
tetapi mencegah kekeliruan, seperti halnya akar-akar pohon tidak
mengandung buah, namun perlu dipelihara untuk memastikan agar buahnya sehat.
Begitu pula batangnya, logika. Alasan mengkaji metafisika dan logika bukanlah
agar kita bisa lebih mengetahui, melainkan supaya kita dapat belajar
mengungkapkan dengan lebih jelas dan cermat pengetahuan yang kita peroleh dari
sumber-sumber lain. Kalau tidak, kita bisa mendapati diri membudidayakan
wawasan yang terlihat manis di luar, tetapi busuk ketika kita “gigit”. Jadi, apakah
logika itu?
Mahasiswa I. “Logika
adalah proses berpikir selangkah demi selangkah, seperti yang selalu dipakai
oleh ilmuwan yang baik.”
Saya rasa
pandangan anda benar bahwa berpikir ilmiah harus logis; berpikir “selangkah
demi selangkah”, yang mensyaratkan langkah-langkah yang harus diikuti menurut
suatu tatanan tertentu, tentu saja merupakan salah satu ciri utama
segala hal yang logis. Kata “tatanan” (order) menyiratkan pertalian
tertentu yang ada antara langkah-langkah berlainan yang kita ikuti dalam proses
berpikir kita. Saya menganggap itulah maksud anda kala mengatakan “selangkah demi
selangkah”. Namun jawaban anda memperlihatkan bahwa anda salah paham terhadap
pertanyaan saya. Apakah kalian menyadarinya? Jika dalam Pengantar Sejarah
seorang mahasiswa menanyai saya “Apakah sejarah itu?”, maka memadaikah
jawaban saya kepadanya bila mengatakan “Sejarah adalah sesuatu mengenai masa
lalu yang penting”? Adakah di antara kalian yang sedang mempelajari sejarah
saat ini yang bisa memberi tahu saya apakah pemerian saya tentang apa yang
sedang anda pelajati itu akurat ataukah tidak?
Mahasiswa J. “Kami
belajar banyak mengenai peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi di masa
lalu.”
Itukah tepatnya
yang anda pelajari? Di semua matakuliah, para mahasiswa pasti mempelajari
hal-hal penting mengenai masa lalu tanpa benar-benar mengkaji sejarah.
Contohnya, di kuliah-kuliah terdahulu kita sudah mempelajari metafisika dengan
menelaah ide-ide filsuf masa lalu, tetapi pengambilan pendekatan
historis tidak berarti kita mengkaji sejarah begitu saja. Hal lain apa
yang kalian pelajari di matakuliah sejarah?
Mahasiswa J. “Sebagian
pengajar menyajikan berbagai teori tentang bagaimana perubahan historis pada
aktualnya berlangsung, umpamanya perdebatan apakah sejarah itu seperti garis
ataukah lingkaran. Juga, kita diharapkan untuk tidak sekadar mempelajari
fakta-fakta masa lalu, tetapi mengapa fakta-fakta itu signifikan, dan
bagaimana kita bisa menafsirkannya dengan cara sebaik-baiknya.”
Bagus
sekali! Nah, seperti halnya semua disiplin akademik mengajarkan sesuatu
mengenai masa lalu tanpa perlu mengajarkan sejarah, semua disiplin
akademik—atau paling tidak, mestinya—pun bersifat logis, namun tidak
mengajarkan logika. Tidak hanya matakuliah sains; sejarah, ekonomi,
politik, agama, musik, dan seni pun biasanya juga diajarkan dengan cara logis,
tertata (namun tentu saja terdapat berbagai tipe tatanan). Jadi,
permintaan saya sekarang, katakan apa yang menjadikan logika itu sendiri
khas sebagai disiplin akademik! Bila kita alihkan perhatian kita ke logika, apa
yang akan kita telaah?
E. MACAM-MACAM LOGIKA
Logika ada
dua macam, yaitu:
- Logika Modern yang dikenal dengan nama logika simbolik atau logika matematik. Prinsip Logika Tradisional yang telah dikembangkan oleh Aristoteles tetap menjadi Prinsip Logika Modern. Karena Logika Modern hanya menggunakan simbol-simbol matematik dalam realita tidak mungkin dapat ditangkap sepenuhnya dan secara tepat oleh simbol matematik tersebut.
- Logika Tradisional membahas dan mempersoalkan definisi, konsep, dan term menurut struktur, susunan dan nuansanya, serta seluk beluk penalaran untuk memperoleh kebenaran yang lebih sesuai dengan realita. Oleh karena itu Martin Heidegger (1889 – 1976) berpendapat bahwa logika modern mengabaikan cara berfikir yang sesungguhnya. Logika Modern tetap tidak dapat menggeser kedudukan logika tradisional.
Penalaran adalah kegiatan
berfikir. Kegiatan berfikir tidak mungkin dapat berlangsung tanpa bahasa. Jadi,
penalaran senantiasa bersangkut paut dengan bahasa. Setiap orang yang menalar
selalu menggunakan bahasa, baik bahasa yang digunakan didalam fikira, diucapkan
dengan mulut, maupun tertulis. Dengan demikian, bahasa adalah alat berfikir.
Bahasa adalah alat bernalar. Baik logika maupun tata bahasa terkait erat
dengan bahasa, namun keahlian dalam tata bahasa bukan merupakan prasyarat untuk
mempelajari logika. Logika membahas proses penalaran dan isi pikiran seperti
diungkapkan dalam bahasa untuk suatu kebenaran.
Empat kegunaan logika, yaitu :
- Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berfikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren.
- Meningkatkan kemampuan berfikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
- Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berfikir secara tajam dan mandiri.
- Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.
Tidak ada ilmu logika pengetahuan yang
tidak didasarkan pada logika, Ilmu Pengetahuan tanpa logika tidak akan pernah
mencapai kebenaran ilmiah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Logika,
Aristoteles, “Logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, siapa saja yang mempelajari logika, sesungguhnya
ia telah menggenggam master key (kunci utama) untuk membuka semua pintu masuk
ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan logika adalah prasyarat bagi
ilmu-ilmu lain”.
F.KELOGITAN
DAN BAHASA
A. logika berasal dari kata Yunani kuno
λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang
diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu
cabang filsafat.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica
scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan
untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui
dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan
ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan
dengan masuk akal.
B. Bahasa adalah kapasitas khusus
yang ada pada manusia
untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi
yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem
tersebut. Kajian ilmiah terhadap bahasa disebut dengan linguistik.
Semua perkiraan dari jumlah akurat dari bahasa-bahasa di dunia bergantung
kepada suatu perubahan sembarang antara perbedaan bahasa dan dialek. Namun,
perkiraan beragam antara 6.000-7.000 bahasa. Bahasa
alami adalah bicara
atau bahasa isyarat, tapi setiap bahasa dapat disandikan ke dalam
media kedua menggunakan stimulus audio, visual, atau taktil, sebagai
contohnya, dalam tulisan grafis, braille, atau siulan. Hal ini karena bahasa
manusia adalah modalitas-independen. Bila digunakan sebagai konsep umum,
"bahasa" bisa mengacu pada kemampuan kognitif untuk
dapat belajar dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau untuk
menjelaskan sekumpulan aturan yang membentuk sistem tersebut, atau sekumpulan
pengucapan yang dapat dihasilkan dari aturan-aturan tersebut. Semua bahasa
bergantung pada proses semiosis untuk menghubungkan isyarat dengan makna tertentu. Bahasa oral dan Bahasa
isyarat memiliki sebuah sistem fonologis yang
mengatur bagaimana simbol digunakan untuk membentuk urutan yang dikenal sebagai
kata atau morfem,
dan suatu sistem sintaks
yang mengatur bagaimana kata-kata dan morfem digabungkan
untuk membentuk frasa dan penyebutan.
Bahasa manusia unik karena memiliki properti-properti produktivitas, rekursif, dan pergeseran, dan karena ia secara
keseluruhan bergantung pada konvensi sosial dan pembelajaran. Strukturnya yang
kompleks mampu memberikan kemungkinan ekspresi dan penggunaan yang lebih luas
daripada sistem komunikasi hewan yang diketahui. Bahasa
diperkirakan berasal sejak hominin mulai secara bertahap
mengubah sistem komunikasi primata mereka, memperoleh kemampuan untuk membentuk
suatu teori
pikiran dan intensionalitas berbagi.
Perkembangan tersebut terkadang diperkirakan bersamaan dengan
meningkatnya volume otak, dan banyak ahli bahasa melihat struktur bahasa telah
berkembang untuk melayani fungsi sosial dan komunikatif tertentu. Bahasa
diproses pada banyak lokasi yang berbeda pada otak manusia, tapi terutama
di area
Broca dan area Wernicke. Manusia mengakuisisi
bahasa lewat interaksi sosial pada masa balita, dan anak-anak sudah dapat
berbicara secara fasih kurang lebih umur tiga tahun. Penggunaan bahasa telah
berakar dalam kultur
manusia. Oleh karena itu, selain digunakan untuk berkomunikasi, bahasa juga
memiliki banyak fungsi sosial dan kultural, seperti untuk menandakan identitas suatu
kelompok, stratifikasi sosial, dan untuk dandanan sosial dan hiburan.
Bahasa-bahasa berubah dan bervariasi
sepanjang waktu, dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan membandingkan bahasa
modern untuk menentukan sifat-sifat mana yang harus dimiliki oleh bahasa
leluhurnya supaya perubahan nantinya dapat terjadi. Sekelompok bahasa yang
diturunkan dari leluhur yang sama dikenal sebagai rumpun
bahasa. Bahasa yang digunakan dunia sekarang tergolong pada keluarga
Indo-Eropa, yang mengikutkan bahasa seperti Inggris,
Spanyol,
Portugis,
Rusia,
dan Hindi;
Bahasa Sino-Tibet, yang melingkupi Bahasa
Mandarin, Cantonese,
dan banyak lainnya; bahasa Semitik, yang melingkupi Arab, Amhar,
dan Hebrew;
dan bahasa
Bantu, yang melingkupi Swahili, Zulu, Shona,
dan ratusan bahasa lain yang digunakan di Afrika.
Konsensusnya adalah antara 50 dan 90% bahasa yang digunakan sekarang
kemungkinan akan punah pada tahun 2100.[1]
[2]
G. KONTRADIKSI
Dalam logika matematika, kontradiksi adalah
suatu pernyataan majemuk yang bernilai salah untuk semua kemungkinan dari
premis-premisnya. Jadi, kontradiksi berlawanan dengan tautologi.
Hal ini dapat dibuktikan menggunakan tabel
kebenaran ataupun sifat-sifat logika.
Kontradiksi
Tidak dapat
sama-sama benar pada waktu yang sama dan dalam pengertian yang sama.
Apakah maksudnya? Mari kita sama-sama mencoba mengerti dari
contoh sebelumnya.
Ebing menganggap bahwa Farhan pipis di celana. Tetapi Farhan membantahnya. Kamu
perlu membaca terlebih dahulu kisah
yang dimaksud.

Kita dapat menyederhanakan dialog mereka dengan dua kalimat
berikut.

Farhan
pipis di celana.

Farhan
tidak pipis di celana.
Tidak dapat sama-sama benar
Kontradiksi tidak dapat sama-sama benar. Sementara Ebing
bilang iya, Farhan bilang tidak.
Entah siapa dari mereka yang benar, yang jelas kalau ternyata Ebing benar,
berarti Farhan salah. Sebaliknya, kalau Ebing salah, pasti Farhan benar. Hanya
ada dua kemungkinan, dan tidak mungkin keduanya sama-sama benar. Ini adalah
kontradiksi.
![]() |
![]() |
|
Kemungkinan
1
|
||
Kemungkinan
2
|
Tetapi kita perlu memastikan bahwa ini adalah kontradiksi.
Benarkah kedua kelompok ini tidak dapat sama-sama benar? Kita harus memastikan
bahwa mereka membicarakan hal yang sama. Kita harus memeriksa waktu
dan pengertian yang dimaksud dari kalimat yang mereka
permasalahkan: Farhan pipis di celana.
Pada waktu yang sama
Apakah waktu yang dimaksud oleh kedua orang itu sama?
Seandainya kita tanya kepada mereka mengenai waktu kejadiannya, dan mereka
menjawab seperti ini:

Iya.
Farhan pipis di celana sekarang.

Nggak.
Aku tidak pipis di celana kemarin.
Kalau mereka menjawab seperti itu, maka ini bukan
kontradiksi. Mengapa? Karena waktu yang dimaksud berbeda. Ebing
memaksudkan Farhan pipis sekarang, tetapi Farhan memaksudkan tidak pipis
kemarin. Kedua kalimat ini sedang membicarakan kejadian yang berbeda.
Entah mereka berkata benar atau tidak, kita tidak tahu. Yang
jelas, keduanya masih mungkin sama-sama benar. Ketika Farhan
mengatakan Aku tidak pipis di celana kemarin, ia tidak mengatakan apa-apa
mengenai kejadian hari ini. Berarti masih ada kemungkinan ia pipis di celana
hari ini.
Tetapi kalau mereka memaksudkan waktu yang sama:

Iya.
Farhan pipis di celana sekarang.

Nggak.
Aku tidak pipis di celana sekarang.
Kita masih harus menguji satu aspek lagi, yaitu pengertiannya.
Dalam pengertian yang sama
Seandainya kita tanya, apa yang mereka maksudkan mengenai
pipis di celana.

Tentu
saja maksudnya Farhan pipis di celananya sendiri.

Aku
tidak pipis di celana Gilang.
Sama seperti pengandaian sebelumnya, pembicaraan ini mengacu
pada kejadian yang berbeda. Ketika Farhan mengatakan Aku tidak
pipis di celana Gilang, ia tidak mengatakan apa-apa mengenai ia pipis di mana.
Jadi masih ada kemungkinan ia pipis di celananya sendiri. Jadi, kedua kalimat
di atas masih bisa sama-sama benar.
BAB
V
KEBENARAN
5.1 Konsep Kebenaran
Ketika kita berbicara mengenai
kebenaran milik siapa ?
Allah maha
mengtahui dan sudah pasti Dia yang membuat kebenaran Namun. Allah tidak pernah
menyebutkan kebenaran itu hanya bisa diketahui oleh Allah. tetapi manusia
juga bisa menemukannya
Bukti bahwa kebenaran bisa ditemukan
oleh manusia contohnya adalah kasus perang Khandaq “parit” dimana pada saat itu
pendapat nabi dikalahkan oleh sahabat bernama “Salman Al Farisi” memberikan
masukan bahwa pada perang tersebut lebih baik menggunakan strategi parit agar
musuh terperangkap jebakan. Pendapat tersebut mengalahkan strategi nabi sendiri
yang ingin melakukan penyerangan langsung. Pendapat nabi tanpa masukan atau
petunjuk dari Allah. Dalam peperangan tersebut nabi setuju untuk menggunakan
strategi dari sahabat tersebut dan kaum muslim bisa menang.
1. kebenaran itu sesuai dengan fakta empirisnya
misal orang dikatakan benar jika mengatakan benda matahari itu bulat
karena sesuai dengan apa yang ada Terkadang fenomoena di alam ini kompleks
sehingga membutuhkan pengamatan dan penelitian yang mendalam.
Contohnya
seperti “berapa kecepatan cahaya itu”, para peneliti tidak bisa menggunakan
suatu alat yang sederhana untuk mencari standart kecepatan tersebut sehingga
bisa ditemukan dijaman modern sekarang.
2. Kebenaran itu bisa menyelesaikan masalah sesuai dengan konteks
Seperti permasalahan “kita ingin berliburan ke solo” moda angkutan yang
bisa dipakai bisa bermacam macam mulai kereta , pesawat, mobil, sepeda motor
atau jalan kaki hal tersebut bisa memberikan jawaban untuk pergi ke jakarta.
Hal
itu merupakan kebenaran, namun jika kita tambahkan konteks efisiensi waktu maka
yang paling efisien adalah pesawat. Dan akan berbeda dan semakin rumit
seiring bertambahnya konteks yang dipakai.
Maka bisa dikatakan bahwa kebenaran bisa
diketahui oleh orang yang memiliki pengaetahuan atau yang telah meneliti dengan
detail dan mendalam dengan metode yang pas tentunya dalam mengkaji suatu
fenomena atau peristiwa di alam ini.
3. Konsep Keyakianan Akan Kebenaran
Ada orang yang mengatakan kalo kita harus menghargai pendapat orang
lain Tidak boleh merasa pendapat kita paling benar Semua bebas memberikan
komentar.
Kita harus menghargai pendapat orang lain Jika jita
harus menghargai pendapat orang lain yang menyatakan semua benar maka kita juga
harus menghargai pendapat orang yang berfikir pendapatnya paling benar. Semua
boleh berpendapat dan mengungkapkan pendapatnya baik yang menyatakan semua
benar maupun hanya 1 kebenaran (percaya pendapatnya sendiri yang benar) Kita
harus menghargai pendapat yang bertentangn dengan pendapat kita seperti
kebenaran itu banyak dan pendapat kebenaran itu satu.
Dalam logika tersebut ada yang salah dimana ketika
kita menggunakan atau melakukan premis kebebasan maka kita harus membebaskan
atau membiarkan para masyarakat atau
orang yang memiliki pandangan hanya pendapat mereka lah yang benar.
5.2
Paradikma Kebenaran
Paradigma
adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik
tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai
realita – dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita
itu
Kebenaran sebenarnya adalah persamaan antara pikiran
(thought) dan sesuatu (thing). Dikatakan formal atau logical truth jika
pemikiran memberikan pertimbangan yang benar akan suatu realitas. Oleh karena
itu, kebenaran senantiasa berhubungan dengan pertimbangan dimana pikiran
memberikan persetujuan atau ketidaksetujuan akan ide-ide dan realitas, dimana
ide-ide ini dimanifestasikan.
1. Penelitian
Setiap tahun, ratusan ribu calon sarjana di Indonesia membuat
penelitian, setidaknya sekali seumur hidup mereka, entah itu yang dinamai
skripsi, tugas akhir, proyek akhir dan sebagainya. Teorinya, suatu bangsa
yang memiliki banyak sumberdaya manusia melek penelitian, akan jadi bangsa yang
tangguh. Mereka adalah bangsa yang mencintai kebenaran dan juga mampu
menghasilkan karya-karya ilmiah dan teknologi. Di abad 21 ini jelas,
keunggulan suatu bangsa makin ditentukan oleh penguasaannya atas iptek, tidak
lagi pada kekayaan alamnya, atau besar jumlah penduduknya.
Tanpa stimulasi ini,
sulit dibayangkan bahwa para pemuda di Indonesia, terutama yang mengenyam
pendidikan tinggi, akan tertarik untuk mengalami suatu proses penelitian.
Dunia kita saat ini digeber justru untuk lebih tertarik pada sesuatu yang
tidak rasional, baik itu mistik ataupun kehidupan glamour ala artis.
Hampir tidak ada bupati atau konglomerat yang berlomba memberi hadiah bagi
pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja atau Pemilihan Peneliti Remaja
Indonesia. Namun hampir semua jor-joran mengguyur juara AFI yang notabene
pasti sudah ditawari menjadi bintang iklan dengan nilai ratusan juta Rupiah.
Pertanyaannya adalah,
perlukah semua mahasiswa itu nanti jadi peneliti? Jadi peneliti atau
ilmuwan di Indonesia ini belum menjadi idola banyak orang. Lain dengan
menjadi dokter spesialis, jadi selebriti atau – sekarang ini – jadi anggota
legislatif! Dan faktanya, jadi peneliti di Indonesia ini masih harus
“Omar Bakri”. Tunjangan peneliti yang tertinggi (untuk Ahli Peneliti
Utama) baru Rp. 1.118.000,- Bersama gaji pokok tertinggi (Rp. 1.500.000),
seorang peneliti senior (yang sampai botak!) dengan pengalaman akademis minimal
20 tahun, hanya akan membawa pulang kurang dari Rp. 3 juta. Jumlah ini
bisa didapat Inoel hanya dengan goyang pantat selama 10 menit!
Di instansi
pemerintah, sudah rahasia umum bahwa badan-badan Litbang adalah “Sulit
Berkembang” atau orang-orangnya “Dililit dan Dibuang”. Anggaran riset
kita tak sampai 0,2% PDB Bandingkan dengan Malaysia, yang R&D
tersebut hampir 2% PDB, atau Jepang yang hampir 5% PDB. Sementara itu di
sektor swasta, penelitian juga tiarap. Mungkin hanya di sedikit industri
farmasi ada riset. Sementara itu sebagian besar industri kita hanya
“kacung” dari suatu raksasa di Luar Negeri. Di negeri asal itulah ada
R&D. Di sini, mau buat apa? Jangan-jangan malah khawatir nanti
disintegrasi …
Sebenarnyalah, senang
meneliti tidak harus jadi peneliti. Sikap (attitude) dan kemahiran yang
didapatkan dari pelatihan penelitian atau skripsi, mestinya dibawa sampai mati,
tidak dibatasi ruang dan waktu, apalagi bentuk-bentuk institusi.
Seharusnya,
bagus-bagus saja, ketika seorang yang pernah dilatih penelitian, kemudian
ketika menjadi pejabat politik, dia tidak hanya mengikuti gossip, wangsit
ataupun instink belaka, namun mengkaji permasalahan secara ilmiah, sehingga
keputusannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara rasional kepada
publik. Juga tentu bagus sekali, bila keahlian meneliti itu dipakai untuk
mengembangkan enterpreneurship. Sekarang ini konon lapangan kerja sedikit
sehingga cari kerja susah. Faktanya, banyak pemilik modal atau perusahaan
kesulitan mendapatkan SDM yang tepat. Banyak sarjana, tapi pola pikirnya tidak
berbeda dengan lulusan SD. Tidak rasional, tidak kreatif dan tidak-tidak
yang lain. Ya terang saja perusahaan itu kesulitan, karena pada umumnya
mereka yang pintar dan kreatif, lebih suka buka perusahaan sendiri, sudah jadi
bos sendiri, bisa ngatur penghasilannya sendiri, dan juga bisa menolong orang
dapat kerjaan (dapat pahala). Nah untuk tahu bagaimana memilih bisnis
yang tepat, dan setelah itu bagaimana agar bisnis itu berjalan lancar dan maju,
ini semua perlu dievaluasi dan dianalisis terus menerus dengan metode ilmiah –
sesuatu yang mudah-mudah didapatkan mahasiswa selama pelatihan atau tugas
akhirnya.
Bahkan jika ada alumni
pelatihan penelitian itu akhirnya lebih banyak beraktivitas di rumah (misal
jadi ibu rumah tangga), mereka seharusnya bisa mengenali permasalahan di rumah,
baik yang sifatnya fisik, finansial, maupun psikologis. Metode ilmiah
banyak membantu menyelesaikan segalanya, walaupun tentu bukan segala-galanya.
2. Kebenaran
Bila di suatu majelis ada perbedaan pendapat, sebagian orang sering
langsung mengeluarkan jurus “peredam ikhtilaf”, yaitu kalimat-kalimat seperti
“Kebenaran itu relatif”, “yang mutlak benar hanya Tuhan, kebenaran ilmu itu
relatif”, dsb.
Masalah ini bermula
ketika berbagai usaha untuk “islamisasi ilmu pengetahuan” sering terjebak pada
keinginan untuk mencocok-cocokkan suatu fakta ilmiah dengan Qur’an atau
Hadits. Tindakan ini sangat berbahaya, karena andaikata suatu ketika yang
dianggap fakta ilmiah itu teranulir oleh fakta yang lebih akurat, maka Qur’an
atau Hadits akan kehilangan kredibilitasnya.
Maka kita perlu
menengok sejauh mana relativitas kebenaran itu, dan sejauh mana kita bisa
menempatkan diri secara proporsional.
Dalam filsafat ilmu,
kita mengenal tiga jenis aliran informasi, dan ini berakibat ada tiga macam
kebenaran, yaitu: (1) kebenaran deduktif atau bisa disebut juga kebenaran
subjektif/otoritatif/deklaratif; (2) kebenaran naratif atau transmisif; (3)
kebenaran induktif atau objektif/konklusif. Tiga jenis kebenaran ini bisa
berkaitan namun tak bisa dicampuradukkan.
a. Kebenaran deduktif
adalah kebenaran pernyataan (declare) dari seseorang karena otoritasnya
– yang tentu saja bisa subjektif. Seorang ayah berhak memberi nama
anaknya Ahmad, sehingga pasti salah kalau orang lain memanggil anak itu
Aceng. Suatu pemerintah berhak menetapkan bahwa kendaraan jalan di lajur
kiri, sehingga pasti salah bila ada kendaraan jalan di lajur kanan. Di
sini kebenaran sama sekali tidak relatif. Kebenaran ini hanya bisa
digugat ketika otoritas ayah atau pemerintah tersebut dipertanyakan.
Ummat
muslim seharusnya menyadari, bahwa kebenaran sumber-sumber Islam seperti
Qur’an, Sunnah atau Ijma’ as-Shahabah, adalah memiliki deduktif/subjektif,
artinya kebenarannya tergantung sejauh mana otoritas yang mengeluarkannya itu
(Allah-Rasul) memiliki arti bagi kita. Karena itu hal yang paling
mendasar adalah pengakuan atas otoritas tadi, yaitu syahadatain.
b. Kebenaran naratif
adalah kebenaran akurasi dari objek atau informan ke penerima.
Kebenaran ini terkait dengan akurasi alat transmisi (alatnya cacat, noise, bias
atau tidak) dan tingkat kepercayaan manusia yang terlibat (apa benar pernah
bertemu dan mendengar/melihat, sejauh mana ingatannya, reputasi
kredibilitasnya, dll). Inilah kebenaran yang sering diandalkan oleh para
jurnalis, pengadilan, pemberantas korupsi dan periwayat hadits.
c. Kebenaran induktif
adalah kebenaran objektif. Nilai kebenaranya tidak tergantung
dari siapa yang mengeluarkan, namun dari alur logis cara menarik kesimpulan
tentang objeknya, yang bisa diulangi oleh siapapun. Inilah jenis
kebenaran yang paling luas, yang ditemui di dunia sains maupun fiqih.
Dalam kebenaran induktif, sesuatu dianggap benar sampai ditemukan suatu kejanggalan,
yaitu ketika ada dalil atau fakta yang tidak “fit” di konklusinya.
Kebenaran
induktif ini ada yang bersifat relatif dan ada yang mutlak. Yang bersifat
relatif pada umumnya mencakup hal-hal yang rumit dan rinci. Yang mutlak
mencakup hal-hal yang sederhana.
Contoh:
adalah mutlak benar mengatakan bahwa bentuk bumi ini mirip bola (dan mutlak
salah mengatakan bumi ini seperti cakram). Namun mengatakan berapa besar
radius bumi sampai milimeter terdekat masih relatif benar, karena hal itu
terkait dengan beberapa penyederhanaan yang menjadi asumsinya.
Dalam
ilmu pengetahuan, agar sesuatu itu bisa berguna, dia tidak harus mutlak
benar. Cukup bahwa prediksi yang dihasilkannya sesuai dengan kenyataan,
sudah akan membuat ilmu itu memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.
Pada
abad pertengahan, peta-peta yang dipakai oleh para penjelajah dunia, masih
sangat sederhana, dan dilihat dari kacamata sekarang, jelas banyak yang
salah. Namun peta-peta itu telah berguna membawa banyak tokoh sejak dari
Al-Biruni, Vasco da Gama atau James Cook mencapai tempat-tempat yang saat itu
sulit dibayangkan.
Demikian
juga teori mekanika Newton sebenarnya tidak tepat benar. Kalau untuk
memprediksi gerakan planet Mercurius, teori Newton akan gagal. Orang
harus beralih ke Teori Relativitas Umum Einstein. Namun teori Newton ini
berguna untuk 95% persoalan sehari-hari, mulai dari perhitungan struktur
bangunan, aerodinamika pesawat, hingga prediksi planet-planet selain
Mercurius. Orang kemudian memandang bahwa Teori Einstein lebih benar dan
lebih luas dari teori Newton, atau Teori Newton adalah special-case dari Teori
Einstein.
Yang
jelas, kebenaran induktif yang mutlak, bisa menjadi acuan untuk kebenaran
deduktif dan naratif. Siapakah ayah yang berhak memberi nama anaknya,
bisa dicari secara induktif, misalnya dengan tes DNA. Juga siapakah Nabi
yang memang authorized untuk menyatakan diri sebagai Rasul utusan Tuhan, bisa
dibuktikan (induktif) dari mukjizat yang dibawanya. Demikian juga, siapa
yang ternyata kredible dalam penuturan hadits, dikaji terlebih dulu secara
induktif.
Namun
di luar persoalan kebenaran, ada persoalan lain. Filsafat membagi objek
empiris dalam tiga dunia: “logika” (yang mengenal BENAR dan SALAH), “etika”
(yang mengenal BAIK dan BURUK) dan “estetika” (yang mengenal INDAH dan
JELEK). Pada umumnya, ketiga dunia ini dianggap sama sekali tak saling
bertaut. Karenanya, suatu ekspresi seni yang secara etika dianggap
melanggar norma kesopanan, oleh kalangan lain dianggap memiliki nilai estetis.
Di sinilah
Islam mengintegrasikan ketiga dunia tersebut di bawah satu payung kebenaran
syariat. Syariat menentukan nilai BENAR-SALAH dari suatu perbuatan, dan
yang sesuai syariat adalah BAIK, dan nilai keindahanpun baru ada bila memenuhi
kriteria minimal syariat (HALAL). Tentu saja bagi yang telah memenuhi
syarat minimal syariat, masih terbentang spektrum dari yang BAIK dan LEBIH
BAIK, dari yang INDAH dan LEBIH INDAH. Dan ini sangat subjektif.
3. Kreatifitas
Ketika nilai kebenaran dijadikan sandaran untuk memahami alam semesta,
kehidupan dan manusia, kreatifitas diperlukan untuk menjawab tantangan
permasalahan yang dihadapi di dunia ini. Kreatifitaslah yang menjadikan
suatu bangsa unggul dalam ilmu dan teknologi, dan bukan nilai kebenaran atau
kebijaksanaan yang mereka kumpulkan.
Kreativitas bisa
dibagi dalam suatu matriks 3 x 3. Pada sumbu datar adalah jenis
kreatifitas dari segi kematangan untuk digunakan, yaitu observatif – analitif –
kreatif. Sedang pada sumbu tegak adalah tingkat kesulitan mendapatkannya,
yaitu aplikatif – modifikatif – inovatif.
BAB VI
6.1 definisi penalaran
Penalaran adalah proses berpikir
yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan
sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan
terbentuk proposisi –
proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau
dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan
disebut dengan premis (antesedens)
dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak
dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan
sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan
terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan
sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang
disebut menalar.
Penalaran
sebagai sebuah kemampuan berpikir, memiliki dua ciri pokok, yakni logis dan
analitis. Logis artinya bahwa proses berpikir ini dilandasi oleh logika
tertentu, sedangkan analitis mengandung arti bahwa proses berpikir ini
dilakukan dengan langkah-langkah teratur seperti yang dipersyaratkan oleh
logika yang dipergunakannya. Melalui proses penalaran, kita dapat samapai pada
kesimpulan yang berupa asumsi, hipotesis atau teori. Penalaran disini adalah
proses pemikiran untuk memperoleh kesimpulan yang logis berdasarkan fakta yang
relevan. Kemampuan menalar adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan yang tepat
dari bukti-bukti yang ada dan aturan tertentu.
Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2, yaitu : Analitik
dan Non analitik. Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya, dapat
dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.
Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1.
Deduktif yang berujung pada rasionalisme
2.
Induktif yang berujung pada empirisme
Logika merupakan suatu kegiatan pengkajian untuk berpikir secara
shahih
Contoh :
· Ketika seorang pengemis berkata :”kasihanilah saya orang biasa”.
Itu merupakan suatu ungkapan yang tidak logis.
·
Ketika seorang peneliti mencari penyebab mengapa
orang mabuk? Ada 3 peristiwa yang ditemuinya
·
ada orang yang mencampur air dengan brendi dan itu
menyebabkan dia mabuk
·
ada yang mencampur air dengan tuak kemudian dia
mabuk
·
ada lagi yang mencampur air dengan whiski kemudian
akhirnya dia mabuk juga
Dari 3 peristiwa diatas, apakah kita bisa menarik kesimpulan bahwa
air-lah yang menyebabkan orang mabuk?
Logika deduktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari hal yang
bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus (individual). Sedangkan logika
induktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari kasus individual nyata
menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir silogisme, dua pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Dan didalam silogisme terdapat premis mayor dan premis minor.
Contoh :
· Semua makhluk punya mata ( premis mayor )
·
Si Adam adalah seorang makhluk ( premis minor )
·
Jadi, Adam punya mata ( kesimpulan )
Kriteria kebenaran :
3+4=75+2=76+1=7
Menurut seorang anak kecil, hal ini tidak benar.
Ini membuktikan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan
yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar.
Secara deduktif dapat dibuktikan ketiganya benar. Pernyataan dan
kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan
yang telah dianggap benar. Teori ini disebut koherensi. Matematika adalah
bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori
koherensi.
6.2
metafilsafat
Metafilsafat
Collin
McGinn, salah satu filsuf Amerika kontemporer, melontarkan gagasan tentang apa
yang disebutnya sebagai metafilsafat. Sebuah penyelidikan filosofis tentang apa
sesungguhnya kodrat dari persoalan filsafat, kemungkinan pengetahuan filosofis
dan metode yang diadopsi demi kemajuan filsafat. Sebuah filsafat tentang
filsafat. Menurut McGinn, ada dua tradisi besar metafilsafat yang saling
bertolak belakang. Pertama adalah tradisi Platonian. Tradisi ini berkeras bahwa
persoalan filsafat adalah persoalan esoteris. Filsafat adalah disiplin yang
memacu nalar manusia menggapai "yang esoteris". Tradisi kedua adalah
Wittgensteinian. Bertolak belakang dengan Plato, Wittgenstein menolak apa yang
disebut sebagai persoalan esoteris filsafat. Persoalan filsafat sesungguhnya
adalah persoalan bahasa. Pertanyaan filosofis menjadi semu dan tak bermakna
akibat penyalahgunaan bahasa. Dengan kata lain, persoalan filsafat sesungguhnya
adalah soal penyembuhan bahasa.
Tulisan
saya, Tanah Tak Berjejak Para Penyair ("Bentara", Kompas, 2 Mei
2003), berusaha mendamaikan dua tradisi metafilsafat tersebut dengan mengajukan
hipotesis nalar puitis. Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang
absolut-esoteris, namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Nalar
puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan
postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Selalu ada yang bergentayangan di
luar modus pengucapan yang dominan. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Oleh
karena itu, modus bernalar biasa harus ditinggalkan. Modus bernalar yang
mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan
baru. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif, tetapi pada
pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru.
Heidegger
meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. Bernalar bagi Heidegger
adalah keunggulan filsafat. Karenanya, filsafat harus memiliki modus bernalar
yang melebihi ilmu-ilmu positif, yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada
jawaban positif melainkan, seperti diisyaratkan Russel, melulu prihatin pada
pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Pelebaran yang sesekali harus
melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. Ini yang
dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan
filsafat, mulai dari Yunani klasik sampai modern. Bagi Heidegger, semua
pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang
sesungguhnya, yaitu Ada yang menopang segala adaan. Para filsuf terlalu asyik
bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada.
Pertanyaan-pertanyaan
filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang
Ada. Kelumpuhan ini, menurut Heidegger, disebabkan oleh filsafat yang masih
berkutat dengan nalar epistemologis, nalar yang mengejar keakuratan
representasi antara benak dan kenyataan, nalar yang mewakili bukan menyingkap.
Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Mulai dari filsuf Milesian
yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya, sampai Descartes yang
menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang
dunia. Bahkan, Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih
terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia
sebagai naluri untuk penguasaan.
Saat
nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden, kidung bait-bait puisi dalam
tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya
sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Sains membekukan
geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari
kemisteriusan. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan
kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Nalar pun sekadar kalkulasi,
bukan eksplorasi. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai
semata-mata kalkulasi, bukan pemikiran.
Kematian
nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. Nalar yang
melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran, bukan menciptakan.
Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Padahal, seperti
dikemukakan Whitehead, spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Ia
mentransendenkan semua metode. Nalar adalah naluri dasar manusia yang
senantiasa merindu pada yang tak terbatas. Ini yang membuat sebuah kemajuan
dimungkinkan.
Naluri
kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata
secara komunitarian. Saat nalar terkurung oleh kategori-kategori kultural,
jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Ia menjadi ansilla historica,
hamba sejarah. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Kesia-siaan yang dituduhkan
para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Nalar
identik dengan universalisme, kata mereka. Pertanyaannya kemudian adalah apakah
pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis.
Saya
menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia
setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. Hipotesis yang ternyata
banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Sebagian menafsirkannya sebagai
maklumat hukuman mati bagi nalar. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan
pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis saya. Tuduhan-tuduhan
itu cukup berdasar. Hanya serangan terakhir yang terdengar menggelikan. Saya
dituduh memutlakkan jalan puisi. Sungguhkah demikian?
Jelas
tergurat bahwa nalar puitis bukan puisi. Puisi bagi saya sekadar metafora bagi
kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya.
Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan, filsafat, dan teologi mengejar
kebenaran bukan kelainan. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong
sebuah pandangan dunia tertentu. Fisika, misalnya, dicela Heidegger sebagai
semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Mengapa? Karena fisika tak bisa
melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Ia hanya berfokus
menghitung-hitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus
pengucapan alternatif.
Nalar
puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Nalar puitis adalah nalar
yang selalu terjaga pada "kelainan". "Kelainan" berbeda
dengan yang transenden. Transendensi adalah modus epistemologis, sementara
"kelainan" adalah modus puitis. Di mana letak perbedaannya? Modus
epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. Tanah berjejak yang
ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang
dataran kognitif baru yang dituju. Sementara "kelainan", sebaliknya,
tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Ia semata-mata sebuah kemungkinan
baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Semesta selalu sudah menampilkan
dirinya secara kebahasaan. Yang dikejar oleh nalar puitis, bukan kebenaran
baru, melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun.
Selanjutnya,
apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin
Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai
rumah Ada, ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang saya maksud.
Namun, ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada, maka ia terjebak
dalam epistemologi. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada, melainkan membangun
rumah-rumah Ada yang baru. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat
Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari
"ke-mereka-an" (Dasman). Pengambilan jarak Dasein, yakni being in the
world, adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik.
Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis.
Matinya epistemologi
Kapan
manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan
menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Sejarah
adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran
pertanyaan nalar puitis. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita
tidak lagi bertanya. Kalaupun bertanya, maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan
komunitaris. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan
epistemik satu komunitas. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang
dirajutnya sendiri. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah.
Benarkah
demikian? Nietzsche dalam bukunya, Beyond Good and Evil, mempersoalkan klaim
universalitas yang baik dan yang jahat. Yang baik dan yang jahat, menurut
Nietzsche, adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. Ia
adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Persoalan ini
sepintas persoalan aksiologis (nilai). Namun, sesungguhnya ia adalah persoalan
epistemologis (pengetahuan). Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang
buruk adalah buatan tangan sejarah. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan
satu-satunya. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya.
Berakar
dari proyek-proyek genealoginya, Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang
klaim-klaim relativisme kaum sofis, gagasan yang mendapatkan pembenaran dari
hampir semua komentatornya. Saya sendiri akan bertanya, apakah Nietzsche sedang
mempraktikkan nalar komunitaris yang tak berpuisi? Atau, sungguhkah Nietzsche
bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal, kalau membuka
halaman demi halaman buku-bukunya, kita menemukan jarum-jarum aforisme yang
tajam menghunjam indra. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang
disahkan sejarah.
Nietzsche,
sebaliknya, justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi
moral baru. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Ikatan
yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Pengetahuan moral
yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan
Nietzsche. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah
pengetahuan moral, Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang
benar dan salah. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Melampaui
relativisme. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Nalar
puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Bergerak liar mencari
kemungkinan-kemungkinan baru. Dan, semuanya itu hanya mungkin karena dorongan
naluri akan yang lain.
Naluri
akan yang lain. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah.
Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti
semesta. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa
kejutan dan entakkan. Semua tanda tanya harus dipastikan. Kalau tidak, manusia
hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. Kondisi yang tentu saja tak
mengenakkan. Manusia lebih suka hidup dalam-menyitir Giddens-kesadaran praktis.
Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya.
Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat.
Semua
tanda tanya harus dipastikan. Satu saja lolos, tertib kosmis akan mengalami
gangguan. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan
epistemologis yang mengganggu. Manusia butuh kepastian. Seperti jejaka yang
menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Keliaran nalar pun harus
dihentikan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib.
Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Yang nyata adalah
rasional dan yang rasional adalah nyata, menurut Hegel. Alam bekerja
berdasarkan satu gramatika. Dan, gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar
yang patuh.
Jatuhnya
nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. Keberanian
nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh
kecemasan epistemologis yang berlebihan. Padahal, justru relativisme lahir dari
rahim kecemasan sedemikian. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar
lingkungan komunitarisnya, yaitu lingkungan yang memberlakukan satu aturan bagi
kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Karl
Raimund Popper, filsuf sains termasyhur, menolak bentuk komunitarianisme macam
itu. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya, Thomas Kuhn.
Bagi Popper, Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang
memacetkan daya transendensinya. Daya transendensi nalar, menurut Popper,
adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Ia mencibir metode
induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains.
Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata
logika. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta
yang bertolak belakang.
Lahirlah
nalar falsifikasi menggeser segala dogma, ideologi, atau ilusi karena ia
terbuka bagi falsifikasi. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara
kepastian, melainkan kehampiran. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Ia hanya bisa
dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Teori yang paling tahan uji
adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran.
Puitiskah
nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Berkat falsifikasi,
sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan
kemajuan. Namun, kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik.
Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Kesatuan
gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper.
Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya.
Paul Feyerabend, seorang anti-Popperian, menggugat linieritas nalar falsifikasi
Popper. Baginya, mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya
sendiri-sendiri. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Ia
mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Ia tidak tunggal, namun
seperti digagas Wittgenstein, harus dikembalikan pada permainan bahasa
masing-masing komunitas.
Kelompok
penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah
konstruksi budaya. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan
pengetahuan. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas, universalitas, dan
ketetapan. Budaya, sebaliknya, sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini
seiring alun sejarah. Mengatakan pengetahuan sebagai produk budaya sama artinya
dengan mengatakan bahwa pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Ia
berubah dan bercabang bersama sejarah.
Pergeseran
dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Bagaimana
kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan
kata lain, bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty,
Jurgen Habermas, dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati
masalah ini. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masing-masing
komunitas. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar percakapan yang
bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup
bersama.
Nalar
percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. Ia adalah prosedur bagi
masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Ia tidak
berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri, melainkan prosedur yang
sehat percakapan antargramatika. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi
ketidakterjebakannya pada gramatika, kelompok nalar percakapan memang terdengar
puitis. Namun, ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri
menyimpan masalah. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa
memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masing-masing gramatika.
Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya.
Ini
membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Nalar hanya diaksentuasikan dalam
merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. Namun,
tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Tidak digerakkan secara
lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka
lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Tuduhan
monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan.
Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer.
Kemandekan
upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Apa
mendominasi apakah. Sebuah potret semesta yang digambarkan Heidegger sebagai
perlahan-lahan dilanda kegelapan. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban.
Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Saat manusia berhadapan
dengan teka-teki yang tak terpecahkan, yang transenden didatangkan sebagai juru
selamat. Tuhan bekerja secara misterius, habis perkara.
Yang
transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Setelah nalar berhenti,
intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Yang
transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Nalar
manusia terbatas. Begitu cibir para mistikus. Namun, nalar puitis tak mengenal
horizon seperti itu. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya
senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. Pencarian yang
menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Melampaui yang benar dan
yang salah menurut sejarah. Menggeser relativisme, sekaligus senantiasa penuh
selidik terhadap universalisme-absolutisme.
Hening
Tak
satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam,
"segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon
atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu
mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo, ingat dan sadar, pada segurat
keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan
yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.
Pada
masa yang mulai melupakan apakah ini, ingat dan sadar akan "yang
hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya.
Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains, teologi, dan filsafat.
Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. Yang berlaku
semata-mata daur ulang gramatika ilmiah, teologis, atau filosofis yang mulai
menua dan membosankan. Saatnya bagi sains, teologi, dan filsafat untuk
berhening sejenak. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar
mengajukan pertanyaan. Singkat kata, belajar merangkul kembali
"kelainan" yang hilang.
Keheningan
dan kelainan berbeda dengan kesepian. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan
seribu gramatika pembuka rahasia. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak
akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. Melainkan, senantiasa bergulat
mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Para
sahabat yang melontarkan kritik pada tulisan saya, Tanah Tak Berjejak Para
Penyair, sungguh tahu bagaimana memainkan nalar secara puitis. Mereka membuka
dimensi-dimensi yang saya sendiri tak menyadarinya sebelum ini. Mereka membaca
sebuah gramatika baru dalam embrio pemikiran. Pembacaan yang membuat saya
kembali berkhidmat pada "yang lain" dan "yang hening".
6.3 Penalaran
Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa selain
sebagai dunia rekaan (bukan nyata) dan sebagai dunia refleksi, sastra
ternyata juga bisa dikatakan sebagai sebuah dusta. Sastra adalah dusta di dalam
dirinya. Dikatakan demikian, lantaran
sastra dapat menjadi 'kebenaran' melalui 'pembenaran-pembenaran' yang terjadi
secara individual.
Di antara kebenaran dan dusta itu tak ada satu pun prosedur yang
memungkinkannya menjadi 'kebenaran' atau 'dusta'
massal atau kolektif. Semua bisa terjadi dalam dunia kemungkinan, sebagaimana
semua pihak dapat menerima atau
menolaknya melalui standar pribadi yang dimilikinya.
Simpulannya, dusta dan kebenaran dalam sastra memang tak terbatas, keduanya
sedemikian rupa bias bercampur bagai
molekul yang saling melarut. Ketika sastra diminta atau dipaksa mendesakkan
dunia rekaannya pada pihak lain, ia
berhenti menjadi seni. Mungkin ia berubah menjadi slogan, propaganda, agama,
sains, atau ideologi. Dan sastra, tak
berdaya untuk itu.
Bahkan dalam bukunya yang berjudul Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Radhar
Panca Dahana menulis, bahwa jika
hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia
akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju,
atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu,
terlupakan, tak terbeli. Begitu lemahkah sastra?
Demikian kira-kira Radhar kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang kembali
membutuhkan jawaban idealistis,
mitologis, romantis atau kadang-kadang terlalu dramatis.
Seandainya pertanyaan itu tidak bergema dan bergayut sekalipun, pertanyaan atas
posisi sastra akan senantiasa ada, tak
pernah berhenti, tak pernah tuntas, dan tak pernah ada simpulan, penyelesaian,
atau batasan-batasan definitifnya. Semua
sekadar catatan bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan
dirinya sendiri, menyempurnakan
pemahaman-pemahaman atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya.
Sastra dan pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berulang dan tujuan sebenarnya
adalah untuk menemukan manusia
yang ternyata selalu hilang (dalam setiap perubahan zamannya). Semua bergulir
dalam satu pusat yang tak terhindarkan:
rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.
Dunia imajinasi yang ditata dalam karya sastra adalah semesta yang
menghimpunnya tak hanya 'kesadaran akal' namun
juga 'kesadaran batin' dan 'kesadaran badan'. Dunia empirik yang ada padanya
tak dapat dijelaskan oleh kategori
sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan takkan
pernah mampu kita jelaskan secara
menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk
laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah,
atau penyusunan biografi.
Karena itu, seorang pembaca hendaknya memiliki ancang-ancang sendiri untuk
menghadapi karya sastra, karena sekali
lagi --semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan
rekonstruksi manusia serta efek-efek lain
yang ditimbulkannya.
Dan kiranya, pemikiran tentang rekonstruksi manusia serta efek-efek yang
ditimbulkannya itu --serta gagasan menarik dari
Radhar Panca Dahana tentang kebenaran dan dusta dalam sastra-- akan menjadi
menarik apabila lebih dikaji dalam
suatu objek kajian.
Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menggelitik, bila kita
melirik kembali rekonstruksi sebuah naskah
sejarah menjadi karya sastra, misalnya --naskah Perang Bubat. Naskah sejarah
Perang Bubat merupakan satu contoh
bentuk naskah sejarah yang bisa kita lihat, telah banyak mengalami rekonstruksi
dari pengarang dalam wilayah kultur
berbeda, antara pengarang berasal dari kultur sosial Jawa dan Sunda masih
merupakan satu kajian yang tak pernah
selesai.
Naskah Perang Bubat sebagai bentuk naskah sejarah ini jelas menjadi naskah
karya sastra manakala di dalamnya telah
terjadi rekonstruksi oleh pengarang melalui wacana dialog tokoh-tokohnya yang
tidak pernah tercatat dalam sejarah. Hal
ini sebagaimana yang terjadi dalam bentuk naskah-naskah lain, semisal dalam
naskah Ken Arok - Ken Dedes-nya
Pramoedya. Namun, rekonstruksi seperti itu jelas berbeda dengan rekonstruksi
naskah yang berbau sejarah seperti
Rumah Kaca, Bumi Manusia, atau lain-lainnya yang kemudian direkonstruksi
menjadi sebuah karya sastra.
Rekonstruksi naskah Perang Bubat menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan
berbagai aspek emosi atas
pembelaan terhadap sebuah ras, kesukuan dalam dua kultur: Sunda dan Jawa. Dan
sebagaimana kita maklumi juga,
bahwa dua kubu suku ini telah mengalami 'keretakan' secara latar sosialnya
--karena persoalan yang pernah ditimbulkan
dalam Perang Bubat itu sendiri sebagai sejarah.
Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi
sebuah karya sastra itu sendiri di tengah
rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan
seorang pembaca, apakah masih
menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya
terjalin rangkaian dialog antartokohnya
sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi 'dusta' dan 'kebenaran' yang
bukan lagi bergerak dalam batas-batas
realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah
melibatkan aspek-aspek subjektivitas
pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.
Di sinilah kita mulai memahami, bahwa karya sastra bisa menjadi dusta dan
kebenaran. Di sini pula kita mulai
memahami bahwa 'dusta' yang sesungguhnya adalah 'dusta' hasil rekonstruksi
seorang pengarang dari naskah sejarah
ke karya sastra, walau sekali lagi --secara garis besar cerita-- tidak beranjak
dari kebenaran peristiwa sejarah itu sendiri.
Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah 'dusta',
manakala aspek-aspek individualisme,
bahkan --komunalisme-- telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami
bagaimana posisi 'kebenaran' naskah sebagai
sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi 'dusta' dalam naskah
sejarah itu sendiri yang telah
mengalami rekonstruksi. Sebuah 'dusta' yang sesungguhnya berada di luar
keberadaan sebuah karya sastra karena
terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu
untuk tahu keberadaan posisinya, bukan
hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal. Sebuah kajian yang
tentunya memerlukan ruang
tersendiri sebagai satu penelitian yang belum tuntas. n penulis adalah penyair
dan eseis, tinggal di bandung.
6.4
nalar
SETENGAH abad yang silam Soedjatmoko,
cendekiawan yang pernah disebut sebagai Dekan Intelektual Bebas Indonesia,
mengumumkan adanya "suatu krisis dalam kesusastraan kita". Di dalam
tulisan yang merupakan "Pengantar" untuk edisi
perdana majalah Konfrontasi, Juli-Agustus 1954, Soedjatmoko mengakui bahwa
"banyak ciptaan yang memang berjasa serta
adanya kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Akan tetapi, ciptaan-ciptaan
kesusastraan yang lebih besar masih saja
ditunggu kehadirannya."
BAHASA memang medium yang dengannya sastra menghamparkan dirinya: menggelar
kekuatannya sekaligus memamerkan
krisisnya. Jika bahasa hanya dipandang sebagai ungkapan pikiran dan perasaan
spontan manusia dengan memakai bunyi
atau aksara, maka kita memang sulit melihat adanya krisis dalam sastra kita.
Kita pun bisa dengan takzim bersepakat dengan
HB Jassin atau siapa pun yang mengatakan "Kesusastraan Indonesia Modern
Tak Ada Krisis".
Bahkan, sejak zaman Jassin menuliskan pembelaannya, kita sudah bisa membaca
sejumlah karya sastra yang memamerkan
kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Setengah abad kemudian, kelancaran
berbahasa sejumlah sastrawan muda kita kini
bahkan sudah lebih baik dari generasi Jassin. Terlepas dari "apa"
yang ingin mereka katakan, namun kemampuan
"bagaimana" mereka mengatakannya jelas menunjukkan kelancaran
berbahasa yang kian licin. Penggunaan bahasa dalam
beberapa karya itu mencapai tingkat yang tidak jauh-jauh amat dari-bahkan
hampir menyamai-kepiawaian berbahasa para
pemenang hadiah Nobel, katakan seperti penggunaan bahasa Tony Morrison, Derek
Walcott, atau JM Coetze.
PADA kulit luarnya, bahasa memang ungkapan pikiran dan perasaan manusia, tetapi
pada intinya bahasa adalah
pengorganisasian dunia: dimulai dengan pengorganisasian dunia kognitif yang
kelak bergerak ke pengorganisasian dunia
luar. Pengorganisasian dunia kognitif sudah dilakukan sejak penciptaan unsur
dasar sastra seperti metafor yang, dalam
kalimat Walter Benjamin, adalah perangkat di mana kesatuan dunia secara puitis
disajikan. Kekerasan terorganisasi atas
bahasa sehari-hari, seperti yang dipahami kaum Formalis Rusia, hanyalah salah
satu cara yang mungkin untuk
mengorganisasikan, dan mengorganisasikan ulang, dunia kognitif.
Sebagai bentuk khusus yang mengorganisasikan seluruh bidang semantik, sastra
yang benar-benar kuat dan besar adalah
sastra yang akhirnya menyeret kehidupan hanyut meniru separuh atau bahkan
mungkin seluruh sastra tersebut. Sastra seperti
ini, di mana kehidupan berpusar dan mengambil ilham darinya, tegak menjulang
dengan bayang-bayang yang melintasi abad
dan benua.
Jika bahasa dilihat sebagai pengorganisasian dunia dan sastra adalah wujud
kesadaran dramatik atas pengorganisasian
dunia itu, mungkin kita baru akan melihat krisis kita, yang bukan hanya krisis
sastra (juga bukan sekadar krisis sastra
berbahasa Indonesia). Krisis itu langsung menelanjangi diri dalam dua gejala
paling menonjol penggunaan bahasa dalam
sastra Indonesia, yang sudah sering diangkat sejumlah pengamat. Gejala pertama
diperlihatkan oleh para penyair kita yang
tampak begitu piawai menyusun puisi yang ganjil dan begitu tertatih-tatih ketika
coba menyusun esai atau prosa yang kuat.
Puisi-puisi mereka pun umumnya gelap. Dan, jika puisi-puisi itu cukup jernih,
puisi itu terasa sebagai rekaman dari indra yang
dilanda chaos.
Gejala kedua diperlihatkan oleh beberapa novelis kita yang paling menjanjikan.
Mereka menulis novel dengan bahasa yang
menari-nari. Tapi, novel ini sangat lemah dalam alur dan perwatakan. Gejala ini
juga diperlihatkan oleh film-film kita yang
gambarnya puitis, tetapi struktur ceritanya lemah. Sebagian sangat besar karya sastra
dan seni kita, yang produksinya terus
berjalan itu, memang mudah memelesetkan orang mengenang sebaris kalimat dalam
novel Magic Mountain Thomas Mann. It
was fresh-that was all. It lacked odor, it lacked content, it lacked moisture.
It went easily into the lungs and said nothing to the
soul.
Tentu saja tidak bisa dikatakan bahwa sama sekali tak ada karya seni dan
intelektual di Indonesia yang bisa mengatakan
sesuatu pada jiwa, tetapi jumlah mereka sangat sedikit dan kemunculannya pun
sangat acak, dan karena itulah disebut krisis.
Untuk sementara saya menyebut gejala luas ini sebagai dominasi nalar indra atas
nalar dunia.
DATA pertama bagi indra dan pengalaman manusia memang berada dalam keadaan yang
begitu kompleks, bahkan
kacau-balau. Sementara itu, alam yang tak bisa dipahami, betapapun mentah
pemahaman itu, sungguh bukan alam yang bisa
dihidupi. Kompleksitas data itu mengobarkan dalam benak manusia kerinduan akan
penjelasan yang sederhana, yang bisa
membantunya bertahan hidup.
Sebelum penjelasan yang sederhana itu diperoleh, manusia dan leluhur primatnya
mengandalkan kelangsungan hidup pada
indranya: pada apa yang langsung dilihat oleh matanya, pada apa yang langsung
didengar oleh telinganya, pada apa yang
langsung dirasakan oleh kulitnya. Nalar memang belum banyak digunakan, dan
kalaupun dipakai maka itu lebih berupa nalar
indra, yakni nalar yang disusun dengan mengandalkan data-data spontan indrawi.
Nalar indra adalah nalar asosiatif yang
cenderung mengaitkan sebuah tanda dengan peristiwa yang kaitan logisnya bisa
sangat lemah, atau lebih tepatnya: dasar
empiriknya sangat rapuh.
Secara linguistik, "nalar indra" merupakan oksimoron (contoh lain:
cahaya gelap), sementara "nalar dunia" adalah pleonasme
(contoh lain: cahaya terang). Sebagaimana tak ada cahaya yang benar-benar
gelap, begitu juga tak ada makhluk hidup yang tak
bernalar karena bahkan organisme bersel tunggal pun, dengan "sistem
indra"-nya yang sederhana, terbukti memiliki penalaran
sendiri yang membuatnya bisa meneruskan arus genetiknya di tengah dunianya yang
terbatas. Kegiatan indra memang tak
punya kaitan kuat dengan penalaran logis dan abstraksi kompleks. Indra
mengaitkan diri pada trauma dan prasangka yang tak
harus logis. Sementara kegiatan nalar adalah kegiatan yang dengan sendirinya
membangun struktur; dari struktur yang
sederhana ke struktur yang kian kompleks: dunia dengan dimensi ruang dan
waktunya, di mana masa silam dihuni oleh
lumbung pengetahuan dan masa depan diisi dengan abstraksi dan penyempurnaan
dunia.
Yang pasti, strategi survival yang mengandalkan indra itu terbukti berguna
terutama ketika informasi lingkungan memang
kacau-balau, peristiwa-peristiwa terjadi seakan tanpa kaitan yang jelas.
Tetapi, strategi ini hanya berguna untuk survival, bukan
untuk berbudaya. Kebudayaan muncul ketika manusia mulai membangun pemahaman
bahwa dunia pada dasarnya
terstruktur, bahwa peristiwa-peristiwa terjadi karena sejumlah kaitan. Alam,
betapapun, memang menunjukkan sejumlah
keteraturan, lewat perubahan siang dan malam, pertukaran musim, lewat kelahiran
dan kematian. Pengamatan dan ingatan
atas keteraturan itu memberi jalan pada manusia untuk "memahami"
kaitan-kaitan antarperistiwa, "membaca" tanda-tanda.
Mereka membangun teknologi sosial bernama bahasa dan mitologi untuk
mengorganisasikan pengalaman dan
menstrukturkan dunia.
JIKA pengetahuan diandaikan sebagai sistem kibernetik, maka pengetahuan dan
strategi berpikir masyarakat pramodern
adalah sistem saibernetik yang masukannya berasal dari apa yang dicerap indra.
Padahal, orang sungguh tak harus belajar
geologi, Marx, Freud atau Levi-Strauss untuk paham bahwa realitas yang spontan
tercerap oleh indra manusia, kerap berasal
dari suatu taraf yang lebih mendalam, yang tak tercerap jangkauan sempit indra.
Karena ditata melulu di atas persepsi realitas yang spontan, sistem pengetahuan
dan strategi berpikir masyarakat pramodern
perlu waktu untuk sadar bahwa konstruksi kognitif yang dihasilkan oleh strategi
berpikir itu bisa juga dimaterialkan dan
diumpankan balik, di-reentry-kan ke dalam sistem itu, suatu kegiatan kognitif
yang dalam literatur filsafat disebut refleksi dan
dalam kibernetik disebut referensi diri. Setelah bekerja ribuan tahun, ditopang
oleh suatu mekanisme nonlinier yang muncul
dalam pemikiran sejumlah genius purba, sistem pramodern bisa juga menghasilkan
sistem pengetahuan, sari pati
perenungan dunia dan manusia, yang tak gampang diremehkan.
Selain karena masukannya yang jauh lebih luas dari apa yang bisa dicerap
spontan indra manusia, pengetahuan ingeniur
mengubah dunia dengan radikal dalam waktu begitu singkat, terutama karena
kesadarannya mengumpanbalikkan dirinya ke
dalam dirinya sendiri, yang terus memberi wawasan baru ke dalam semesta
kenyataan. Referensi diri yang bertanggung jawab
terhadap pertumbuhan, atau tepatnya peledakan, pengetahuan ilmiah secara
eksponensial ini jadi sumber revolusi pemetaan
kognitif dan perangkaan rujukan kosmologis manusia.
ADALAH keperkasaan nalar dunia dan ilmu pengetahuan yang membuat dunia berubah
demikian hebat. Metafor hari kemarin
pun tanpa bisa dielakkan menjadi klise hari ini yang menuntut penciptaan
metafor-metafor baru.
Revolusi dan perubahan dunia itu, bagi sebagian orang, terhampar sebagai proses
mahadahsyat, yang dikira berada di luar
kemampuan manusia untuk membayangkan, menangkap, mengerti, dan merasakannya.
Bagi orang yang berada di pinggir,
berputar-putar hanya luar pusaran penciptaan dunia baru itu, pendek kata, bagi
mereka yang tak terlibat dengan
produksi-pengertian kunci yang dipegang Bertolt Brecht dalam perdebatannya
menghadapi George Lukacs-dunia telah
berkembang di luar batas-batas yang bisa dipahami.
Menghadapi dunia yang berlari tunggang langgang menjauh dari batas-batas
pengetahuan tradisionalnya, manusia akan
cenderung bersikap defensif atau kehilangan orientasi. Sebagian menjadi
masokhis dan menipu diri dengan cara yang patetis.
Mereka pun membangun pemikiran yang mulanya mungkin terdengar revolusioner,
tetapi akhirnya cuma layak dikuburkan,
setidaknya dibongkar ulang karena pemikiran itu telah menjadi resep bagi
primitivisasi dunia di mana manusia diminta untuk
semata-mata bergantung pada indranya.
Neil Postman, misalnya, yang pernah dikutip penyair Adi Wicaksono, mendakwahkan
perlunya suatu sikap yang cenderung
tidak hirau terhadap kepaduan dan koherensi teks akibat empasan gelombang
pasang ingar-bingar dunia tipografis yang
diledakkan oleh revolusi ilmu dan teknologi. Yang dicari justru keterpecahan,
ketercerai-beraian, fragmentasi, segregasi,
benturan-benturan acak, suatu histeria yang diam-diam menghasilkan semacam
sikap emoh struktur. Citra yang berpilin
dengan citra, gambar yang tumpah dalam buncahan dan potongan-potongan gambar,
cukuplah diterima sebagai empasan
sensasi yang menyentuh indra penglihatan, tak perlu diusut hal ihwal di
baliknya, tak penting benar apakah ada maknanya atau
sekadar nonsens.
Dicarilah apa yang disebut Roland Barthes sebagai jouissance, suatu kenikmatan
yang dihasilkan dari permainan bentuk yang
semata-mata indrawi, dangkal dan wantah, bukannya suatu plaisir yang dapat
menghasilkan semacam kenikmatan intelektual.
Suatu permainan visual untuk tujuan permainan itu sendiri. Dan, di situ tak
diperlukan koherensi dalam bentuk apa pun.
Pengejaran kenikmatan indrawi secara ekstrem ini ditopang dengan penumpulan
nalar dan pelaksanaan kekuasaan secara
arbitrer, dihadirkan dan diejek dengan kuat, misalnya dalam film Pier Paolo
Pasolini: Salo.
Seni dan pemikiran yang mengaitkan diri dengan semangat postmodern
dekonstruksionis ini dalam beberapa hal memang
layak dibongkar karena berdiri di atas sejumlah pengertian yang rapuh. Salah
satu di antara pengertian yang nyaris mencapai
tingkat iman itu adalah bahwa dunia dan kenyataan bersifat kacau-balau,
terpecah-pecah, kaotis. Keyakinan yang meluas
bahwa kenyataan bersifat kacau-balau atau arbitrer meletakkan kaum penghujat
rasio itu sejajar dengan masyarakat primitif
pra-ilmiah yang mengira bahwa bumi ini datar dan Matahari beredar mengitari
bumi. Sekalipun pengalaman spontan dan
indrawi menunjukkan bahwa kenyataan berwatak acak dan terpecah-pecah, tidak
dengan sendirinya kenyataan dan dunia
memang acak dan terpecah-pecah. Pengalaman memang bisa jadi guru yang sesat dan
menyesatkan.
REAKSI terhadap perkembangan dan perubahan dunia yang luar biasa itu, dalam
khazanah sastra Indonesia, menunjukkan
banyak hal menarik. Dalam hampir semua karya sastra Indonesia, dunia yang
dibentuk oleh sejarah dan manusia adalah
tokoh yang tak pernah hadir. Dan, kalaupun hadir, ia lebih merupakan tamu yang
tak diundang. Ia lebih sering muncul sebagai
bahan yang digunjingkan setelah sebelumnya direduksi, bahkan dimutilasi dengan
tak semena-mena. Dalam pergunjingan itu,
dunia dicurigai, disepelekan, dijauhi.
Memang ada juga karya di mana dunia, dalam hal ini Barat, malah disembah secara
membabi buta. Meskipun demikian,
dalam khazanah sastra ini, dunia tidak hadir sebagai kawan dekat yang
menghamparkan diri dengan segala kebesaran dan
kompleksitasnya, dengan segenap proses pertumbuhan dan percobaannya, yang kadang
menakjubkan kadang menggelikan,
yang memberi ruang bagi penulis dan pembaca untuk tumbuh bersama mengembangkan
dan mengkritik diri, memperpeka
indra memperkaya rohani.
Karya yang disusun dengan jarak dari dunia memang memustahilkan munculnya kerja
seni besar yang, dalam kalimat
Soedjatmoko, seolah-olah membuka mata kita secercah kepada kebenaran yang
dirasakan sebagai pengalaman langsung
tetapi tak berwujud, sebagai kesadaran serta kejadian batin, yang oleh si
pencipta seni ditangkap dan dipantulkan, seperti
cahaya Matahari ditangkap intan permata dan terbias berpancaran aneka warna
pada faset-fasetnya.
Dalam khazanah karya yang sudah terentang puluhan tahun itu, orang mudah naik
pitam mencari karya dengan penjelajahan
dan perayaan atas sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang karakter-karakter
atau tempat-tempat istimewa yang diuraikannya.
Karya yang tidak benar-benar bergulat dengan dunia, tidak memahami benar
logikanya, adalah karya yang memang
memustahilkan hadirnya sebuah pandangan dunia, pengalaman eksplorasi sejumlah
pertanyaan-pertanyaan besar tentang
arah hidup individual dan sosial, tentang sebuah sistem keyakinan, tentang
tradisi-tradisi masa silam dan
kemungkinan-kemungkinan hari depan-tentang hal-hal besar yang dengannya kita
mendefinisikan kebudayaan.
Yang gampang ditemukan adalah karya-karya di mana para sastrawan, mengutip satu
baris Wing Karjo, ikut menuang racun
berwarna-warni, dalam dunia yang menurut pengalaman indrawi mereka: karut-marut
dan serba tak pasti. Dan, warna racun
yang paling dominan adalah ungu, dengan berbagai gradasinya: psikologisme
dengan berbagai kepekatannya. Mereka ini
sibuk menularkan kesadaran palsu bahwa dunia memang tak terkontrol dan mustahil
dipahami, bahwa dunia memang
sebagaimana yang melulu dialami secara indrawi, bahwa upaya untuk membangun
narasi besar, karena sejumlah
kegagalannya, maka akan seterusnya ditakdirkan gagal.
RACUN warna-warni itu dituang juga oleh para sastrawan yang paling hebat.
Goenawan Mohamad jelas adalah penyair yang
termasuk paling berjasa dalam memperkaya bahasa Indonesia. Yang menarik-atau
justru tidak menarik-dari Goenawan
adalah bahwa bahasa yang ia kembangkan adalah bahasa yang dilandasi oleh
ketidaknyamanan terhadap dunia. Ia pernah
menyebut sejarah yang hadir sebagai sesuatu yang brutal, kebudayaan sebagai
trauma. Dibantu oleh sejumlah pemikiran
postmodern, Goenawan pun memarodikan nalar dan ilmu, menghadirkannya sebagai
sesuatu yang wataknya tak akan
berubah dan akan selalu memiskinkan dunia.
Membuat parodi tentang nalar dan ilmu, lalu melancarkan kritik terhadapnya,
memang tidak dengan sendirinya mencerminkan
pengetahuan dan kritik yang memadai terhadap nalar dan ilmu. Terbukti bahwa
kritik nalar dan ilmu terhadap dirinya jauh lebih
revolusioner dan tentu saja lebih produktif dibandingkan dengan kritik yang
datang dari luar.
Kecurigaan Goenawan terhadap nalar dan ilmu, yang rupanya punya banyak pengekor
itu, tampil bersama dengan kecurigaan
terhadap bahasa ilmu dan teknologi, yang mutlak membutuhkan konsep yang jelas,
makna yang taksa, arti yang tak terbantah;
bahasa yang dikira sebagai bahaya maut bagi kehidupan puisi Indonesia.
Ketaksukaan terhadap bahasa dengan makna taksa itu, bahasa matematika,
misalnya, sudah muncul antara lain lewat
Heidegger yang mempersoalkan calculability and certitude of representation.
Matematika memang memberi ilmu sebuah
bahasa yang transparan dan telah kehilangan seluruh rahasia ontologisnya
sehingga memungkinkan munculnya makna yang
tunggal dan stabil. Sebagai bahasa, matematika telah dimurnikan dari sifat acak
absolut bahasa sehari-hari, sebelum adanya
figurasi dan makna, atau dengan figurasi dan makna yang terus berubah bersama
mobilitas tanda linguistik.
Di dunia di mana kelimpah-ruahan dan ambiguitas makna disembah, matematika
memang akan berhadapan diametral
dengan puisi. Dalam matematika, tanda bahasa boleh berubah-ubah dan beraneka,
namun artinya sudah tertetap dan tertentu.
Dalam puisi, ada banyak arti meskipun tanda-tandanya tertetap dan tertentu.
Sajak, meminjam Octavio Paz, adalah suatu
totalitas pekat-kental, dan perubahan paling kecil pun sudah mengubah bukan
saja arti, tetapi juga keseluruhan komposisi.
Dan puisi, seperti ditulis Goenawan Mohamad, tak cuma kata, tak cuma kalimat,
yang menuntut kita melotot. Ia juga nada,
bunyi, bahkan kebisuan, juga elemen ketidaksadaran, atau jika kita setuju
dengan Freud, ungkapan yang terbentuk dari
dorongan-dorongan naluri. Di sini puisi niscaya akan tampil sebagai pahlawan
dengan kualitas ilahiah memperkaya dan
bahkan mentransendenkan bahasa, sedang matematika akan tampak sebagai penjahat
dengan kemampuan satu-satunya
memiskinkan dan membunuh bahasa, dengan menyedot darah kelimpah-ruahan dan
ambiguitas makna darinya.
Akan tetapi, jika sebuah bangunan matematis dihadapi dalam suasana Stimmung ala
Nietzsche, maka bangunan matematis
yang memang meniatkan membebaskan diri dari infeksi sejarah, mengosongkan diri
dari fungsi ruang dan waktu itu, juga
sanggup untuk membuat orang mendengar gagasan di belakang simbol matematis itu,
intuisi di belakang gagasan itu, dan
nalar di belakang intuisi itu: Nalar yang berbicara pada manusia dan dunia
lewat formulasi tipografis matematikawan.
Stimmung jelas akan mengubah keindahan matematis-yang dalam pandangan Bertrand
Russell hanyalah keindahan yang
dingin dan sederhana yang tak memancing reaksi dari hakikat manusia yang lemah,
tanpa jeratan yang memukau-menjadi
keindahan yang hampir setingkat penyingkapan kekuatan rahasia logika di hadapan
kenyataan.
Dengan kalimat lain, sebuah rumusan matematis bisa membawa efek
estetik-spiritual yang sama dengan sebuah taman pasir
dan karang. Efek estetik dan spiritual itu hanya sebagian dari sejumlah
kekuatan yang dimiliki oleh matematika, kekuatan yang
menjadikan matematika bahasa yang mampu memberi ilmu landasan untuk mengontrol
dunia fisik, untuk mengatasi
kenyataan.
PRAMOEDYA Ananta Toer tampaknya memang novelis Indonesia paling menonjol yang
menyambut hangat dan tegas
kehadiran ilmu dan teknologi; satu-satunya yang dengan sadar menyatakan bahwa
karangannya disusun untuk menjadi
sebuah tesis. Genre sastra yang ia pilih memang lebih memungkinkan ia menata
sebuah pandangan dunia. Kesadaran
bahwa karya adalah sebuah tesis, di samping pergulatan nyata dengan dunia yang
ditulisnya, itulah agaknya sumber
kekuatannya yang memberi sejumlah gravitasi pada tulisan-tulisannya yang
terbaik yang lebih hemat kata.
Andreas Teeuw pernah menyebut bahwa Pram adalah penulis yang lahir sekali dalam
satu abad, setidaknya satu generasi.
Saya sungguh-sungguh berharap semoga Pram benar-benar menjadi penulis terakhir
Indonesia yang membiarkan karyanya
dicemari oleh sejenis Manicheanisme, sebuah kosmologi kuno yang keterlaluan
sederhananya, yang membagi dunia dalam
dua kutub yang tak terdamaikan. Semoga tak ada lagi sastrawan Indonesia yang
sadar atau tidak, merusak karyanya dengan
sejumlah esensialisasi, yang mereduksi sekaligus mengasosiasikan seseorang atau
satu kaum pada sejumlah isme yang
mustahil orang-orang seperti Pram berdamai dengannya.
Biarlah proyek pengungkapan sejarah Pram menjadi salah satu bahan mentah para
penulis yang mencoba menghadirkan
ulang Indonesia dan dunia di masa-masa yang silam. Bahan mentah yang menanti
sentuhan dan ilham yang memungkinkan
penulis seperti Walter Benjamin bergerak membangun ulang ibu kota dunia abad
ke-19, Paris, dengan cara yang konon
sebanding dengan metode fisi nuklir yang melepaskan energi yang terpenjara
dalam struktur atom. Cara itu dimaksudkan
untuk membebaskan energi sejarah yang dahsyat yang tidur mendekam di bawah
berbagai narasi sejarah yang klasik.
Adapun mengenai karya sastra yang sudah ada, dan cita-cita literer yang belum
tercapai, biarlah jadi bahan bagi upaya
memadukan segenap kekuatan estetik yang terserak dan kenyataan yang terpecah-pecah,
untuk membangkitkan sekaligus
menantang dunia dengan alegori dan ironi, seperti reaksi fusi yang melebur
atom-atom sederhana, untuk menghasilkan atom
baru dan ledakan energi yang memekarkan bintang-bintang dan Matahari.
Sastra dan seni besar seperti itu tentu saja masih butuh indra. Tubuh dan indra
adalah instrumen yang paling peka untuk
mengecek kenyataan, indikator akan kekonkretan. Tetapi, karya seperti itu juga
butuh sesuatu yang sangat intelektual, yang
setara dengan upaya monoteisme Ibrahim mengajukan waktu linier yang berurutan
dan tak berulang, sebagai kritik terhadap
waktu siklis dunia Yunani-Romawi Kuno dan segenap masyarakat penganut
politeisme. Dalam pandangan dunia monoteistis,
di atas waktu linier historis yang terbentang sejak kejatuhan Adam sampai ke
Hari Pembalasan, masih ada waktu magis lain
yang tak mengenal perubahan, yakni kekekalan.
BAB VII
HERMENEUTIK
7.1 Definisi
Hermenetika
Hermeneutika, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah hermeneutics,
berasal dari kata Yunani hermeneune dan hermeneia yang
masing-masing berarti “menafsirkan” dan “penafsiran”.[1][1] Istilah hermeneutika pertama kali
ditemui dalam karya Plato (429-347 SM), Politikos, Epinomis, Definitione, dan
Timeus. Lebih dari itu, sebagai sebuah terminologi, hermeneutika juga
bermuatan pandangan hidup (worldview) dari para penggagasnya. Sehingga
bisa dikatakan bahwa hermeneutika tidak bebas nilai. Istilah ini bukan
merupakan sebuah istilah yang netral.[2][2][1]Definisi Hermenetika
Semula hermenutika berkembang di kalangan gereja
dan dikenal sebagai gerakan eksegesis (penafsiran teks-teks agama) dan kemudian
berkembang menjadi “filsafat penafsiran” kehidupan sosial.[1][3] Kemunculan hermeneutika dipicu oleh
persoalan-persoalan yang terjadi dalam penafsiran Bible. Awalnya bermula saat
para reformis menolak otoritas penafsiran Bible yang berada dalam genggaman
gereja. Menurut Martin Luther (1483-1546 M), bukan gereja dan bukan Paus yang
dapat menentukan makna kitab suci, tetapi kitab suci sendiri yang menjadi
satu-satunya sumber final bagi kaum Kristen. Menurut Martin Luther , Bible
harus menjadi penafsir bagi Bible itu sendiri. Dia menyatakan, “This means
that [Scripture] itself by itself is the most unequivocal, the most accessible
[facilima], the most testing, judging, and illuminating all things,…”[1][4] Pernyataan
tegas Martin Luther yang menggugat otoritas gereja dalam memonopoli penafsiran
Bible, berkembang luas dan menjadi sebuah prinsip Sola Scriptura (cukup
kitab suci saja, tak perlu ‘tradisi’).[1][5] Berdasarkan
prinsip Sola Scriptura, dibangunlah metode penafsiran bernama
hermeneutika. Definisi Hermenetika
Seorang Protestan, F.D.E. Schleiermacherlah yang
bertanggung jawab membawa hermeneutika dari ruang biblical studies
(biblische Hermeneutik) atau teknik interpretasi kitab suci ke ruang
lingkup filsafat (hermenutika umum), sehingga apa saja yang berbentuk teks bisa
menjadi objek hermeneutika.[1][6] Bagi Schleiermacher, tidak ada perbedaan antara
tradisi hermeneutika filologis yang berkutat dengan teks-teks dari
Yunani-Romawi dan hermeneutika teologis yang berkutat dengan teks-teks kitab
suci.[1][7] Dalam
sebuah tesis Ph.D. dinyatakan bahwa :Definisi Hermenetika
Oleh karena
transformasi yang dilakukan olehnya, maka Schleiermacher dianggap sebagai bapak
hermeneutika modern (the father of modern hermeneutics). Definisi
Hermenetika
Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha para
pendahulunya semisal Semler dan Ernesti yang berupaya “membebaskan tafsir dari
dogma”.[1][9] Lebih dari
itu, ia juga mengajukan perlunya melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif
hermeneutika umum ini, “semua teks harus diperlakukan sama, “tidak ada yang
perlu diistimewakan, tak peduli apakah itu kitab suci (Bible) ataupun teks
hasil karangan manusia biasa.[1][10]
The New Encyclopedia Brittanica menulis,
bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi
Bible (the study of general principle of biblical interpretation). Tujuan
dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.[1][11]
Menurut Adian Husaini, hermeneutika bukan sekedar
tafsir, melainkan satu “metode tafsir” tersendiri atau satu filsafat tentang
penafsiran, yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir Al-Quran. Di kalangan
Kristen, saat ini, penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bible sudah
sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan (Husaini, 2007 : 8). Dari
definisi di atas jelas, bahwa penggunaan hermeneutika dalam penafsiran
Al-Qur’an memang tidak terlepas dari tradisi Kristen. Celakanya, tradisi ini
digunakan oleh para hermeneut (pengaplikasi hermeneutika untuk Al-Qur’an) untuk
melakukan dekonstruksi[1][12] terhadap al-Qur’an dan metode penafsirannya.
Secara epistemis, terbukti bahwa kelahiran tafsir
hermeneutika tidak bisa dilepaskan dari sejarah Yahudi dan Kristen, ketika
mereka dihadapkan pada pemalsuan kitab suci, dan monopoli penafsiran kitab suci
oleh gereja. Bahkan yang menjadi pemicu pemisahan agama kristen menjadi dua
aliran, protestan dan katholik adalah sebab perbedaan penafsiran Bible yang
menggunakan metode hermeneutika.
Salah seorang yang pertama kali memperkenalkan
hermeneutika dalam penafsiran Alquran adalah Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika
sastra kritis) yang kemudian menyeru kepada umat Islam agar menafsirkan ulang
Alquran agar sesuai dengan tuntutan zaman, akhirnya dia kemudian memperkenalkan
hermeneutika, tapi sayangnya penafsiran yang ia bawa dinilai menyimpang dan
tidak sesuai dengan ajaran Islam, bahkan oleh sebahagian ulama ia dianggap
kafir.
Setelah itu banyak lagi tokoh-tokoh yang mengikuti
jejak langkah beliau, sebut saja Hassan Hanafi (hermeneutika-fenomenologi),
Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman
(hermeneutika double movement), Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Amina A. Wadud
(hermeneutika gender), Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik fiqih
perempuan).
7.2
Pengertian Bahasa dan Hermeneutika
Bahasa adalah
sistem lambang bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang
bersifat sewenang-wenang dan konvesional yang dipakai sebagai alat komunikasi
untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[2]
Bahasa sangat penting dalam usaha berkomunikasi antar pribadi. Bahasa yang
mengandung pikiran dapat menjamin terbukanya otak manusia untuk menyadari dunia
dan dirinya sendiri.[3]
Bahasa menjadikan hubungan antar pribadi dapat saling mengenal dan memahami
realitas sekitarnya. Manusia menggunakan bahasa dengan baik agar suatu hal yang
hendak disampaikannya dapat dipahami dengan baik oleh pendengar. Kesesuaian
komunikasi terletak pada penggunaan bahasa yang baik dan benar. Kecenderungan
ini membuat bahasa menjadi hal yang urgen dibicarakan seiring dengan
perkembangan budaya dan pemikiran manusia sendiri.
Hermeneutika
berasal dari bahasa Yunani hermeneuo yang berarti mengungkapkan
pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata atau hermeneuein yang berarti
menafsirkan dan hermeneia yang berarti penafsiran. Kata Yunani tersebut
berhubungan dengan dewa Hermes, dewa dalam mitos orang Yunani yang bertugas
untuk menyampaikan berita dari para dewa di gunung Olympus kepada manusia. Sosok
Hermes digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai sayap. Dalam bahasa Latin,
sosok ini lebih dikenal dengan nama Mercurius. Dewa ini adalah dewa ilmiah,
penemuan, kefasihan bicara, seni tulis dan kesenian. Hermes harus mampu
menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan
dalam pendengarnya.[4]
2.2
Bahasa dan Hermeneutika menurut Hans-Georg Gadamer
2.2.2
Hubungan Bahasa dan Hermeneutika
Bahasa adalah hal yang paling hakiki dalam kehidupan
ini yang membantu manusia menemukan dirinya dalam dunia yang terus
berubah ini. Bahasa tidak boleh dipikirkan sebagai hal yang mengalami
perubahan. Bahasa harus dipikirkan dan dipahami sebagai sesuatu yang memiliki
ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya.[6]
Manusia menggunakan bahasa untuk sebuah tujuan dan
arah yang hendak dicapai. Manusia yang memakai bahasa menyadari penggunaan
bahasanya baik bahasa ibu maupun bahasa umum. Bahasa mengartikan sesuatu lewat
kata-kata yang bisa dipahami dan dimengerti dengan baik. Manusia menangkap arti
dan makna kata-kata dengan tepat sekalipun baru pertama kali dilakukannya.
Manusia pun memiliki kemampuan untuk mencampurkan gaya-gaya bahasa yang berbeda
satu sama lain.
Bahasa berarti
memahami. Menurut Gadamer, posisi sentral bahasa dalam hermeneutika ada yang
dapat dipahami dengan bahasa.[7]
Pemahaman ini berarti mengerti peristiwa historis
yang mengandalkan pemahaman yang mempertimbangkan aspek waktu, masa lalu dan
masa sekarang. Pemahaman juga berarti penafsiran. Ia mengatakan bahwa pemahaman
merupakan proses holistik yang terjadi dalam suatu siklus hermeneutik antara
bagian-bagian teks dan pandangan manusia dalam seluruh dimensi personal,
historis dan sosial.[8]
Penafsiran menandakan adanya sebuah pemahaman baru yang bisa dilakukan agar
sesuatu yang sebelumnya diketahui oleh subjek. Hal ini pula berdampak pada cara
manusia memandang apa yang sebelumnya sudah manusia ketahui.
Setiap bahasa mempunyai prioritas pada pemahaman.
Pemahaman adalah sebuah proses bahasa.[9]
Memahami berarti menginterpretasikan sesuatu.
Manusia berusaha memahami objek dan membentuk pengertian-pengertian tertentu
terhadap objek tersebut. Gadamer menegaskan interpretasi adalah pencipataan
kembali.[10]
Memahami adalah menafsirkan pengertian-pengertian yang terangkum dalam
konsep-konsep baru. Dalam hal ini, adanya pertemuan dua substansi, antara objek
dan subjek. Bahasa memahami adalah mediator atau perantara untuk menjembatani
dua substansi tersebut. Memahami sesuatu hanya mungkin terjadi apabila subjek
yang mengenal dibedakan dari objek yang dipahami.
Keberadaan
hermeneutika dalam bahasa merupakan awal dari pemahaman. Hermeneutika sebagai
sebuah sistem baru muncul jauh setelah ia dipratekkan dalam filologi dan
studi-studi kitab suci.[11]
Teks-teks yang ada perlu ditafsir karena tidak jelas
bila karya dibaca dan dipahami dalam waktu yang singkat. Untuk dapat memahami
teks, seseorang hermeneutik atau penafsir selalu memahami realitas dengan titik
tolak sekarang yang sesuai dengan data historis teks-teks suci tersebut. Selain
itu, para penafsir kitab suci mencoba masuk dalam teks asli agar memahami
dengan sungguh-sungguh yang sesuai dengan tujuan dan maksud penulisannya. Jadi
hermeneutika merupakan suatu yang universal, bukan hanya sekedar metode dalam
memahami sesuatu dalam pemahaman manusia.[12]
III.
Peran Bahasa Hermeneutika terhadap Pemahaman Manusia Menurut Hans-Georg Gadamer
Penafsiran Kitab-kitab Suci dan Tradisi
Tradisi berarti
adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam
masyarakat.[13]
Hakikat tradisi menyangkut proses pewarisan isi materi yang diwariskan dan
memerlukan penafsiran agar maknanya tidak hilang. Tradisi mengandaikan adanya
penerusan yang terjadi dari generasi-generasi berikutnya. Tradisi terjadi dalam
hal tertentu misalnya kehidupan religius yang sangat dihormati oleh masyarakat.
Tradisi pun mengambil bagian penting dalam pengalaman dan pengetahuan manusia.
Pengetahuan manusia menjadi amat penting tatkala mampu mengembangkan dan
mempertahankan tradisi agar sesuai dengan tradisi aslinya. Manusia dapat
mengembangkan tradisi asalkan sesuai dengan aslinya.
Hermeneutika
Alkitab adalah suatu usaha untuk menjelaskan, menginterpretasikan dan
menerjemahkan isi teks. Kitab suci perlu ditafsir agar dapat dipahami umat.
Bahasa membantu manusia memahami Kitab Suci. Kegiatan pemahaman dan tradisi
dijembatani oleh tradisi yang sama. Manusia berusaha mendekati makna dan isi
teks-teks suci karena teks tersebut patut dikenal dan dipahami. Teks-teks suci
akan menyingkapkan maknanya jika subjek memiliki harapan tertentu dari teks
tersebut. Subjek (manusia) akan berusaha untuk mengetahui teks yang dimulai
dari tradisi (pengalaman) yang mengutamakan kekuatan arti dan maknanya. Tradisi
membantu manusia untuk lebih jauh mencari objek yang hendak dikenal.
Tradisi
membentuk dan menentukan gambaran manusia tentang sesuatu. Tradisi membawa
teori atau pikiran yang memungkinkan manusia memahami teks sesuai dengan yang
diketahuinya. Dalam hubungannya dengan tindakan religius, tradisi berisi
pemahaman atau pengalaman-pengalaman historis yang diungkapkan dalam teks-teks
suci. Manusia memahami sesuatu karena ada tradisi yang menentukan prasangka
awal. Namun tradisi tidak sepenuhnya menentukan pemahaman manusia. Ia hanya
membantu manusia. Manusia sendiri yang menentukan pemikiran dan pandangannya
sendiri. Hal ini mengakibatkan adanya pembenturan dan perbedaan antara tradisi
dan pemahaman manusia.
7.3
jenis-jenis hermeneutika
Adapun hermeneutika macam-macam hermeneutika itu ada 3
yaitu:
1) Hermeneutika
teoritis ( epistimologi ) yang mana hermeneutika ini mencari makna atau
pemahaman yang benar. Maksudnya adalah makna yang diinginkan olah penggagas
teks tersebut. ( makna yang obyektif atau makna yang valid menurut pengarang
atau penggagas teks ). Berkaitan dengan hermeneuitika ini Schleiermacher
melakukan ini denag dua pendekatan yaitu pendekatan linguistic ( dari sisi
bahasa ) yaitu dengan cara analisis teks secara langsung. Dan pendekatan
psikologi yaitu mengarah pada unsur psikologis yang obyektif sang penggagas (
harus mengetahui psikologis sang penggagas teks ) mengandaikan seorang penafsir
atau pembacanya itu harus menyamakan posisinya dengan dengan penggagasnya untuk
mencapai makna yang obyektif,dengan pendekatan psikologis menyatakan bahwa
penafsiran dan pemahaman adalah mengalami kembali proses-proses mental dari
pengarang teks atau reexperiencing the mental prosesses of the teks author. Pendapat
senada juga di setujui oleh Dilthey dengan pendekatan histori menyatakan
bahwa makna sebagai produk dari aktifitas penafsiran bukan dityentukan oleh
subjek yang transcendental tetapi lahir dari realitas hidup yang menyejarah.
Dilthey juga yang diinginkan adalah makna yang obyektif dari ekspresi sejarah
munculnya teks. Dengan demikian maka teks itu sebetulnya merupakan representasi
dari kondisi historikalitas penulis atau pengarang teks. Kemudian dilanjutkan
oleh Emilio Betti yag menyatukan pendekatan-pendekatannya antara Schleiwrmacher
dan Delthey menjadi asatu yaitu pendekatan linguistic, pendekatan psikologis
dan pendekatan historis yang menghasilkan makna yang obyekfif pula.
2) Hermeneutika filsafat ( ontotlogi ),
proses pemahaman itu atau pra pemahaman yaitu pertemuan antar pembaca dan teks.
Hermeneutrika fifosofis berpendapat dengan tegas bahwa penafsir atau pembaca
telah memiliki prasangka atau pra pemahaman atas teks yang dihadapi sehingga
tidak mungkin untuk menghasilkan makna yang obyektif atau makna yang sesuai
dengan penggagas teks. Hermeneutika tidak bertujuan untuk memeperoleh makna
yang obyektif sebagaimana teori hermeneutika melainkan pada pengungkapan
mengenai dassein manusia dalam temporalitas dan historikalitasnya.
Implikasinya konsep mengenai apa yang yang terlibat dalam penafsiran pada
akhirnya bergeser dari reproduksi sebuah teks yang sudah ada sebelumnya menjadi
partisipasi dalam komunikasi yang sedang berlangsung antara masa lalu dan masa
kini. Istilah lain bahwa jika teorihermeneutika bertujuan untuk memproduksi
makna sebagaimana makna awal, yaitu makna yang diinginkan penulis atau
penggagas teks, maka filsafat hermeneutika bertujuan memproduksi makna yang
sama sekali baru. Tokoh yang mendukung aliran ini adalah Heidegger dan Gadamer.
Herdegger lebih ddahulu membuka jalan dengan menggeser. Konsep hermeneuitika
ini dari wilayah metodologis-epistimologis ke wilayah ontologism atau
istilah lain bahwa hermeneutika adalah bukan a way of knowing tetapi
a mode of being. Dan kemudian Gadamer berjalan melewati jalan
tersebut denagn menyatakan bahwa penafsiran adalah peleburan horizon-horizon ( fusion
of horizon ) yaitu horizon penulis atau pengarang dan penafsir atau
pembaca, masa lalu dan masa kini. Dengan demikian makna teks sebagai produk
aktifitas penafsiran pasti akan melampaui penulis atau pengarang teks itu
sendiri.
3) Hermeneutika kritis ( mengungkap
kepentingan / kepentinagn penggagas ) karena dalam hermeneutika ini teks
dianggap medium mengusai ( curiga ). Kalau dilihat secara umum, sebutan
kritis di sini adalah penaksiran atu hubungan-hubungan yang telah ada pada
pandangan standar, yang berasal dari pengetahuan mengenai sesuatu yang lebih
baik, yang telah ada sebagai potensi atau tendensi di masa kin. Sedangkan
secara spesifik, istilah hermeneutika kritis ini menunjuk kepada adanya sebuah
relasi dengan teori kritis madzab Frankfurt. Dikatakan hermeneutika kritis
karena sedut pandangnya yang mengkritik standar konsep-konsep penafsiran yang
ada pada sebelumnya, yaitu hermeneutika teoritis dan hermeneutika filisofis.
Kedua hermeneutika yang mempunyai sudut pandang yang berbeda ternyata sama-sama
mempunyai sikap setiap terhadap teks, artinya sama-sama berusaha menjamin
kebenaran makna teks. Ini yang kemudian menjadi lading hermeneutika kritik,
yang justru lebih cenderung mencurigai teks yang diasumsikan sebagai tempat
persembunyian kesadaran-kesadaran palsu. Hermeneutika kritis lebih cenderung
pada penyelidikan dengan membuka selubunh-selubung penyebab adanya distorsi
dalam pemahaman dan komunikasi yang berlangsung dalam interaksi kehidupan
sehari-hari. Adapun tokoh yang setuju dengan sudut pandang ini adalah Habermas.
Ia lalu mempertimbangkan factor-faktor di luar teks yang dianggap
membantu mengkonstitusikan konteks teks.
7.4 HERMENEUTIK DAN SASTRA
Hermenetik menurut pandangan kritik sastra ialah Sebuah metode untuk
memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi penelaahan teks karya
sastra. Hermenetik cocok untuk membaca karya sastra karena dalam Kajian sastra,
apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi
(penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan
akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpreatasi dan
dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra–terutama dalam prosesnya–pasti
melibatkan peranan konsep hermeneutik. Oleh karena itu, hermeneutik menjadi hal
yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutik perlu
diperbincangkan secara komprehensif guna memperleh pemahaman yang memadai.[3][11]
Kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni
interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada
awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus
diinterpreatasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra--terutama dalam
prosesnya--pasti melibatkan peranan konsep hermeneutik. Oleh karena itu,
hermeneutik menjadi hal yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar
itulah hermeneutik perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperleh
pemahaman yang memadai.
Dalam studi sastra ada tiga cabang, yaitu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah
sastra. Teori sastra adalah kaidah-kaidah untuk diterapkan dalam analisiskarya
sastra. Kritik sastra adalah penerapan kaidah-kaidah tertentu dalam
analisiskarya sastra. Sejarah sastra adalah sejarah perkembangan sastra. Tiga
cabangtersebut saling terkait dan semuanya bersumber pada sastra, khususnya
karya sastra sendiri.
Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa interpretasi dan
pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan
karya sastra, tetapi yang mampu “menembus kedalaman makna” yang terkandung di
dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti memiliki wawasan bahasa,
sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam. Berhasil-tidaknya interpreter
untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada
kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja
dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung
merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif
yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman
hermeneutik dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.
Menurut Gerhard Ebeling yang ditulis Palmer, bahwa kata hermeneutic sendiri
memiliki tiga bentuk penggunaan, yaitu: 1) menyampaikan; to say; to express; to assert, 2) menjelaskan; to explain, 3) menerjemahkan; to
translate. Sedangkan ketiga aspek dari bentuk penggunaan kata hermeneuein
sebenarnya dapatlah diwakilkan di dalam satu kata kerja bahasa Inggris: to interpret (interpretasi). Namun
meskipun demikian, ketiga bentuk penggunaan kata interpretasi secara
sendiri-sendiri membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi
interpretasi. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa interpretasi dapat mengacu
kepada tiga hal yang berbeda: penyampaian verbal, penjelasan yang masuk akal,
dan penerjemahan. Tujuan dari interpretasi sendiri adalah membuat sesuatu yang
kabur, jauh, dan gelap maknanya menjadi sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat
dipahami.[4][12]
Hermeneutik yang berkembang dalam interpretasi sastra sangat berkait dengan
perkembangan pemikiran hermeneutik, terutama dalam sejarah filsafat dan teologi
karena pemikiran hermeneutik mula-mula muncul dalam dua bidang tersebut,
sebagaimana dikemukakan. Untuk memahami hermeneutik dalam interpretasi sastra,
memang diperlukan pemahaman sejarah hermeneutik, terutama megenai tiga varian
hermeneutik seperti yang dikemukakan Lefevere (hermeneutik tradisional,
dialektik, dan ontologis). Yang jelas, dengan pemahaman tiga varian hermeneutik
tersebut, niscaya akan lebih memungkinkan adanya pemahaman yang memadai tentang
hermeneutik dalam sastra.
Di dalam interpretasi Bible ada ketidaksetujuan mengenai pemakaian metode
hermeneutik. Namun sebagaimana kemudian cukup baik diulas oleh Herman C. Hanko,
bahwa metode hermeneutik tetap diperlukan di dalam interpretasi Bible namun
dengan catatan bahwa Bible meskipun ditulis oleh manusia tetap merupakan sebuah
teks yang diilhami oleh wahyu Tuhan. Bible sendiri tidak mungkin tidak adalah
bentuk refleksi dari bahasa dan budaya lokal di mana teks Bible tersebut diproduksi
dan tidak bisa dipungkiri bahwa gaya tulis dari penulis-penulis yang
berkontribusi di dalam Bible turut mempengaruhi bentuk rupa Bible sebagaimana
diketahui oleh pengkaji Bible bahwa Bible tidak ditulis oleh satu orang dan
juga tidak disusun dari perode waktu yang sama.[5][13]
Pada mulanya hermeneutik muncul sebagai teori interpretasi teks Bible,
kemudian meluas ke ranah lain sebagai metodologi filologi, ilmu pemahaman
linguistik, pondasi metodologis geisteswissenschaften (ilmu humaniora),
fenomenologi eksistensi, kemudian sistem interpretasi secara luas apapun
bentuknya.[6][14]
Pada interpretasi Bible, keadaan awal mula diperlukannya hermeneutik sebab
Bible pada saat itu mengalami masalah alih bahasa manakala penyebaran Kristen
di masa awal begitu cepat terjadi sedangkan pengalihbahasaan butuh waktu yang
tidak sebentar. Pengalihbahasaan yang tanpa kontrol tersebut membuat muncul
berbagai versi Bible yang berselisih atau terkorup karena beberapa alih bahasa
dikerjakan agar ritual dan pengajaran dapat pas dengan budaya lokal. Keadaan
inilah yang membuat baru pada abad ke-empat (382 M), Damasus I memerintahkan
Santo Jerome untuk menstandarisasi alih bahasa Bible yang beredar di masyarakat
pada masa itu ke dalam bahasa Latin, memberikan tambahan tulisan-tulisan prolog
di dalam skriptur-skriptur tersebut, mengadakan revisi interpretatif terhadap
skriptur gospel, dan kemudian membundelkan skriptur-skriptur yang
bermacam-macam ke dalam satu jilid. Versi inilah yang kemudian disebut sebagai
The Vulgate, dianggap sebagai bentuk alih bahasa resmi dari Bible dan juga
menjadi Bible kanon yang menggantikan berbagai macam versi Bible yang pada
waktu itu beredar di masyarakat Kristen.[7][15]
Selama ini, hermeneutik merupakan salah satu model pamahaman yang paling
representatif dalam studi sastra, karena hakikat studi sastra itu sendiri
sebenarnya tidak dari interpretasi teks sastra berdasar pemahaman yang
mendalam. Namun, sebagaimana dikatakan Lefevere, hermeneutik tidak mempunyai
status khusus dan bukan merupakan model pemahaman yang secara khusus begitu
saja diterapkan dalam sastra, karena sastra merupakan objektivitas jiwa
manusia.[8][16] Beranjak dari
apa yang dikatakan Lefevere jelaslah bahwa sesungguhnya diperlukan pengkhususan
jika hermeneutik mau diterapkan dalam sastra, mengingat objek studi sastra itu
adalah karya estetik.
Dalam perkembangan teoriteori sastra kontemporer juga terlihat bahwa ada
kecenderungan yang kuat untuk meletakkan pentingnya peran subjek pembaca
(audience) dalam menginterpretasi makna teks. Kecenderungan itu sangat kuat
tampak pada hermeneutik ontologis yang dikembangkan oleh Gadamer, yang
pemahamannya didasarkan pada basis filsafat fenomenologi Heidegger, Valdes
menyebut hal ini sebagai hermeneutik fenomenologi, dan terkait dengan nama-nama
tokoh Heidegger, Gadamer, dan Ricoeur.[9][17]
Untuk itu, jika kita menerima hermeneutik sebagai sebuah teori interpretasi
reflektif, hermenetuika fenomenologis merupakan sebuah teori interpretasi
reflektif yang didasarkan pada perkiraan filosofis fenomenologis. Dasar dari
hermeneutik fenomenologis adalah mempertanyakan hubungan subjek-objek dan dari
pertanyaan inilah dapat diamati bahwa ide dari objektivitas perkiraan merupakan
sebuah hubungan yang mencakup objek yang tersembunyi. Hubungan ini bersifat
mendasar dan fundamental (being-in-the-world).[10][18]
Dalam hubungan tersebut, perlu pula disebut seorang tokoh bernama Paul
Rocoeur. Ia dalah seorang tokoh setelah Gadamer yang dalam perkembangan
mutakhir banyak mengembangkan hermeneutik dalam bidang sastra dan meneruskan
pemikiran filosofi fenomenologis. Menariknya, dalam hermeneutik fenomenologis,
ia menyatakan bahwa setiap pertanyaan yang dipertanyakan yang berkenaan dengan
teks yang akan diinterpretasi adalah sebuah pertanyaan tentang arti dan makna
teks.[11][19] Arti dan makna
teks itu diperoleh dari upaya pencarian dalam teks berdasarkan bentuk, sejarah,
pengalaman membaca, dan self-reflection dari pelaku interpretasi.
Jika dicermati, pernyataan Ricoeur tersebut tampak mengarah pada suatu
pandangan bahwa interpretasi itu pada dasrnya untuk mengeksplikasi jenis
being-in-the-world (Dasein) yang terungkap dalam dan melalui teks. Ia juga
menegaskan bahwa pemahaman yang paling baik akan terjadi manakala interpreter
berdiri pada self-understanding. Bagi Ricoeur, membaca sastra melibatkan
pembaca dalam aktivitas refigurasi dunia, dan sebagai konsekuensi dari
aktivitas ini, berbagai pertanyaan moral, filosofis, dan estetis tentang dunia
tindakan menjadi pertanyaan yang harus dijawab.[12][20]
Selain itu, ada satu hal prinsip lagi yang perlu diperhatikan sehubungan
dengan pemahaman-khususnya dalam pemahaman terhadap teks sastra-adalah gagasan
"lingkaran hermeneutik" yang dicetuskan oleh Dilthey dan yang
diterima oleh Gadamer. Dalam studi sastra, gerak melingkar dari pemahaman ini
amat penting karena gagasan ini menganggap bahwa untuk memahami objek dibatasi
oleh konteks-konteks. Misalnya, untuk memahami bagian-bagian harus dalam
konteks keseluruhan dan sebaliknya, dalam memahami keseluruhan harus memahami
bagian per bagian. Dengan demikian, pemahaman ini berbentuk lingkaran. Dengan
perkataan lain, untuk memahami suatu objek, pembaca harus memiliki suatu
pra-paham, kemudian pra-paham itu perlu disadari lebih lanjut lewat makna objek
yang diberikan. Pra-paham yang dimiliki untuk memahami objek tersebut bukanlah
suatu penjelasan, melainkan suatu syarat bagi kemungkinan pemahaman. Lingkaran
pemahaman ini merupakan "lingkaran produktif." Maksudnya, pemahaman
yang dicapai pada masa kini, di masa depan akan menjadi pra-paham baru pada
taraf yang lebih tinggi karena adanya pengayaan proses kognitif. Oleh karena
itulah penafsiran terhadap teks dalam studi sastra pada prinsipnya terjadi
dalam prinsip yang berkesinambungan.
Jadi, tugas hermeneutik menurut Gadamer adalah: ”is not to develop a procedure of understanding but to clarify the the
conditions in which understanding can take place”. Atau dapatlah dikatakan
bahwa standarisasi pembuatan prosedur adalah bukan tujuan utama dari
hermeneutik, tujuan utama sesungguhnya dari hermeneutik adalah memberikan jalan
kepada pemahaman terhadap suatu teks. Jadi ketika metode interpretasi ini
diterapkan ke dalam analisis karya sastra, maka tujuan utamanya adalah
memberikan jembatan, atau menjadi hermes, bagi pemahaman arti dari sebuah karya
sastra, baik makna tersirat maupun makna tersurat.[13][21]
Pendekatan hermeneutic merupakan suatu cara untuk memahami agama (teks
kitab suci).[14][22] Pendekatan ini
dianggap tepat dalam memahami karya sastra dengan pertimbangan bahwa diaantara
karya tulis, yang paling dekat dengan agama adalah karya sastra. Pada tahap
tertentu teks
agama sama dengan teks karya sastra. Perbedaannya, merupakan kebenaran
keyakinan, sastra merupakan kebenaran imajinasi, agama dan sastra adalah
bahasa, baik lisan maupun tulisan. Asal mula agama adalah firman tuhan, asal
mula sastra adalah kata-kata pengarang. Baik sebagai hasil ciptaan subjek
illahi maupun subjek creator, agama dan sastra perlu di
intrpretasikan/ditafsirkan, sebab disatu pihak seperti disebutkan diatas, kedua
genre terdiri atas bahasa.
Secara keseluruhan, dapatlah dinyatakan bahwa hermeneutik memang dapat
diterapkan dalam interpretasi sastra. Dalam interpretasi sastra, hermeneutik
tidak lagi hanya diletakkan dalam kerangka metodologis, tetapi ia sudah
mengikuti pemikiran hermeneutik mutakhir yang berada dalam kerangka ontologis.
Ini kaitannya dengan Tiga varian hermeneutik (tradisional, dialektik, dan
ontologis).
Lefevere memandang bahwa ada tiga varian hermeneutik yang pokok. Dari
ketiga varian tersebut, tidak satu pun dapat melepaskan diri sepenuhnya dari
sumber asalnya, yakni penafsiran terhadap kitab-kitab suci. Konsekuensinya,
gaya tulisan menjadi berbelit-belit dan hampir tidak pernah jelas, dan ini
menjadi ciri khas berbagai tulisan hermeneutik. Permainan kata yang
bertele-tele dan ungkapan khusus turut membuat hermeneutik membosankan.
Kenyataan ini dapat mengaburkan substansi hermeneutik yang sesungguhnya sangat
bernilai.[15][23]
Ketiga varian yang dimaksudkan Lefevere adalah: pertama, hermeneutik
tradisional (romantik); kedua, hermeneutik dialektik; dan ketiga, hermeneutik
ontologis. Perlu dikemukakan, di satu sisi, ketiga varian itu sepakat dengan
pendefinisian sastra sebagai objektivisasi jiwa manusia, yang pada dasarnya
bisa diamati, dijelaskan, dan dipahami (verstehen). Di sisi lain, ketiga varian
hermeneutik itu berbeda dalam menginterpretasi verstehen-nya. Untuk itu,
selanjutnya perlu dijelaskan bagaimana ketiga varian hermeneutik itu dalam
kerangka kajian sastra, mulai hermeneutik tradisional, dialektik, hingga
ontologis.[16][24]
BAB VIII
IMAJINASI DAN BAHASA
8.1 Devinisi Imajinasi
Istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai
proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi
persepsi pengertian. Sejak penggunaan istilah ini bertentangan dengan yang
dipunyai bahasa biasa, beberapa psikolog lebih menyebut proses ini sebagai
“menggambarkan” atau “gambaran” atau sebagai suatu reproduksi yang bertentangan
dengan imajinasi “produktif” atau “konstruktif”.
Gambaran citra dimengerti sebagai sesuatu
yang dilihat oleh “mata pikiran”. Suatu
hipotesis untuk evolusi imajinasi manusia ialah bahwa hal itu memperbolehkan
setiap makhluk yang sadar untuk memecahkan masalah (dan oleh karena itu
meningkatkan fitnes) perseorangan oleh
penggunaan simulasi jiwa.
Bagaimana?
Apakah anda mengerti maksudnya?
Saya pribadi kurang paham dan sepaham dengan
penjelasan-penjelasan tersebut. Menurut saya imajinasi ya imajinasi, bukan
hanya sebuah penggambaran/ pencitraan bentuk, warna, rasa, hawa, atau suara.
Imajaniasi lebih terlihat seperti hasil bentukan visi, misi, hasrat, semangat,
dan impian seseorang. Tanpa sebuah hasrat atau impian imajinasi tidak akan
terbentuk atau bahkan menjadi sebuah kenyataan. Imajinasi sebenarnya tidak
‘bertempat tinggal’ dipikiran, pikiran hanya membantu membentuk citraan dan
menampung imajinasi yang ada. Yang harus kita yakini adalah, sebenarnya
imajinasi sebenarnya ada secara nyata, bukan hanya sebuah penggambaran atau
pencitraan. Imajinasi atau impian ada ‘disuatu tempat’ di ‘dunia lain’
(bukan dunia ghaib) atau ‘dimensi lain’ dan dapat benar-benar kita realisasikan
menjadi sebuah kenyataan, tinggal menunggu situasi dan waktu yang tepat agar
‘dimensi’ alias dunia tempat kita hidup ini dapat dimasuki oleh imajinasi kita
itu terlepas dari semua pendapat itu, seperti yang yang saya atakana tadi
“imajinasi ya imajinasi”, dapat anda presepsikan sendiri, karena “imajinasi
anda” hanya “anda yang memiliki”.
2.
Definisi Bahasa
bahasa
adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat
untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi
sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiaw
Bahasa
adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa
lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut
makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan
suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran
bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan
konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.
a.
Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa
bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan
tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang
tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan
‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa
dijelaskan.
Meskipun
bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu
bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia
akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan
‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep
yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
b.
Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa
bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun
dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa
Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000
buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
c.
Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa
bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan
perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran
apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap
waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata
lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
d.
Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun
bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu
digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan
kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran
fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang
digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga
bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab
Saudi.
e.
Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa
sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai
bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau
gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai
bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar.
Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan
bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
8.2 Evaluasa Konsep Imajinasi
Sebelum kita berbicara mengenai perencanaan
evaluasi, kita perdalam lebih dahulu istilah ‗rencana‘ dan ‗perencanaan‘. Kita
pahami bahwa rencana adalah ―a detailed proposal for doing or achieving
something‖, artinya suatu rancangan rinci untuk melakukan sesuatu atau
mencapai sesuatu. Dalam hal ini, perencanaan berarti ―proses merencanakan
sesuatu‖. Harus kita sadari bahwa perencanaan merupakan suatu cara untuk
memproyeksi maksud dan tujuan. Seperti yang telah kita tahu, perencanaan
berkaitan dengan konsep masa depan, masalah-masalah yang memerlukan imajinasi
dan pilihan (choice), pemikiran yang ditujukan ke masa depan, dan proses
mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, perencanaan mencerminkan upaya yang
penuh pertimbangan. Perencanaan diakui sebagai cara yang paling andal (reliable)
untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Perencanaan merupakan suatu cara untuk
menentukan serangkaian tindakan untuk mengarahkan tindakan tersebut agar sesuai
dengan visi.
Setelah kita mengenal konsep dan pengertian
perencanaan, kita ulang sekilas mengenai konsep evaluasi itu sendiri. Dalam hal
ini, evaluasi pendidikan biasanya dibagi menjadi dua kategori umum:
·
Evaluasi sumatif
biasanya dilakukan dengan maksud membuat penilaian mengenai keseluruhan
aktivitas dan program. Pengumpulan dan analisis biasanya ditujukan pada
pengukuran hasil dan tingkat pencapaian dengan mengacu pada tujuan dan standar
tertentu yang telah dipahami
·
Evaluasi formatif,
sebaliknya, mengacu pada evaluasi yang muncul
selama proses atau produk itu dirancang. Evaluasi formatif biasanya digunakan
untuk memperbaiki pengembangan, dan dapat dikatakan sebagai evaluasi
berkelanjutan yang mengiringi upaya pengembangan atau proses perubahan yang
lebih besar.
LANGKAH-LANGKAH
PERENCANAAN EVALUASI
1. Menentukan
Tujuan Evaluasi
Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang
harus dimiliki seorang evaluator. Apapun bentuk dan pendekatan evaluasi,
penentuan tujuan evaluasi akan selalu berkenaan dengan apa yang diharapkan dari
pelaksanaan suatu evaluasi, yaitu output (misalnya; produk pembelajaran,
dokumentasi siswa/guru, dsb.) dan outcome (misalnya; efektivitas/efisiensi
pembelajaran siswa, perubahan sikap siswa, perubahan kinerja dan sikap guru,
perubahan kelembagaan, posisi di dunia pendidikan dan dunia kerja, dsb.).
2. Merumuskan Masalah
Evaluasi
Masalah evaluasi bisa dilihat dari fenomena yang terjadi. Dengan
mengacu pada contoh sebelumnya, yaitu masalah kurikulum, dapat dilihat bahwa
masalah yang terjadi adalah rendahnya mutu pembelajaran siswa atau bahwa hasil
pembelajaran tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
3. Menentukan Jenis Data yang Akan Dikumpulkan
Pada tahap ini evaluator mengidentifikasi data/informasi sesuai dengan
kebutuhan dan variabel yang akan dievaluasi. Jenis data secara umum adalah data
kuantitatif dan data kualitatif.
4. Menentukan Sampel
Sampel digunakan bila kita akan mengevaluasi sebagian dari populasi
yang menjadi subjek atau objek evaluasi, dengan memperhatikan sifatnya yang
homogenitas dan heterogenitas. Evaluator juga menentukan teknik pengambilan
sampel (sampling) yang cocok diambil.
5. Menentukan
Model Evaluasi
Penentuan modal evaluasi sangat berkaitan dengan berbagai pendekatan
evaluasi. Evaluator hendaknya memahami berbagai pendekatan dalam evaluasi,
kekuatan dan kelemahan setiap pendekatan.
6. Menentukan
Alat Evaluasi
Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah
tes, pengukuran sikap, survey dan kuesioner survey, wawancara, pengamatan,
on-site evaluation, teknik Delphi, analisis kebutuhan, analisis konten,
sampling, eksperimental, quasi-experimental, dan sebagainya.
7. Merencanakan Personal Evaluasi
Yang dimaksud personal evaluasi di sini adalah seluruh sumberdaya
manusia yang tersedia dan terlibat untuk pelaksanaan evaluasi. Termasuk di sini
antara lain adalah (1) evaluator atau team evaluator, (2) klien yang meminta
evaluasi, dan (3) evaluand (objek evaluasi). Dalam posisi kita sebagai
evaluator, kita bisa meminta bantuan dari evaluator eksternal yang memiliki
keahlian tertentu dalam bidangnya.
8. Merencanakan
Anggaran
Anggaran dan pembiayaan kadang bisa menjadi kendala untuk keberhasilan
pelaksanaan evaluasi. Dana yang tidak sesuai dengan perencanaan anggaran bisa
menghambat jalannya program. Di lain pihak, perencanaan anggaran yang tidak
realistis juga akan berdampak buruk dalam pelaksanaan evaluasi.
9. Merencanakan Jadwal Kegiatan
Suatu perencanaan akan lebih mudah dipahami dan lebih mudah
dilaksanakan bila kita memiliki suatu jadwal kegiatan, yang terdiri dari
jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan dan waktu yang tersedia. Dengan
jadwal, kita dapat menentukan apa yang harus kita lakukan hari ini, misalnya.
Kita harus tetap menjaga agar aktivitas dan waktu kita tidak keluar dari jadwal
yang telah ditetapkan, sebab jika hal tersebut terjadi, maka kegiatan lainnya
akan terpengaruh juga
8.3 perbedaan imajinasi
KETIKA kita menyaksikan realitas
politik yang diciptakan para politikus di negeri ini, dengan kasat mata kita
bisa melihat struktur politik yang dibangun dengan imajinasi pupuler, sebuah
ruang, waktu dan tanda politik yang dibentuk, disesaki, dan dipenuhi laku
politik yang bersifat dangkal, remeh-temeh dan bermutu rendah. Orang-orang yang
lahir dari rahim partai politik begitu canggih memainkan seni verbalisme
politik demi kepentingan diri dan kelompok (partai)-nya.
Mereka menggunakan partai
politik sebagai mesin pencetak harta kekayaan dan kekuasaan. Mereka hanya
mengedepankan hal-hal yang yang bersiat duniawi dengan mengesampingkan dunia
eskatologis. Di sinilah sifat materialistis-hedonistis mendapatkan tempatnya.
Celakanya, tidak sedikit
politikus, baik di tingkat pusat maupun daerah, saat ini sangat gemar
mengembangkan imajinasi populer tersebut. Alih-alih memperjuangkan kepentingan
rakyat, kader-kader partai malah bekerjasama melakukan korupsi dan terlibat
“kongkalikong” dengan para aktor ekonomi (misalnya pengusaha) yang
seringkali sangat merugikan kepentingan rakyat banyak.
Inilah realitas politik yang
sering kita saksikan yang dilandasi imajinasi dan fantasi-fantasi yang dibangun
secara sadar oleh individu atau kelompok (politikus, partai politik) untuk
membedakan mereka dengan orang atau kelompok lainnya.
Imajinasi populer yang dicirikan
oleh sifat-sifatnya yang murahan, rendah, vulgar, umum, rata-rata atau rakyat
kebanyakan, kini telah digunakan untuk menghimpun massa dalam berbagai wacana
politik sebagai massa populer.
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia
yang Dilipat menjelaskan bahwa Imajinasi populer ini terdapat
setidak-tidaknya empat bidang, yaitu cara berpikir populer, komunikasi populer,
ritual populer, dan simbol populer.
1.
cara berpikir populer, yaitu cara berpikir
yang dipengaruhi oleh berbagai wacana budaya populer, seperti televisi, media
massa, dunia hiburan dan dunia seni populer, yang dicirikan oleh sifat-sifat
kedangkalan, permukaan dan selera massanya.
Dalam
konteks politik, ter masuk ke dalam cara berpikir populer adalah berbagai
wacana politik populer yang dikembangkan politikus, yang dikemas dengan cara
tertentu yang seakan-akan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan politik.
Padahal, para politikus itu hanya memproduksi cara berpikir politik yang sangat
dangkal.
2.
komunikasi populer, yaitu berbagai bentuk
komunikasi politik yang dicirikan oleh sifat-sifat dangkal ketimbang
kedalaman, permukaan ketimbang substansi, lebih menghibur ketimbang
mencerahkan, lebih menawarkan rasa kesenangan ketimbang ilmu pengetahuan, lebih
membangkitkan sensasi ketimbang subtansi.
Hal ini bisa berwujud bahasa,
tindakan, dan penampilan populer politikus. Berbagai psikologi massa,
sebagaimana digunakan di dalam budaya populer, kini digunakan di dalam wacana
politik, seperti cara-cara untuk membangkitkan dan mengendalikan emosi
(simpati, empati) rakyat.
Misalnya,
di televisi para politikus korup bertindak sebagai orang yang harus
dikasihani, agar rakyat memaafkan tindakan korupnya. Bahkan, ada politikus yang
siap digantung di Monas sekalipun demi meyakinkan rakyat bahwa ia tidak terlibat
korupsi serupiah pun.
3.
ritual populer, yaitu berbagai bentuk ritual
politik yang secara massal dilakukan mengikuti paradigma budaya populer, yang
dalam pelaksanaannya menggunakan logika komoditas.
Ritual-ritual
itu ditata sedemikian rupa sesuai dengan prinsip perbedaan sosial. Kegiatan
ritual politik digiring ke dalam perangkap artifisialitas, permainan bebas
bahasa dan citra sebagai cara dalam menciptakan imajinasi kolektif dan pemanipulasian
pikiran massa.
Misalnya
tempat rapat atau pertemuan mewah yang digunakan orang-orang partai yang
membedakan tempat rapat partai lainnya. Mereka terkadang tidak peduli apakah
kemewahan yang ditampilkan tersebut menyakiti hati rakyat yang masih menderita
kemiskinan atau tidak. Yang ada dalam benak mereka adalah penunjukkan
keterpesonaan yang serba “wah”.
4.
simbol populer, ini artinya bahwa
simbol-simbol populer digunakan di dalam berbagai praktik politik. Simbol
pupuler yang identik dengan penampilan populer mengarahkan pada penampilan yang
mencakup mulai dari pakaian sampai rambut dan eksesoris yang menekankan
efek-efek kesenangan, simbol, status, tema, prestise, daya pesona, dan berbagai
dorongan selera rendah lainnya tanpa mengutamakan substansi politik.
BAB IX
BAHASA DAN
PIKIRAN
9.1 Definisi
Bahasa adalah
alat komunikasi yang berupa system lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap
manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau
kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara
kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau
kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut
urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah
kamus atau leksikon. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang
kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitusaja, melainkan mengikuti
aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus
memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa.
Seperangkataturan yang imendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan
sebagai pedoman berbahasa inilah yangdisebut tata bahasa.
Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat
komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi (fungsi informatif).
Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan
informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa
juga berfungsi:
§ untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
§ untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan
seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
§ sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar
pengetahuan kebahasaan.
§ untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang
sejarah manusia, selama
kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan
filologis).
Ø Definisi Bahasa Menurut Para Ahhli:
1. Bill Adams Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi
individu dalam sebuah konteks inter-subjektif
2. Wittgenstein Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat
dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang
logis
3. Ferdinand De Saussure Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol
karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai
kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain
4. Plato Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang
dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang
merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut
5. Bloch & Trager Bahasa
adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu
kelompok sosial bekerja sama.
6. Carrol Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi
dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat
digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang
secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan
proses-proses dalam lingkungan hidup manusia
7. Sudaryono Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun
tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi
menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.
8. Saussure Bahasa adalah objek dari semiologi
9. Mc. Carthy Bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk
mengembangkan kemampuan berpikir
10. William A. Haviland Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika
digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh
semua orang yang berbicara dalam bahasa itu
pikiran
adalah sebuah teori
bahwa pikiran tidak dapat langsung diobservasi Anggapan bahwa orang lain
memiliki suatu pikiran diistilahkan teori pikiran karena setiap manusia hanya
dapat mengintuisi keberadaan dari pikirannya sendiri lewat introspeksi, dan
tidak ada orang lain yang memiliki akses langsung terhadap pikiran orang lain.
Secara tipikal diasumsikan bahwa orang lain memiliki pikiran dengan analogi
yang seseorang miliki, dan berdasarkan interaksi sosial alami timbal-balik,
sebagaimana yang diobservasi dalam atensi bersama penggunaan fungsi bahasa dan
memahami emosi dan aksi orang lain Memiliki teori pikiran membuat seseorang
mengatribusikan pemikiran, hasrat, dan intensi kepada orang lain, untuk
memperkirakan atau menjelaskan aksi mereka, dan untuk menempatkan intensi
mereka. Dalam arti aslinya, ia membuat seseorang untuk memahami bahwa keadaan
mental dapat menjadi penyebab - yang digunakan untuk menjelaskan dan
memperkirakan - perilaku orang lain Kemampuan mengatribusikan keadaan mental
terhadap orang lain dan memahaminya sebagai penyebab perilaku menandakan,
sebagian, bahwa seseorang harus dapat memahami pikiran sebagai "pembangkit
representasi Jika seseorang tidak memiliki teori pikiran yang komplit ia
mungkin menandakan gangguan kognitif atau perkembangan.
pikiran
muncul sebagai potensi kemampuan lahiriah pada manusia, tapi membutuhkan
pengalaman sosial dan pengalaman lainnya selama beberapa tahun sampai
menghasilkan sesuatu. Orang yang berbeda bisa saja membentuk teori pikiran yang
lebih, atau kurang, efektif. Empati adalah konsep yang berkaitan, yang berarti mengenali
dan memahami teori pikiran lewat pengalaman, termasuk kepercayaan, hasrat dan
terkadang emosi orang lain, sering dikarakterkan sebagai kemampuan untuk
"menempatkan diri sendiri di posisi orang lain." Kajian terbaru dari neuro etologis
perilaku hewan, menyarankan bahkan tikus mungkin memperlihatkan kemampuan
etikal atau empati
9.1 Ketegori-Kategori
Negatif
Ciri-Ciri Pacar atau Kekasih
Sudah Bosan Dengan Anda
Kabarnya sih masa yang paling menyenangkan dalam hubungan asmara adalah
masa PDKT. Di masa ini rasanya yang ada adalah hal-hal indah melulu. Nyaris tak
ada yang bilang kalau PDKT itu menyebalkan, sehingga momen ini selalu dikenang.
Tetapi, biasanya kalau sudah berpacaran agak lama, hubungan jadi makin dingin
dan dia menjadi tak seperti dulu lagi. Kenapa ya?
Sebenarnya
pria itu juga makhluk yang mudah bosan. Bukan karena tak cinta lagi, tetapi
kebosanan lumrah dialami oleh pria yang memang lebih suka tantangan dan hal
baru ketimbang wanita. Jangan keburu menyimpulkan kalau si dia sudah tak cinta,
mungkin saja si dia sedang bosan apabila tanda-tanda ini muncul padanya.
Kesibukannya Mendadak
Bertambah
Akhir-akhir ini
dia jadi lebih sibuk dan banyak melakukan aktivitas baik sendiri maupun bersama
teman-temannya. Dia jadi tak punya waktu dengan Anda. Tetapi, mungkin memang ia
sedang aktif dan terlibat banyak hal untuk mengusir rasa bosannya. Jadi tak
perlu sampai berpikir negatif bahwa ia sedang menghindar. Tidak. Ia tidak
menghindar kok, hanya ia punya cara tersendiri untuk tidak bosan lagi.
Anda Yang Menghubungi Terlebih
Dahulu
Dengan
alasan sibuk, akhirnya jadi Anda yang lebih sering menghubunginya terlebih
dahulu. Apa yang salah? Dari sisi dia mungkin tak ada yang salah, tetapi
apabila Anda membiarkan pikiran sensitif itu terus berkembang, maka Anda akan
merasa kesepian dan ditinggalkan. Padahal sih nyatanya si dia hanya sedang
sibuk saja. Toh yang Anda ingin tahu adalah kabar dari si dia, jadi tak ada
salahnya lah apabila Anda yang menghubungi terlebih dahulu.
Kontak Fisik Yang
Minim
Dulu, setiap saat setiap waktu ia akan mencuri kesempatan
untuk merangkul bahu dan menggenggam tangan Anda. Mungkin sekarang hal itu tak
dilakukannya sesering dulu. Tetapi bila ia masih melakukannya di depan umum,
maka ini adalah tanda bahwa ia memang sedang bosan saja.
Tidak Tepat Janji
Perlu digaris bawahi, di sini yang dimaksud dengan tidak
tepat janji adalah semisal ia janji menjemput Anda jam 9 tetapi baru muncul
sejam kemudian, atau ia bilang hendak membawa Anda nonton, ternyata malah
membawa Anda makan agar tidak terlalu larut malam. Ia hanya butuh waktu
sendirian, tetapi bukan berarti ia ingin meninggalkan Anda.
Apabila tanda-tanda tersebut memang cukup mengganggu Anda,
hentikan merajuk dan bersikap kekanak-kanakan. Yang perlu Anda lakukan adalah
berbincang dengannya sehingga ia tahu bahwa beberapa hal yang ia lakukan sedang
mengganggu Anda. Jauh lebih mudah apabila Anda mencari jalan keluarnya berdua,
agar hubungan kembali hangat dan rasa bosannya mulai luntur.
9.2
Kategori-Kategori Sosial
Berangkat dari pendapat
Koentjaraningrat yang menjelaskan bahwa kategori sosial dan golongan sosial
merupakan konsep dual hal yang berbeda walaupun dalam buku pelajaran
Antropologi dan Sosiologi dalam bahasa asing biasanya hal tersebut dikenal
dengan istilah yang sama, yakni Social Category. Namun, karena adanya
terdapat unsur perbedaaan maka dengan itu kita perlu membedakan dua konsep
tersebut. Dalam hal itu dapat diibaratkan dua konsep tersebut memiliki makna
“serupa tapi tak sama”, begitulah juga pada konsep tersebut memilki pengertian
yang berbeda walaupun terdapat kemiripan.
1.
Dalam hal kategori sosial
dijelaskan bahwa konsep ini merupakan kesatuan manusia yang terwujud karena
adanya suatu ciri khas atau suatu kompleks ciri-ciri objektif yang dapat dikenakan
kepada manusia-manusia itu. Ciri khas tersebut dilakukan dengan maksud untuk
memudahkan penggolongan dalam suatu tujuan dan biasanya dikenakan oleh pihak
luar tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan. Sebut saja peneliti yang akan
melakukan penelitian terhadap kehidupan masyarakat tertentu perlu melakukan
penggolongan unuk memudahkan penelitian mereka, walupun pihak yang diteliti
tidak menyadari hal tersebut.
2.
Sehubungan dengan itu untuk
mempermudah pemahaman kita mengenai kategori sosial tersebut dapat kita lihat
dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat kategori orang yang memiliki sepeda
motor dan kategori orang tidak memilikinya dengan tujuan untuk menentukan harus
menaati peraturan lalu-lintas dan bebas dari peraturan tersebut, terdapat katagori
mahasiswa yang memiliki banyak buku bacaan dan kategori Mahasiswa yang sedikit
memiliki buku bacaan dengan maksud untuk menentukan minat belajar, dan juga
terdapat kategori orang bisa bermain Sepak bola dan kategori tidak bisa bermain
dengan maksud untuk mengetahui minat olah raga sepak bola. Dari uraian tersebut
dapatlah dikatakan bahwa unsur yang terkait dengan konsep kategori sosial
biasanya tidak terikat dengan kesatuan adat, sistem norma, tidak mempunyai
lokasi dan mengarah pada pembicaraan “kerumunan”.
3.
Selanjutnya golongan sosial
dijelaskan merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri
tertentu, bahkan sering kali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak
luar kalangan masyarakat sendiri. Dalam konsep ini dapatlah kita umpamakan
dimana dalam golongan masyarakat Prasejarah sudah mengenal adanya penggolongan
sosial masyarakatnya, diantaranya terdapat golongan pemimpin suku dan adanya
pembagian golongan kerja di dalam kehidupan mereka tersebut. Disamping itu juga
terdapat penggolongan masyarakat berdasarkan sistem kasta, yakni kasta Brahmana
(pemuka agama), Ksatria (bangsawan), Waisya (pedagang), Sudra (rakyat jelata),
dan Paria (gelendangan, peminta dan sebagainya).
4.
Di dalam konsep golongan sosial
tersebut didasarkan terjadi dengan sendirinya dan terjadi dengan sengaja.
Terjadi dengan sendirinya dapat dipahami bahwa proses ini berjalan dengan
sendirinya dan bentuk dasar penggolongan itu bervariasi menurut lokasi, waktu
dan budaya masyarakat dimana sistem itu berlaku. Sedangkan golongan sosial yang
terjadi dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama, sistem
penggolongan ini dapat kita lihat dalam pemerintahan, parpol, perusahaan besar
dan sebagainya. Dengan lain perkataan konsep golongan sosial biasanya terikat dengan
kesatuan adat, norma, identitas sosial dan bersifat berkelanjutan.
5.
Dengan demikian konsep kategori
sosial dan golongan sosial memiliki pengertian konsep yang berbeda, pada konsep
kategori sosial mengarah pada suatu “kerumunan” sebaliknya golongan sosial
mempunyai ikatan identitas sosial. Namun, kedua konsep tersebut memiliki
perbedaan tapi perlu digaris bawahi konsep tersebut sama-sama tidak memenuhi
syarat yang disebut masyarakat seutuhnya. Dikatakan tidak memenuhi syarat
sebagai masyarakat karena ada suatu syarat pengikat yang tidak ada pada
kedudukannya, yakni prasarana khusus untuk melakukan interaksi sosial.
Bab x
10.1 SISTEM KOMUNIKASI BURUNG
agar dapat saling mengeti satu sama lain
adalah suatu hal yang sangat unik untuk dipelajari. Begitu pula dengan cara
lebah berkomunikasi antara satu lebah dengan lebah yang lainnya. Lantas, bagaimanakah
cara lebah berkomunikasi dengan lebah lainnya? Bila seekor lebah pekerja
telah menemukan bunga yang berisi air madu, maka bagaimanakah cara lebah
pekerja itu menyampaikan berita tentang apa yang telah ditemukannya itu
kepada koloni lebah yang lainnya? Bagaimana cara menjelaskan kepada
lebah-lebah yang lain tentang jenis bunga yang ia temukan, seberapa jauh
letak bunga itu dan kearah mana yang harus mereka tempuh untuk bisa sampai ke
tempat itu? Cara lebah menyampaikan berita adalah suatu tanda
kebesaran Allah dalam mengatur dan memelihara makhluknya dan keajaiban
alam yang menakjubkan. Alat utama dalam rangkaian peristiwa ini tentunya adalah
bahasa dan "bahasa" yang dipakai oleh seekor lebah adalah
nalurinya. Seekor lebah mengetahui "bahasa" itu tanpa
belajar sama sekali atau diajari terlebih dahulu. Setiap lebah pekerja, yang
sudah mencapai tingkat usia tertentu pasti memahami "bahasa" ini
secara otomatis.
10.2 SISTEM
KOMUNIKASI LEBAH
Bahasa lebah itu adalah bahasa yang terbentuk dari bau
dan tarian. Apabila seekor
lebah menemukan air madu atau tepung sari bunga, maka segelah lebah
tersebut pulang kesarangnya. Lalu memulai menari didepan kawanan lebah yang ada
di sarangnya. Lebah itu terbang menari-nari sambil membuat
lingkaran-lingkaran kecil. Tarian ini tentunya menarik perhatian lebah-lebah
yang lainnya dan merupakan isyarat bagi mereka bahwa lebah yang sedang
menari itu telah menemukan suatu tempat yang ada air madu dan tepung sari
bunga. Lebah-lebah madu yang lainnya dapat pula mencium bau dari yang dibawa
pulang oleh si lebah penemu tadi. Dengan demikian, lebah-lebah yang lain
sudah bisa mengetahui jenis madu dan bagaimana rasa madu yang akan mereka garap
nantinya.
Apabila lebah penemu itu menari-nari dengan penuh gairah dan bersemangat sekali, maka itu berarti tempat penemuaannya itu terdapat banyak sekali persediaan makanan. Maka akan lebih banyak pula jumlah lebah pekerja yang akan berangkat beramai-ramai ke tempat itu untuk mengambil bahan makanan. Para lebah-lebah Pekerja itu akan bersama-sama mencari dan mendatangi tempat itu. Tarian lebah itu menerangkan bahwa ada terdapat air madu atau tepung sari bunga yang dapat diperolehnya. Bau di tubuh lebah yang terdapat pada lebah penemu itu juga telah menjelaskan jenis bunga yang akan mereka garap nantinya. Sekaligus mereka juga mengetahui apakah yang akan mereka angkut itu air madu atau tepung sari bunga. Kegairahan tarian yang bersemangat itu menggambarkan berapa besar jumlah makanan yang harus mereka angkut.
Apabila lebah penemu itu menari-nari dengan penuh gairah dan bersemangat sekali, maka itu berarti tempat penemuaannya itu terdapat banyak sekali persediaan makanan. Maka akan lebih banyak pula jumlah lebah pekerja yang akan berangkat beramai-ramai ke tempat itu untuk mengambil bahan makanan. Para lebah-lebah Pekerja itu akan bersama-sama mencari dan mendatangi tempat itu. Tarian lebah itu menerangkan bahwa ada terdapat air madu atau tepung sari bunga yang dapat diperolehnya. Bau di tubuh lebah yang terdapat pada lebah penemu itu juga telah menjelaskan jenis bunga yang akan mereka garap nantinya. Sekaligus mereka juga mengetahui apakah yang akan mereka angkut itu air madu atau tepung sari bunga. Kegairahan tarian yang bersemangat itu menggambarkan berapa besar jumlah makanan yang harus mereka angkut.
Tetapi bahasa isyarat tarian
lebah ini hanya berlaku untuk menunjukkan letak sumber bahan makanan yang
jaraknya tidak lebih dari 100 yard dari sarang lebah. Apabila seekor lebah
menemukan sumber bahan makanan yang letaknya lebih jauh, maka ia akan pulang
kesarangnya dan memepertunjukkan jenis tarian lebah yang lain lagi. Kali
ini lebah tersebut tidak akan menari-nari dengan membuat lingkaran-lingkaran
kecil. Melainkan dengan membuat sebuah tarian dengan ekornya sambil membentuk
angka 8. Dengan mengoyang-goyangkan ekornya, lebah tersebut menyambung kedua
bentuk lingkaran pada angka delapan itu dengan satu garis lurus, dengan cara
menggoyang-goyangkan ekor atau bagian belakang tubuhnya dari kiri ke kanan.Tentu saja sebagai tambahan keterangan terhadap yang lainnya itu, maka tarian goyang ekor lebah itu sekaligus pula menerangkan berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk sampai ketujuan dan kearah mana mereka harus terbang. Jumlah gerak lekuk pada setiap menit menunjukkan seberapa jauh jarak sumber makanan itu. Semakin jauh jarak sumber makanan itu, maka semakin kurang bentuk angka 8 yang dibuat oleh lebah itu. Misalnya, 11 kali gerak gerak lekuk dalam setiap menit berarti 3000 yard jauhnya tempat yang akan dituju. Garis yang dibuat oleh lebah itu antara kedua lingkaran dalam lukisan angka 8 itu menunjukkan arah mana letak tempat itu. Lalu apakah yang lebah gunakan sebagai pedoman arah? tidak lain adalah matahari. Garis penunjuk arah ini ditarik sehubungan dengan letak matahari melintasi angkasa. Dengan demikian, lebah-lebah yang lainnya akan segera melihat sudut yang dibentuk oleh garis itu dengan letak matahari. Oleh karenanya seekor lebah tidak akan pernah
Bab
ll FILSAFAT BAHASA
2.1.
DEFINISI FILSAFAT BAHASA
Filsafat
mengenai bahasa dan filsafat berdasarkan
bahasa
c)
Filsafat mengenai bahasa adalah
yang bersifat memiliki sistem yang di
gunakan untuk mendekati nahasa sebagai objek khusus.
Contoh: hewan berdiri khusus
Bahasa yang di gunakan untuk
menjelaskan ciri tersebut
d)
Filsafat berdasarkan bahasa adalah
filsaat ini bersifat dengan menjadikan bahsa sebagai titik tindak berfilsafat
2.2 CABANG
FILSAFAT
Logika
Ada cabang
filsafat lain yang menaruh perhatian pada bahasa. Cabang itu sering disebut
logika. Logika ialah studi tentang inference (kesimpulan-kesimpulan).
Logika berusaha menciptakan suatu kriteria guna memisahkan inferensi yang sahih
dari yang tidak sahih. Karena penalaran itu terjadi dengan bahasa, maka
analisis inferensi itu tergantung kepada analisis statement-statement
yang berbentuk premis dan konklusi. Studi tentang logika membukakan kenyataan
bahwa sahih dan tidaknya informasi itu tergantung kepada wujud statement
yang mengandung premis dan konklusi. Adapun yang dimaksud dengan wujud ialah
jenis istilah yang terkandung di dalam statement dan juga cara bagaimana
istilah itu disusun menjadi statement.
2.3 TUGAS
FILSAFAT BAHASA
c)
filsafat bahasa bukan membuat
pertanyaan tetapi memecahkan masalah
yang timbul karena ketidak
pahaman tentang suatu persoalan
d)
filsafat menganalisis suatu yang dapat di
katakan dan tidak dapat dikatakan
2.4 METODE
Artinya memberikan kritikan terhadap
suatu masalah karena para filsuf menganggap
bahasa filsafat banyak kaidah
tersiplin tergantung
2.5 CIRI-CIRI FILSAFAT
BAHASA
1.4 Cabang-cabang Filsafat
Jika kita mengamati karya-karya besar filsuf, seperti aristoteles (384-322 SM)
dan Imanuel Kant (1724-1804), ada tiga tema besar yang menjadi fokus kajian
dalam karya-karya mereka, yakni kenyataan, nilai, dan pengetahuan. Ketiga tema
besar tersebut masing-masing dikaji dalam tiga cabang besar filsafat. Kenyataan
merupakan bidang kajian metafisika, nilai adalah bidang kajian aksiologi, dan
pengetahuan merupakan bidang kajian epistimologi.
Namun ada juga yang membagi cabang
filsafat berdasarkan karakteristik objeknya. Berdasarkan karakteristik objeknya
filsafat dibagi dua, yaitu :
1. filsafat umum/murni
a.
Metafisika, objeknya adalah hakikat
tentang segala sesuatu yang ada.
b. Epistemologi. Objeknya adalah
pengetahuan/ kenyataan
c.
Logika. Merupakan studi penyusunan
argumen-argumen dan penarikan kesimpulan yang valid. Namun ada juga yang
memasukkan Logika ke dalam kajian epistimologi.
d. Aksiologi. Objek kajiannya adalah
hakikat menilai kenyataan.
2. Filsafat Khusus/Terapan,
yang lebih mengkaji pada salah satu aspek
kehidupan. Seperti misalnya filsafat hukum, filsafat pendidikan, filsafat
bahasa, dan lain sebagainya.
Pembagian cabang-cabang filsafat di
atas tidak kaku. Seorang filsuf yang mengklaim bahwa pemikiran filsafatnya
berupa kajian ontologis sering kali pula membahas masalah-masalah eksistensi
manusia, kebudayaan, kondisi masyarakat, bahkan etika. Ini misalnya tampak dari
filsafat Heidegger. Dalam bukunya yang terkenal, Being and Time (1979),
dia menulis bahwa filsafatnya dimaksudkan untuk mencari dan memahami “ada”.
Akan tetapi dia mengakui bahwa “ada” hanya dapat ditemukan pada eksistensi
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, dalam bukunya itu dia
membahas mengenai keotentikan, kecemasan, dan pengalamn-pengalaman manusia
dalam kehidupan sehari-hari.
2.6 HUBUGAN
FILSAFAT BAHASA DENGAN BAHASA
f)
Bahasa merupakan objek matri
filsafat sehingga filsafat menganlisis
hakekat bahasa itu sebagai makna utama. Bahasa sebagai alat komunikasi utama
memiliki kencenderungan kesalahan pemaknaan
g)
Bahasa adalah aktifitasnya manusia yang pangkal pada pemikiran manusia
untukmenanamkan keadilan dalam hidupnya
h)
Dunia fakta dan realita yang menjadi objek filsafat secara simbolik
hanya terakui oleh bahasa
i)
Ungkapan pikiran dan hasil renungan filsafat hanya dapat di jelaskan dengan bahasa.
j)
Bahasa sebagai penghubung refleksi
filosofis
2. 7
JENIS BAHASA KOMUNIKASI
a)
filsafat dan bahasa
kesibukan filsafat
berdasarkan ahli mengatakan bahwa
bahsa seumur dengan filsafat karena
berfikir bebas merupkan realisasi dari pola kebenaran retorika yang berdasarkan pada keputusan logika yang
benar yang beroriasinya pada objek yang jelas.
Pandangan
ini bertawanan dengan apa yang di katakan oleh kaum stole yang mempertahan kan
bahasa sebagai yang alamiayah/kodrat
perbedaan pendapat ini oleh Fiat dan Aristoteles diberikan jalan pemecahan filsafat diangkat sebgai ilmu disipliners/disiplin
khusus.
b)pandangan beberapa filsafat bahasa
a.
Dalam Kratglus.Flaton mengkaji filosofis
dalam hubunganya anatara nama-nama
“dengan benda-benda”.Cratylus mengatakan
diantara keduanya berhubungan secara alami.sedangkan pendapat kaucaranya mengatakan hubungan antara nama-nama dan
benda merupakan kesepakatan.
Contoh
: nama kayu jati tidak ada hubungan alamiyah antara nama-nama benda yang lunduk pemberian berdasarkan pada jenis
benda yng dicermatkan berdasarkan situasinya.
b. Aristoteles menyatakan bahwa nama berhubungan
dengan logika dan pengetahuan (logika dan epistemologi) sebagai alat khusus
nama dalam suatu benda.
c. Hobbes menyatakan bahwa bahasa alat
penghitung dengan menggunakan kata-kata
senantiasa mengikuti pengalaman.
d. Tubui menyatakan bahwa bahasa merupakan
karakter universal yang dijabarkan.
e. Yon Humbool
mengatakan bahwa setiap bahasa mempunyai sfatail form/ bentuk bofin yag
mengandung sacara tersirat pandangan
dunia yang lekas.
f. Ferdinand D.sansute mengatakan bahwa bahasa
sebagai lambang karangan dan ungkapan (evase) kalimat-kalimat hasil aktifitas
bebas dan kreatifitas
g. Paul Tullen
memngatakan antara tanda dan lambang yang digunakan dalam bidang keagamaan
h. Ludding Wittqonstein dan farsel menyatakan bahwa harus ada hubungan keriminan
antara simpol dan fakta antara simbol yang disimbolkanya seperti hubungan antara wajah seseorang dengan bayangan dari cermin
BAB
XI
SIMBOL
DALAM BAHASA
11.1 Definisi
Simbol
Dalam kehidupan
kita sehari-hari, kita mengenal misalnya bendera merah putih sebagai lambang
negara kita. Demikian juga gambar-gambar yang terdapat dalam burung garuda
lambang negara kita: gambar bintang melambangkan sila pertama dari pancasila,
yakni ketuhanan yang maha esa. Gambar rantai melambangkan kemanisiaaan yang
adil dan beradab sebagai sila kedua. Gambar pohon beringin sebagai lambang sila
ketiga, yakni persatuan indonesia. Gambar kepala banteng melambangkan keila
kelima, rsebagai lambang sakyatan sebagai sila keempat. Kemudian gambar padi
dan kapas yakni keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.
Dari ontoh
tersebut, kita tahu bahwa lambang mempunyai arti yang lain sekali dengan apa
yang dilambangkan. Lambang adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain.
Antara benda yang dilambangkan dengan benda yang dilambangkannya itu sendiri
tiddak mempunyai apa-apa. Lambang-lambang tersebut menjadi berarti atau kita
ketahui karena adanya semacam perjanjian diantara kita. Dalam hubungannya
dengan gambar-gambar atau lambang-lambang diatas, hanya kita bangsa indonesia
saja yang mengetahui maknanya atau mengartikannya seperti itu. Di dalam
pergaulan masyarakat lain, barang kali gambar-gambar atau lambang-lambang
tersebut mempunyai makna yang lain pula.
Tapi yang jelas,
apa pun wujud lambang itu bagi pemakaiannya mempunyai makna dan tujuan
tertentu. Dengan lambang-lambang atau gambar-gambar tersebut diharapkan
pengertian yang ada di balik lambang itu menjadi lebih kongkrit, lebih nyata
dan mudah ditangkap oleh pancaindra. Perhatikanlah misalnya keberanian dan
kesucian yang dilambangkan dengan merah putih. Baik keberanian maupun kesucian
sangat abstrak. Kedua sifat tersebut merupakan keputusan pikiran setelah
menyaksikan sesuatu tindakan atau sifat sesuatu benda. Selanjutnya walaupun
merah dan putih juga merupakan sifat, tetapi wujudnya atau realitasnya dapat
kita tangkap dengan indra mata kita. Demikianlah, sebagai lambang merah putih
lebih mudah dah ditangkap pengertian-nya, karena ia hidup dalam khayal kita.
Begitu juga
halnya. Pemakaian lambang-lambang di dalam puisi.Pemakaiannya erat sekali
dengan tujuannya penyair untuk menjadikan puisi-puisinya lebih mudah ditangkap
oleh pembaca. Atau dengan kata lain erat sekali dengan pengimajian.
Untuk jelasnya,
marilah kita lihat contohnya berikut ini.
Bunglon
Untuk “pahlawan” ku
Meelayang gagah, meluncur rampis
Memang tenang, ’alam samadi,
Tiada sedar marabahaya ;
‘Alam semesta memberi senjata.
Selayang terbang kerumpun bambu,
Pindah meluncur kepadi masak,
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.
Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O. Tuhanku, biarkan daku hidup
sengsara,
Biar, lahirku diancam derita,
Tidak aku sudi serupa.
(GEMA TANAH AIR, SM.Ashar)
Kita semua tahu, bunglon ialah binatang yang dapat mngubah-ubah warna
diinya sesuai dengan lingkungan tempatnya berada. Di tempat yang berwarna
hijau,akan mengubah warnanya menjadi hijau; di tempat yang berwarna kelabu,
akan mengubah warnanya menjadi kelabu. Semua itu maksudnya adalah tidak lain
untuk mengelabuhi musuhnya atau agar tidak mudah dikenal. Atau dengan kata lain
agar selamat atau terhindar dari bahaya yang mengancamnya.
Sekarang, adalah bunglon pada puisi diatas dimaksudkan
sebagai binatang yang sering mengubah-ubah warnanya terse-but? Dengan membaca
kalimat dibawash judul puisi diatas, atau bait terakhirnya, kita dapat menduga
bahwa kata bunglon pada puisi tersebut pastilah bukan dalam arti yang
sebenarnya. Bung-lon pada puisi tersebut digunakan penyair untuk melambangkan
sesuatu; yaitu orang yang tidak mempunyai pendirian yang teetap atau pejuang
yang demi keselematan dirinya sering bertukar haluan menyesuaikan diri dengan
pihak yang menang atau yang sedang berkuasa. Alih-alih bunglon pada puisi
diatas digunakan penyair untuk melambangkan orang yang munafik atau plin-plan.
Terasa, pada kita sekarang, dengan
dilambangkannya orang yang munafik atau plin-plan tersebut dengan bunglon,
pengerti-annya menjadi lebih mudah kita tangkap; karena yang tergambar dalam
angan-angan kita sekarang adalah wujud binatang tersebut. Nyatalah bahwa
pelambangan mempunyai efek yang sangat kuat untuk menimbulkan bayangan-bayangan
yang mudah ditangkap oleh pancaindra. Pelambangan menjadikan sesuatu yang
semula abstrak menjadi kongkrit. Itulah sebabnya pelambangan seringkali
dimanfaatkan oleh para penyair untuk lebih meng-efektifkan puisi-puisinya.
Hanya yang perlu segera yang kita
ketahui, pelambangan tersebut sangat individual sifatnya, artinya tidak semua
lambang yang sa-ma mempunyai makna yang sama didalam berbagai puisi dan bagi
setiap penyair. Karena itu menghadapi lambang-lambang dalam puisi, kita
dituntut untuk mengembangkan imajinasi kita untuk menghubungkan hal-hal yang
diluar puisi tersebut. Dari sini nampaklah betapa banyak ilmu pengetahuan harus kita miliki untuk dapat menafsirkan
lambang-lambang dalam puisi. Betapa banyak bekal yang harus kita siapkan untuk
dapat menafsirkan lambang-lambang dalam puisi. Betapa banyak bekal yang harus
kita siapkan untuk dapat kita siapkan untuk dapat menafsirkan sebuah puisi.
II.2. keindahan, kontemplasi, dan
ekstasi dalam kehidupan manusia
1.
Pengertian kontemplasi
Kontemplasi menurut artinya adalah suatu proses bermeditasi, merenung
atau berfikir penuh dan menda-lam untukl mencari nilai-nilai, maka manfaat dan
tujuan atau niat suatu hasil penciptaan.dalam kehidupan sehari-hari, orang
mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin juga dengan ciptaan
tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya sendiri
atau diluar dirinya. Dikalangan umum kontemplasi diartikan sebagai
aktivitas melihat dengan mata dan/atau
dengan pikiran untuk mencari sesuatu di balik yang tampak atau tersurat.
Misalnya dalam eks-presi: ia sedang dalam berkontemplasi dengan bayang-bayang
atau dirinya dimuka cermin.
Pengertian kontemplasi tersebut sebenarnya bersumber pada berbagai
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, yang tampaknya bertentangan dengan adat
kebiasaan dan kebudayaan bangsa dalam hakikatnya selalu menghendaki perubahan.
Itulah sebanya manusia itu menurut pembawaannya selalu ber-kepentingan,
koncerned, dengan kontemplasi; sebagaimana menurut pembawaaannya juga, manusia
berkepentingan dengan segala macam kegiatan dalam hidupnya. Hal-hal demikian
berkaitan dengan segala macam kegiatan dalam hidupnya. Hal-hal demikian
berkaitan dengan tuntutan individu dan masyarakat yang dina-mis serta meningkat
dalam setting (latar) peradaban, civi-lization, ilmu pengetahuan dan teknologi
maju dunia.
Seorang filosuf bernama Jacques Mariatin yang telah banyak menulis
tentang seni kesusasteraan- dalam bukunya yang semakin menjadi langka “Art and Scholasticiam”, New york, 1949:
80- mengatakan bahwa seni ituu meemberi kesempatan kepada manusia untuk berpacu
dengan kontemplasi, yang menghasilkan suatu kegembiraan spiritual yang
melam-paui batas jenis kegembiraan kon-templatif ini dipandang pula sebagai akhir atau tujuan
semua aktivi-tas hidup manusia.
Untuk memperkuat pandangan tersebut diajukan isi atau
pertanyaan-pertanyaan problematis, retoris dan sugestif sebagai berikut:
a.
Untuk tujuan apakah pekerjaan
memburuh, layanan perdagangan kalau tidak untuk menyediakan dan mencukupi
keperluan hidup seharii-hari sehingga pantas berkontemplasi?
b.
Apakh kegunaan
kkebijakan-kebijakan moral dan kebijakan- kebijakan kepemimpinan jika tidak
untuk menenteramkan nafsu dan keda-maian
batin yang diperlukan untuk berkontemplasi?
c.
Untuk tujuan apakah keseluruhan
tata pemerintahan kehidupan bermasyarakat, govermentof
civil life, jika tidak untuk menjamin kesentosaan jasmani yang diperlukan
bagi kontemplasi?
II.3 Kontemplasi dan Cipta Seni
Persepsi dan pemahaman terhadap
hasil karya seni dan gejala-gejala alami serta kehidupan didunia ini, pada
tingkat ke-bermaknaannya yang tinggi, dapat dicapai melalui idealisme dan
pemikiran yang tajam dan mendalam bagi kesempurnaan hidup tata jasmani dan
rohani manusia. Gejala-gejala alami yakni alam dengan seluruh isi dan geraknya yang nampaknya
biasa-biasa saja itu sebenarnya menngandung implikasi kelanjutan, akibat-akibat
dan kegunaan yang penuh misteri bagi manusia, yang selagi hidup menjadi penentu
pemecahannya.
Dalam hal tersebut manusia sejak
zaman purba yang seba primitif sampai dengan pada zaman modern abad nuklir-sekarang tak akan
henti-hentinya melakukan berbagai kegiatan jasmani, rokha-ni, dan mental.
Manusia menciptakan berbagai macampeeralatan untuk m,emecahkan rahasia gejala
alami tersebut. Semuanya ini dilakukan dan hhanya bisa terjadi berdasarkan
resep atau pendahuluan yang dihasilkan oleh kontemplasi. Siklus kehidupan
manusia dalam dalam lingkup pandangan ini mennjukkan bahwa kont-templasi selain
sebagai tujuan juga sebagai cara atau jalan keserba kesempurnaan hidup
manusiawi.
Hasil karya seni semula dicipta dengan
menggunakan bahan-bahan atau sumber-sumber alam yang selek-tif, yang mengandung
ide, dan kritik atas peristiwa kehi-dupan
dari manusia seniman sebagai penciptanya. Karya seni yang agung
mempunyai sosok yang penuh misted, dan mengandung bernagai pengungkapan
tingkatan makna serta nilai-nilai. Hasil karya seni bukan sekedar sebagai
gambar berdimensi du sebagai hasil jepretan alat fotografi. Hasil karya manusia
dibidang seni mungkin telah berubah dari bentuk objeknya yang semula, yang
mungkin hanya dapat dipahami secara kontempleif justru karena adanya proses
penyeleksian, gagasan serta intensi atau niat tertentu dari seniman
penciptanya.
Untuk lebih memahaminya, sebagai
contoh kita dapat membandingkanantara “potret sungai” secara amatir, tanpa
seleksi dan kritik, dengan “lukisan sungai” yang ekspresif dan impre-sif dan
penuh saran serta kesan akan makna dan nilai; atau suatu “laporan kejadian”
tentang peristiwa rtertentu yang dinyatakan dalam “fiksi” atau “puisi”, yang
maksudnya mengun-dang kesan dan penafsiran. Semua ini dimungkinkan oleh ad-nya
ide, gagasan, kritik dan cara seniman menanggapi khalayak p[embaca atau
penghayat-nya. Dengan kata lain hasil karya seni tercipta, terkandung dan
lahir, karena kontempla-si disebakan karena dalamnya atau keseluruhannya lebih
banyak bersifat simbolis.
II.4 Simbol Dan Kontemplasi
Didalam cipta seni simbol biasanya
menambahkan unsur kesulitan yang halus dan sukar dibedakan sebagai abstraksi.
Sebagai suatu kecerdikan berkomunikasi, simbol digunakan ma-nusia (seniman) untuk
menghibahkan overton atau makna implikasi yang tersirat. Misalnya dalam
kehidupan sehai-hari peristiwa berjabatan tangan adalah suatu perbuatan jasmani
yang sederhana. Namun overtone maknanya adalah suatu ide yang universal dan
abstraak tentang persahabatan. Didalam cipta cini sang seni-man memilih medium
simbol tidak hanya mengekspresikan hal yang aktual atau fakta lahiriah tetapi
juga suatu yang batiniah, suatu makna yang tersenden. Contohnya sebagai
berikut:
Dalam sebagian pengalaman hidup
ini, kita mengenal rumput ilalang dengan kebiasaan di padang-padang yang tak
dijamah ta-ngan manusia. Dedaunya yang hijau sekedar hijau dan hewan mememah
biakpun tidak suka merenggut memakannya. Akar-akarnya yang menyerabut,
jalin-berjalin merayapi permukaan tanah dan selalu menumbuhkan tunas-tunasnya
yang bagus. Ilalang adalah jenis tumbuhan rumput yang ganas dan ekspansif
sebagai massa nabati yang laten. Secara lahiria hidupnya tak membawa manfaat
bagi makhluk hewani maupun insan lain bagi dirinya sendiri untuk tumbuh bebas
berumpun-rumpun menutupi permu-kaan tanah yang mu gkin subur bagi tanaman pertanian. Bagi orang awam dan tiada
bersangkutan, ilalang adalah penomen haya-ti alam yang biasa.
Fenomena alam yang biasa ini dalam
dunia seni misalnya ke-susastraan oleh seorang penyair dapat diambil sebagai
materi (pusi) secara terseleksi dari materi-materi alam lainya. Dalam sejak
“RUMPUN ALANG-ALANG” penyair tak sekedar memotretnya kemudian mendeskripsikan
sebagaimana dalam ilmu tumbuhan-tumbuhan (botani), akan tetapi dimasukinya ide
dan gagasan, dan secara analogis dalam hukum asosiasi pikiran (mental associa-tion) digunakan untuk
mengimajinasikan peristiwa kehidupan batin tertentu dalam kesadaran
kontemplatifnya. Baiklah kita perhatikan sejena sejak RUMPUN ALANG-ALANG
ciptaan. W.S.Rendra berikut ini.
RUMPUN
ALANG-ALANG
Engkaulah
perempuan kasih,
Yang sejenak
kulupaka,sayang.
Karna dalam sepi
yang jahat
Tumbu
alang-alang di hatiku yang malang
Dihatiku
alang-alang menancapkan
Akar-akarnya
yang gatal.
Serumpun alang-alang
gelap, lembut dan nakal.
Gelap dan
bergoyang ia
Dan ia pun
berbunga dosa.
Engkau tetap
yang punya
Tetapi
alang-alang tumbu didada.
Demikianlah
rumput ilalang melalui renungan dan
aktivitas serta metode dan tehnik kepujanggaan telah menjadi sebuah sanjak yang
secara pribadi cukup berarti dan dapat membangkitkan kesan tertentu. Dan
maknanya bagi pembaca sangat bergantung pada kepekaan dan kemampuan berfikir
mendalam, bila ia memiliki apa yang disebut imaginative
entry( D.L.Burton,1964 144). Konsep ini adalah suatu bekal bagi masukan
untuk berkha-yal dengan menghubungkan pengalaman pribadi yang relepan dan telah
lampau dengan pengalama bau yang diperolehnya sebagai pengalama perwakilan (cariuas exprimence), yang diperolehnya
dari membaca sajak tersebut. Hal demikian termasuk proses ber-kontemplasi dalam
sistim asosiasi pengalaman secara imajinatif.
Dalam sistim
imajinasi visual, rumput ilalang dalam sajak tersebut telah berdimensi lengkap.
Dan bagi pembaca sastra, yang matang, maknanya telah berdimensi ganda. Ia bukan
sekedar rumput ilalang yang berumpun-rumpun sebagai makna langsungnya,
melainkan berjalinan secara simbolis dengan lelaki dan perempuan dalam tautan
hati, kasi sayang, dan pengakuan dosa yang sadar dalam latar kesenian dan
konflik batin. Maka disinilah orang me-nyimpulkan bahwa karya seni itu-dalam
hal ini diambil puisi sebagai contoh-dimaksudkan untuk dirasakan keindahannya
yang inherent secara kontemplatif. Proses kontemplasi ini dapat di tapsirkan
secara teoritis telah terjadi pada saat penciptaan, mau-pun secara mpiris dalam
penghayatan pembacaan setelah sanjak tersebut lahir dan jadi.
Sistem
kontemplasi berlaku tidak hannya terbatas pada karya sastra tetapi juga pada
karya-karya seni lainnya. Pergilah ke candi brobudur. Di sana kita dapat
menyaksikan betapa aktivitas kontemplatif nenek moyang kita lebi mewujudkan
fenomen historis, ratusan tahun yang silam (kurang lebih tahun 850 Masehi)
telah menghasilkan bangunan agung dan area-area filosofis serta relief-relief
ajaran kehidupan yang termasyhur di seluruh dunia yang beradap. Bangunan
brobudur yang anggun itu sesugguhnya yang memaduhkan seni sastra, seni lukis,
seni pahat, dan seni ba-ngunan.
Dalam lukisannya
yang berjudul “Tetap hidup dengan apel dan jeruk”, yang dihasilkan pada tahun
1890 Masehi, paul Cazanne berkata bahwa lukisan tak hanya merupakan kopi asli
tiruan cetak dari objeknya, melainkan ia menangkap dengan cetakan harmonisan
antara berbagai macam pertalian, antara alam dengan alam beserta kehidupan
lahir batin manusia. (S.Gerald Barry,1965:313)
II.5
Macam Pandangan Keindahan Dalam Karya Seni
Apabila kontemplasi lebih banyak di
pandang sebagai tujuan, maka kehidupan dalam karya seni merupakan sesuatu
keharusan. Dengan katalain. Kehidupan melekat dan berpadu, atau bersifat
inherent dalam karya seni. Dalam hubungan ini telah banyak pan-dengan dalam
upaya memahamkan sifat keindahan yang inheren dalam karya seni itu. Dalam upaya
tersebut, pemikiran pada umumnya bermula dengan pertanyaan yang membuka
persoalan secara beruntun sebagai:
1.
Apakah keindahan itu?
2.
Apakah keindahan terletak dalam
subjek yang dipilih dalam seniman, misalnya: seorang wanita cantik, matahari
dikala mula terbit atau menjelang terbenam, atau setangkai bunga tanaman hias
yang segar dan harum?
3.
Ataukah keindahan itu terletak
dimana-mana; dibatu-batu, sungai-sungai, hutan-hutan, dan gunung, bah-kan
dipelimbahan sekalipun? Bahkan dalam hati dan pi-kiran manusia?
Dalam hubungn ini salah seorang
filosof yunani kuno, plato-yang hidup kira-kira 427-347 sebelum isaalmasih-berkeyakinan
bahwa keindahan itu ada didalam pernyataan gagas-an dari pikiran yang murni,
tak mungkin diharapkan ad atau muncul sepenuhnya dimuka bumi atau alam semesta
ini. Menurut plato, keindahan itu mungkin saja berkilas paling jelas didalam
kebenaran-kebenaran yang ditemukan melaui logika. Dengan demikian melalui ilmu
yang penalarannya tersusun dengan amat baiknya.
Bagi plato, pengalaman keindahan
tidak pernah bergantung pada senag atau tudak senagnya seseorang ataau
pribadi-pribadi p[ada subjek artistik, melainkan terlaetak pada pemahaman
intelektual terhadap subjek artistik itu. Kemudian beberapa pemikiran kristiani
seperti St. Agustine (354-430) dan St. Thomas acuinas (1225-1274) berkeyakinan
seperti plato bahwa kebenaran intelektual dan keindahan itu adalah sinoni-mus
atau bersinonim.
Menurut paham ini pengertian yang
terhadap kebenaran sejati akan membuahkan persepsi keindahan. Perkembangan
selan-jutnya kebenaran yang dimaksudkan dalam cipta budaya dan seni adalah
kebenaran sebagai yang diwahyukan atau diwujudkan oleh tuhan dalam ciptaannya.
Upya para seniman untuk mengeks-presikan keindahan dalam cipta seni, menurut
keyakinan mereka past-ilah akan menghasilkan bentuk-bentuk idealisasi manusia
tentang keindahan.
Dalam hubungan tersebut seorang
penyair jswet, bernama Gerard menlay obkins, yang besar pengaruhnya terhadap
seni sastra modern dibarat dan di amerika serikat, terutama sangat sensitif
terhadap yang dihusus. Keindahan disini terutama sebagai aflikasi dari dua
bush. Kata konseptual dan theo shofis yang sangat digemari ialah (insteress) dan “inskp”. Bagi hopkins intress adadalh
pengaru yang nyata dari tangan tuhan terhadap cipta kreatifnya. Sedangkan inskp
baginya p-emahaman kekuatan melihat segala sesuatuu dengan hati danpikiran
sebagai suatu puncak realitas dalam melihat pola, irama dan melodi benda-benda
ciptaan berdasarkan kebenaran tuhan (W.j.grase,loc.cit : 14).
Berdasarkan pandangan hopkins
tersebut, para ahli dan kri-tikus kesenian kemudian menyatakan bahwa semakin
tajam pemahaman seseorang terhadap kekhususan yang kongkrit dari benda-benda
hasil karya seni, sekain tajam pula persepsi sese-orang terhadap keindahan yang
transendental dan unipersal-yakni keindahan persepsional yang berada diluar
batas pengetahuan praktis, yang ahnya bisa dicapai dengan intuisi. Intuiisi
adalah suatu proses kejiwaan/kerohanian yang sulit di-nalarkan tetapi terasa
bagi jiwa dan perasaan yang halus akan manfaatnya yang abadi dan menyehatkan.
Dengan pandangan hopkins tersebut
agaknya kita dapat membagi tugas bahwa persepsi keindahan pada tahap tertentu
da-pat dibedakan antara seniman pencipta dalam proses penciptaan dan persepsi
penghayatan hasil karya. Bagi seniman yang sedang mecipta persepsi keindahn
termasuk dalam konsep instres, sedangkan bagi penghayat hayat hasil karya seni
persepsi keindahan bergolong dalam konsep inskp..
Disamping pandangan keindahan
berdasarkan ide atau gagasan tersebut, terdapat pandangan lain yang membiarkan
emosi mempengaruhi ide atau gagasan keindahan. Gagasan bahwa suatu hasil karya
seni menjadi indah jika ia menyajikan emosi yang pe-nuh nafsu akan menghasilkan
karya seni yang memungkinkan khalayak penikmat atau penghayatannya mendapatkan
berbagai perasaan-perasaan demikian tanpa harus menanggung bahaya yang
diakibatkannya. Karya seni dengan dasar filsafat demikian, semua-nya berangkatt
atau bermula dengan lebih mengutmakan terjadinya kegumparan perasaan masyarakat
atau orang –orang daripada menghimbau atau berpikir rasional.
Puisi-puisi ciptaan Lord Byyron
(1988-1824) diingris dan musik-musik susunan wagner dan lukisan “monalisa”
merupakan contoh-contoh karya seni beraliran romantika yang mengutamakan
pengorbanan perasaan dari pada penalaran.
Diindonesia karya sastra yang
bergaya demikian dihasilkan oleh pada umumnya pengarang-pengarang balai pustaka
(920-930) dan pujangga baru (1933-1943). Buku-buku jenis prosa, roman ataupun
puisi-puisi pada masa tersebut lebih banyak mengerakkan perasaan baru
dibandingkan puisi-puisi dan prosa-prosa indonesia modern yang lebih banyak
membuat pem-bacanya bereaksi keras. Keindahan cipta seni sastra zaman itu-kurun
dua puluh dan tiga puluh- adalah keindahan romantik yang semata-mata berdampak
emosional. Awan, mega, angin dan marga stwa dihimbau penyair dalam bahasa yang
sendu untuk menyertai rasa duka nestapanya.
Di bidang roman
atau novel kita dapat membandingkan fenomen keindahan pada roman DI BAWAH
LINDUNGAN KA'BAH ka r;r ngan Hamka dengan novel KERING ciptaan Iwan
Simatupanl;.
Begitulah dalam
prows penciptaan karya seni, kritik dan apresiasinya, terdapat dua faham yang
saling bertentangan dann ber-oposisi. Sahr faham menghendaki bentuk-bentuk
ideal yang me-ngutama kan bekerjanya kebenaran rasional dalam otak, dan faham
lainnv;r menghendaki ekspresi emosi pribadi yang kuat menu-rut dclnrran jantung
dan resapan hati.
Baik
krrenderungan pada faham yang pertama ataupun ke-cenderun};.ui. pada faham yang
kedua, keindahan tidak perlu di Pandang harus terletak pada subyek atau objek
penciptaan artis-tik. Da })a t d ibuktikan bahwa banyak seniman-seniman bcsa r
yang memolret subjek-objek ciptaan yang pada penglihatan sekilas se-luruhnya
tampak tidak mengandung keindahan. Misalnya masalah--masalah kekerasan,
pembunuhan, kekejaman, kekejian dan kr'me-suman. Keindahan cipta seni dari
subjek-ohlck aspek kehiduyan manusia seperti itu terletak pada ketrampil,1n dan
kesesuaian ben-tuk-bentuk yang diberikan sang seninran pada bahan-hahan dan
medium garapannya.
Sementara itu
gagasan umum tentang apa sebena n iya indah ihr seringkali bergantung pada
seberapa jauh rakyat mengenal atau banyak tentang konvensi-konvensi tertentu di
bidang artistik. Acapkali apa yang disebut indah dalam stn tidak lain hanyalah
suatu jenis unsur dalam seni yang pada, umumnya paling dikenal rakyat.
Gambar-gambar mempersr,na dari model btisana merupakan rakyat. Gambar-gambar
mcnrpersona model busana merupakan contoh yang tepat. Akan tetapi jika kilo
rnenganalisanya, akan tampaklah mode-mwde tersebut tak hrrhubungan secara dekat
de-ngan bentuk-beniuk tubuh yang aktual yang telah diisi gagasan le-bih mulia,
hchih luhur, dan nu'n,rkjubkan (baca: sublim). Gambar--gambar mode itu hanya
mwnrpunyai sebuah tujuan yakni sebagai simlurl gagasan manusia secara temporer
tentang keindahan. iika simbol-simbol ilu kehilangan kebaharuannya, maka
gamb,u-gam-bar tersebtit tak lagi memiliki nilai budaya apapun. Maka semuanya
menjadi barang yang tak berdimensi waktu,
semuanya menja-di lapuk dan lusuh tanpa kenangan. Karyakarya seperti
itu ada hubungannya dengan kebutuhan kontemplatis secara langsung.
II.6 Hubungan
Keindahan dan Kontemplasi
Pada uraian sebelum ini
telah dinyatakan bahwa seni dicipta-kan dan dihadirkan untuk kebutuhan manusia
akan kontemplasi. Di samping itu seni menurut wataknya akan berpadu dengan
kein-dahan. Karena itu menurut logika deduktif dapat dikatakan bah-wa keindahan
dalam seni juga harus dikontemplasikan. Kesimpulan ini mengandung dua saran
kemungkinan penafsiran, pertama bahwa untuk dapat menciptakan keindahan dalam
hasil karya seni terlebih dahulu ditempuh prows kontemplasi; dan kedua
keindahan yang berpadu dalam hasil cipta seni harus dikontemplasikan untuk
menemukan rahasia dan nilai-nilai di balik keindahan formalnya.
Dalam pada itu para
filsuf dunia menekankan adanya perta-lian antara kepandaian manusia
berkontemplasi dengan kemampu-an untuk melihat keindahan dalam karya seni:
(1N.J. Grace, 1965:14). Dalam faham fanatisme seni dengan semboyan 'I art pour
I' art' atau ide 'art for art's sake', yang sangat populer di Barat pada abad
ke 19, selalu dikumandangkan bahwa keindahan dalam karya seni merupakan yang
harus dikontemplasikan untuk kepen-tingan keindahan itu sendiri, dan bukan
untuk tujuan yang lain. Dikatakan pula bahwa keindahan seringkali diartikan
sangat sem-pit, jika hanya dimaksudkan untuk kegunaannya. (Misalnya kein-dahan
dekoratif atau ornamental yang diupayakan untuk menarik sclera pembeli. Atau
perhiasan wajah dan tubuh untuk membangjkitkan nafsu birahi). Pandangan ini
sebenarnya berasal dari kaum hu-manis abad renaissance di Eropah (abad 14
sampai 16) yang gemar menautkan karya seni dengan nilai-nilai universal yang
harus per-maven. f'andangan ekstrem yang lain dikemukaan oleh Walter Peter pada
tahun 1928 dalarn bukunya The Renaissance Studies in Art and I'ortry,1928: 252,
bahwa "seni datang kepada kita dengan nu'nganjurkan kepada kita untrrk
menerima suatu kualitas trrtin};};i yang diberikannya pada waktu-waktu yang
dilaluinya “(W.J…Grace, 1965 42). Sementara pandangan lainnya yang sejajar
menghendaki agar seni diupayakan bisa sebagai substitusi bagi kebenaran
religious. Dengan kata lain kebenaran agama harus menjadi insprasi penciptaan
seni.
Sementara itu pula
ahli-ahli kemasyarakatan banyak mengharapkan agar seni di samping
mengekspresikan keindahan dan kebenaran – kebenaran pengalaman juga harus
menjadi medium untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang bermakna bagi
masyarakat. Di samping itu pribadi – pribadi harus mendapatkan catharsis sebagai yang dikhotbahkan oleh
Aristoteles dalam bukunya The Poetics. Istilah ini diambil dari dunia
obat-obatan yang berarti penjernih atau pencahar/pencuci. Secara anlogis
istilah catharsis dari aristotelesi itu dalam penerapannya di bidang seni
berari penjernihan atau penyucian emosi melalui pembahasan atau pelepasannya
dalam pengalaman estetis. Istilah ini dengan thesis atau pikiran pokok Freud
tentang sublimasi yaitu suatu asumsi bahwa dorongan – dorongan dasar dan
naluriah (instingtual) harus dibebaskan dan ditrans formasikan
(berangsur-angsur diubah) melalui seni sedemikian rupa sehingga menjadi
bersifat konstruktif bagi masyarakat. Konsep catharsis ini kemudian menjadi
poros dalam setiap diskusi tentang nilai moral cipta seni.
Dalam hal tersebut di
atas dapat dikatakan bahwa pernyataan – pernyataan di atas sebenarnya merupakan
modal keyakinan yang sangat wajar dan perlu bagi para seniman dan budayawan
dalam emngupayakan terciptanya keindahan – keindahan baru dan berkepribadian.
Hal ini tak dapat dilepaskan dari aktivitas peningkatan – peningkatan selera
yang sangat diperlukan bagi uma manusia dalam mencapai martabat kemanusiaannya
yang luhur dan universal berdasarkan lingkungan tertentu, sebagai makhluk
berbudaya yang menyadari kodratnya dalam hubungannya dengan sesamanya dan
dengan khaliknya.
Demikianlah sebagaimana
makna yang diperlukan bagi kesehatan tubuh, keindahan yang hakiki diperlukan
bagi kesehatan jiwa manusia, pribadi – pribadi dan masyarakat.
II.7 keindahan
Transendental, Intuitif Dan Ekstase
Bagi orang – orang yang tempatnya di luar aktivitas atau
bidang penciptaan benda – benda budaya dan seni, keindahan ciptaan seharusnya
menjadi sumber pencarian nilai – nilai transcendental dan universal. Dalam pada
itu juga tak kalah pentingnya memahamkan aspek – aspek yang kongkrit dan unu
dari fenomena keindahan budaya dan seni.
Dapat diasumsikan bahwa nilai transcendental fenomena budaya
dan seni terentu misalnya keris, area, pahatan, lukisan, puisi hiasannya berada
jauh dari jangkauan persepsi orang awam, yang berselera praktis dalam hidup
keseharian. Sebabnya ialah bahwa secara teoritis nilai transcendental itu
keadaannya tidak didasarkan pengalaman ataupun penalaran. Nilai transedental
merupakan sesuatu yang bergerak di luar rentangan pengalaman manusia yang
actual sehari – hari, dan juga tidak berdasar pada penalaran dan kekuatan
mendeskripsi. Nilai transcendental tidak dapat ditemukan atau dipahamkan dengan
pengalaman praktis, melainkan diketahi dengan intuisi.
Nilai – nilai dengan penghayatan intuitif atau transcendental
itu memang mempunyai kesulitan – kesulitan filosofis bagi pemahamannya, akan
tetapi melalui ilmu atau pengetahuan budaya dasar dapat diupayakan jalan
memasuki persoalannya. Demikianlah keindaha intuitif dengan nilai
transcendental tasinya yang umum sebagai suatu karakteristik sosok benda –
benda hasil karya cipta. Misalnya karakteristik wacana puisi tertentu,
karakteristik sosok keris tertentu, guratan – guratan seni pahat dan lukis pad
arelief – relief candi dan arca ataupun seni batik bangsa Indonesia.
Wujud atau sosok benda-benda budaya dan seni yang bernilai
intuitif itu adlaah pernyataan – pernyataan manusia yang secara komperatif
sangat merangsang dan memikat jiwa yang bersih, karena ia dibangkitkan dari
penglihatan pujangga agung, empu-empu, atau seniman-seniman besar, manusia
terpilih (jalma kinacek bahasa jawa) terhadap suatu gejala alam, dengan cara
yang langsung, lurus, terpusat tanpa gangguan dan dengan cara entuiasme.
Intuisi merupakan suatu kekhususan luar biasa dalam merasakan dan memandang
atau menyikapi sesuatu dengan penuh kecintaan, kebaktian, kepercayaan, dan
penyerahan diri serta kebahagiaan jiwa.
Pujangga – pujangga agung itu dan bangsa Indonesia mempunyai:
empu Gandring, empu Baradah, empu Sadah
dan Panuluh, Sutasonma, Gajahmada, Wali Songo, sejumlah Ki Ageng, St. Syahrir,
Bung Karno, Amir Hamzah, Chairil Anwar – biasa lebih menyatakan dengan
keyakinan pribadi secara tak tergoyahkan (self confidence) dari pada semata –
mata berargumentasi tentang topic ciptaannya. Demikianlah penghayatan keindahan
secara intutitf merpakan suatu kemampuan untuk melihat dan meneliti kebenaran
secara langsung tanpa perlu menempuh jalan bekerjanya otak secara teliti, dan
kemudian diwujudkannya dalam bentuk – bentuk pernyataan ciptaan secara organis.
Ia dapat dicapai oleh manusia arif melalui jalan yang panjang dan tekun.
Bentuk keindahan intuitif terjadi dalam proses penciptaan
yang mungkin dalam gejalannya yang sangat ekstrem berupa ekstase (ecstasy),
yaitu suatu perasaan kebaagiaan spiritual yang membumbung tinggi. Ia berwatak
seperti janin yang organis dalam rahim yang pada saatnya menjadi sosok yang
bentuk dan wajahnya tiada kesamaannya. Di sinilah individuasi dan keunikan
cipta budaya dan seni memperoleh maknanya dalam bentukan yang organic. Ia
berbeda dengan bentuk yang berwatak dengan pola mekanistik di mana materi dapat
dituangkan untuk menghasilkan bentuk cetakan yang telah ditentukan lebih
dahulu. Bentuk mekanistik adalah bentuk yang berpola tetap dan dapat diproduksi
sangat banyak, berulang-ulang dan sama sesuai cetakannya, seperti misalnya
produksi barang – barang parik yang bisa dipesan dan dirancang sebelumnya.
Bentuk mekanistik adalah suatu bentuk yang sudah diketahui dan ditentukan
kegunaan atau tugasnya lebih dahulu, sehingga orang awampun dapat dengan cepat
mengenal sifat – sifat dan cara memakainya dengan melihat buku pintarnya.
Sedangkan basil karya yang menghibahkan keindahan dalam bentuknya yang organic
dengan sendirinya memiliki derajat lebih tinggi dibanding semata – mata
keindahan lahiriah (surface beauty). Perubahan, ini diperlukan oleh siapa saja
yang ingin meningkatkan martabat kemanusiaannya.
Comments
Post a Comment